Sejarah Kerajaan Majapahit, Daftar Raja, Kejayaan, Peninggalan, dan Warisan yang Memengaruhi Nusantara

Rabu, 15 Januari 2025 - 09:06 WIB
loading...
Sejarah Kerajaan Majapahit,...
Kerajaan Majapahit, yang juga dikenal dengan nama Wilwatikta, merupakan sebuah kemaharajaan talasokrasi Hindu-Buddha yang terletak di pulau Jawa, Indonesia. Foto/Ilustrasi/Ist
A A A
KERAJAAN Majapahit, yang juga dikenal dengan nama Wilwatikta, merupakan sebuah kemaharajaan talasokrasi Hindu-Buddha yang terletak di pulau Jawa, Indonesia. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya setelah melakukan ekspansi militer besar-besaran, yang menjadikannya salah satu kerajaan terbesar dan terkuat di Asia Tenggara.

Sejarah Kerajaan Majapahit, Daftar Raja, Kejayaan, Peninggalan, dan Warisan yang Memengaruhi Nusantara


Sejarah kerajaan Majapahit tidak hanya berperan penting dalam perkembangan budaya dan politik Indonesia, tetapi juga memberi pengaruh besar di kawasan Asia dan Oseania.

Baca juga: Strisanggrahana Hukuman Pelaku Kejahatan Seksual Zaman Majapahit

Seperti yang tercatat dalam buku Historical Atlas of Indonesia karya Robert Cribb (2013), wilayah kekuasaan Majapahit mencakup hampir seluruh kepulauan Nusantara, dengan pengaruh yang menjangkau wilayah Asia Tenggara dan bahkan Oseania.

Majapahit didirikan pada tahun 1292 oleh Raden Wijaya setelah berhasil mengalahkan invasi Mongol yang menyerang Jawa. Keberhasilan Raden Wijaya dalam mendirikan kerajaan ini membuka jalan bagi kebangkitan kekuasaan Majapahit yang kemudian mencapai puncaknya pada abad ke-14 di bawah pemerintahan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi dan putranya Hayam Wuruk.

Di bawah kepemimpinan mereka, Majapahit melakukan ekspansi besar-besaran yang menghubungkan wilayah-wilayah yang luas, baik di dalam Nusantara maupun di luar wilayah Indonesia. Majapahit berhasil menaklukkan negara-negara di Asia Tenggara, termasuk bagian dari Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand selatan, Timor Leste, dan Filipina barat daya.

Keberhasilan Majapahit tidak lepas dari peran Gajah Mada, Perdana Menteri yang sangat berpengaruh pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.

Baca juga: Keajaiban Kayangan Api, Tempat Semedi Pembuat Keris Majapahit

Dalam catatan sejarah, Nagarakertagama yang ditulis pada tahun 1365 mengungkapkan bahwa Majapahit menguasai 98 wilayah yang tersebar dari Sumatra hingga Papua, termasuk beberapa wilayah yang kini menjadi bagian dari negara-negara tetangga Indonesia. Hal ini menunjukkan besarnya pengaruh yang dimiliki oleh Majapahit di kawasan ini.

Namun, kejayaan Majapahit tidak berlangsung lama. Setelah mengalami perang saudara yang melemahkan kontrol kerajaan atas negara-negara bawahan, Majapahit mulai mengalami kemunduran. Pada tahun 1527, Majapahit akhirnya runtuh akibat invasi Kesultanan Demak, yang menandai berakhirnya kekuasaan kerajaan Hindu-Buddha di Jawa dan memunculkan kerajaan-kerajaan Islam yang mulai berkuasa di wilayah tersebut.

Kejatuhan Majapahit menjadi salah satu titik penting dalam sejarah Indonesia, karena menandai peralihan dari dominasi kerajaan Hindu-Buddha ke dominasi kerajaan Islam yang muncul di Jawa. Sebagai contoh, Kesultanan Demak yang menggulingkan Majapahit memulai era baru bagi perkembangan kerajaan Islam di Indonesia.

Majapahit sering dianggap sebagai preseden bagi batas wilayah Indonesia modern. Dalam buku "A History of Modern Indonesia since c. 1300" (edisi ke-2, 1993) oleh Merle Calvin Ricklefs, pengaruh Majapahit dalam sejarah Indonesia dianggap sangat signifikan. Meskipun banyak sejarawan yang masih memperdebatkan cakupan wilayah kekuasaan dan pengaruhnya.

Sebagai salah satu kerajaan terbesar dan terkuat dalam sejarah Indonesia dan Asia Tenggara, Majapahit tetap menjadi subjek penelitian yang menarik bagi para ahli sejarah, arkeolog, dan antropolog hingga saat ini.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit


Kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di Indonesia, berdiri setelah peristiwa penting yang melibatkan pertempuran, aliansi, dan politik yang mempengaruhi jalannya sejarah di Jawa. Sebelum Majapahit berdiri, Singhasari telah menjadi kerajaan yang sangat kuat di pulau Jawa. Hal ini menarik perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan dari Tiongkok.

Pada tahun 1293, Kubilai Khan mengirimkan utusan bernama Meng Chi untuk menuntut upeti dari Singhasari. Namun, Kertanagara, raja terakhir Singhasari, menolak permintaan tersebut dan mempermalukan utusan Mongol dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya. Tindakannya ini memicu kemarahan Kubilai Khan, yang kemudian mengirimkan ekspedisi besar ke Jawa, sebagai pembalasan atas penghinaan tersebut. Hal itu dikutip dari buku Kehancuran dan Kebangkitan Martabat/ Jati Diri Etnis Tionghoa Di Indonesia, 2006 karya Benny Setiono.

Pada masa itu, Jayakatwang, adipati Kediri, telah menggulingkan Kertanagara dan membunuhnya. Setelah peristiwa ini, Jayakatwang memberi pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanagara, yang datang menyerahkan diri. Atas saran Aria Wiraraja, seorang penasihat kerajaan, Jayakatwang menerima Raden Wijaya dan memberinya kekuasaan atas hutan Tarik, sebuah daerah yang terletak di sekitar pelabuhan Canggu.

Di sinilah Raden Wijaya mendirikan sebuah desa yang kemudian dinamai Majapahit, sebuah nama yang diambil dari buah maja yang memiliki rasa pahit, menggambarkan karakteristik yang keras dari kerajaan tersebut .

Saat pasukan Mongol tiba untuk menaklukkan Jawa, Raden Wijaya memanfaatkan kesempatan ini dengan bersekutu dengan mereka untuk menggulingkan Jayakatwang. Namun, setelah kemenangan diraih, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Mongol, memaksa mereka untuk mundur dengan terburu-buru karena terjebak di tanah asing tanpa pasokan yang cukup dan harus mengejar angin muson untuk kembali ke Tiongkok. Peristiwa ini menjadi titik balik yang menentukan dalam pembentukan Kerajaan Majapahit.

Tanggal resmi berdirinya Majapahit adalah pada 10 November 1293, yang bertepatan dengan hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Meskipun begitu, kerajaan yang baru berdiri ini menghadapi berbagai tantangan internal. Beberapa pejabat tinggi kerajaan, termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak melawan Kertarajasa.

Namun, pemberontakan ini berhasil dipadamkan dan para pemberontak dihukum (Pararaton, 1981). Beberapa sejarawan, seperti Slamet Muljana, berpendapat bahwa Mahapatih Halayudha terlibat dalam konspirasi untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap pesaingnya, termasuk dengan merencanakan pemberontakan tersebut.

Setelah pemberontakan berhasil dipadamkan dan pemberontak terakhir, Kuti dihukum mati, Halayudha pun dipenjara dan dihukum mati sebagai pelaku konspirasi.

Setelah kematian Kertarajasa pada tahun 1309, kerajaan Majapahit dipimpin oleh putranya, Jayanegara. Sayangnya, pemerintahan Jayanegara tidak berjalan mulus. Ia dikenal sebagai "Kala Gemet," yang berarti "penjahat lemah." Selama masa pemerintahannya, seorang pendeta Italia, Odorico da Pordenone, pernah mengunjungi Majapahit dan mencatat beberapa hal mengenai kebudayaan dan kemegahan keraton tersebut (Pararaton, 1981).

Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya sendiri, Tanca. Ibu tirinya, Gayatri Rajapatni, yang seharusnya menggantikan Jayanegara memilih untuk mundur dari dunia politik dan menjadi seorang bhiksuni. Rajapatni kemudian menunjuk putrinya, Tribhuwana Wijayatunggadewi, untuk menjadi ratu Majapahit.

Di bawah pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi, yang dimulai pada tahun 1336, Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Pada saat itu, Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih, dan ia mengucapkan Sumpah Palapa yang terkenal, yang menandakan niatnya untuk memperluas wilayah Majapahit hingga mencakup seluruh nusantara. Sumpah ini menjadi simbol ambisi Majapahit untuk menciptakan sebuah kemaharajaan yang luas dan berkuasa.

Majapahit tumbuh menjadi kerajaan yang sangat kuat di bawah kepemimpinan Tribhuwana, dan pada masa pemerintahan anaknya, Hayam Wuruk, kerajaan ini mencapai puncak kejayaan, menguasai sebagian besar wilayah Nusantara, termasuk Sumatera, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Hayam Wuruk memerintah dari tahun 1350 hingga 1389, dan pada masa pemerintahannya, Majapahit menjadi kekuatan besar di Asia Tenggara.

Dengan kemajuan ekonomi, kebudayaan, dan kekuasaan yang luas, Majapahit menjadi salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia dan Asia Tenggara. Meskipun akhirnya kerajaan ini runtuh pada abad ke-15, warisan dan pengaruh Majapahit masih terasa hingga saat ini, dan sejarahnya tetap menjadi bagian penting dari identitas bangsa Indonesia.

Puncak Kejayaan Kerajaan Majapahit


Kerajaan Majapahit, yang dikenal sebagai salah satu kerajaan besar dalam sejarah Nusantara, mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Namun, sebelum mencapai kejayaan tersebut, Majapahit memiliki sejarah yang menarik dan penuh peristiwa penting, yang dimulai dengan pendiriannya oleh Raden Wijaya pada tahun 1293.

Setelah ibundanya, Rajapatni (Gayatri), wafat pada tahun 1350, tahta Majapahit diserahkan kepada putranya, Hayam Wuruk. Pada saat itu, Hayam Wuruk yang baru berusia 16 tahun, mulai memimpin kerajaan dengan gelar Sri Rajasanegara.

Masa pemerintahannya menandai periode keemasan bagi Majapahit. Di samping Hayam Wuruk, peran Mahapatih Gajah Mada sangat penting dalam memperkuat dominasi Majapahit di seluruh nusantara. Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya, berjanji untuk tidak menikmati kemewahan hingga seluruh Nusantara bersatu di bawah kekuasaan Majapahit.

Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk meliputi hampir seluruh wilayah nusantara, termasuk pulau-pulau di luar Jawa. Termasuk di dalamnya adalah Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Kepulauan Nusa Tenggara, Papua, Maluku, hingga Tumasik (sekarang Singapura) dan sebagian Filipina.

Wilayah tersebut tidak hanya diperoleh melalui peperangan, tetapi juga melalui hubungan diplomatik yang terjalin antara Majapahit dan kerajaan-kerajaan lain di Asia Tenggara. Bahkan, dalam Negarakertagama, sebuah karya sastra penting dari Majapahit, disebutkan bahwa kerajaan-kerajaan di nusantara tunduk di bawah pengaruh Majapahit.

Pada abad ke-14, pengembara terkenal Ibnu Battuta mengunjungi Nusantara dan mencatat pengamatannya tentang Majapahit. Dalam catatannya yang ditulis dalam karya Henry Yule (1916), Ibnu Battuta menyebutkan bahwa perempuan Jawa pada masa itu tidak hanya terampil menunggang kuda, tetapi juga mampu memanah dan berperang seperti laki-laki.

Ia juga mencatat sebuah cerita tentang Tawalisi, sebuah negara yang menentang Dinasti Yuan di China, dan perang dengan menggunakan kapal jung yang sangat besar. Hal ini menggambarkan betapa Majapahit telah dikenal luas di luar negeri.

Majapahit mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Dalam catatan sejarah, disebutkan bahwa di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk, Majapahit berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya dan menjadikan Majapahit sebagai pusat kekuasaan di wilayah Asia Tenggara.

Tidak hanya itu, pada masa ini Majapahit juga dikenal dengan kemakmurannya yang melimpah. Rakyat Majapahit merasakan kesejahteraan yang tinggi, baik dalam bidang ekonomi, budaya, maupun agama.

Sebagaimana tercatat dalam Negarakertagama, Majapahit tidak hanya menguasai seluruh Jawa Timur dan pulau Madura, tetapi juga memperluas wilayahnya ke luar Jawa, mencakup Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan bahkan wilayah pesisir timur dari Semenanjung Melayu.

Keberhasilan ini tidak lepas dari keberanian Gajah Mada yang melaksanakan Sumpah Palapa, sebuah janji untuk menyatukan seluruh Nusantara di bawah bendera Majapahit. Wilayah yang luas ini mencakup kerajaan-kerajaan yang sebelumnya berdiri sendiri, seperti kerajaan-kerajaan di Sumatra, Kalimantan, dan Filipina.

Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengalami era kejayaan yang luar biasa. Hal ini tidak terlepas dari keberhasilan Gajah Mada dalam mengatur strategi politik dan militer untuk menaklukkan wilayah-wilayah baru.

Meskipun Hayam Wuruk beragama Hindu, Gajah Mada sendiri memeluk agama Buddha. Namun, keduanya bekerja bersama dengan harmonis dalam memperkuat kekuasaan Majapahit.

Salah satu momen penting yang menandai puncak kejayaan Majapahit adalah penaklukan Singapura (Tumasik) pada masa pemerintahan Sri Wikrama Wira, sekitar tahun 1357–1362. Walaupun sempat lepas dari kendali Majapahit akibat konflik internal, Singapura akhirnya kembali dikuasai pada sekitar tahun 1390. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Majapahit dalam dunia internasional.

Kerajaan Majapahit bermula dari desa kecil yang dibangun di daerah Tarik, yang sebelumnya merupakan hutan belantara. Desa ini, yang kemudian dinamakan Majapahit, didirikan oleh Raden Wijaya setelah serbuan pasukan Mongol ke Jawa.

Dengan bantuan pasukan Mongol, Raden Wijaya berhasil menggulingkan Jayakatwang, yang sebelumnya menguasai wilayah tersebut. Setelah itu, Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit pada tahun 1293, yang kemudian menjadi salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara.

Setelah kematian ibundanya, Rajapatni, pada tahun 1350, Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi menggantikan posisi ibunya sebagai ratu Majapahit.

Pada tahun 1336, Tribhuwana menunjuk Gajah Mada sebagai Mahapatih, yang kemudian dikenal dengan Sumpah Palapa yang mewujudkan ambisi untuk memperluas wilayah Majapahit. Setelah kematian Tribhuwana pada tahun 1350, putranya, Hayam Wuruk, mengambil alih tahta dan memimpin Majapahit menuju puncak kejayaannya.

Kejayaan Majapahit yang berlangsung selama lebih dari satu abad meninggalkan warisan yang sangat besar, baik dalam budaya, agama, maupun politik di Nusantara. Di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Majapahit menjadi simbol kemakmuran dan kejayaan, yang tidak hanya mempengaruhi wilayah Nusantara, tetapi juga negara-negara tetangga.

Hingga kini, sejarah Majapahit tetap menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas Indonesia sebagai bangsa yang besar di Asia Tenggara.

Dengan demikian, puncak kejayaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada merupakan tonggak sejarah penting dalam perkembangan kerajaan dan kebudayaan di Nusantara. Sejarah ini menjadi bukti nyata kekuatan dan kebesaran Majapahit sebagai kerajaan yang menguasai sebagian besar wilayah Asia Tenggara.

Penyebab Keruntuhan Majapahit


Kerajaan Majapahit, yang mencapai puncaknya pada abad ke-14, mengalami kemunduran yang signifikan setelah wafatnya Raja Hayam Wuruk pada tahun 1389. Kepergian Hayam Wuruk menandai awal dari perpecahan internal di dalam kerajaan, terutama terkait dengan perebutan takhta yang mengarah pada disintegrasi kekuasaan Majapahit.

Konflik internal ini memberikan dampak besar bagi wilayah-wilayah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Majapahit, termasuk daerah-daerah strategis seperti utara Sumatra dan Semenanjung Malaya yang akhirnya memilih untuk merdeka. Selain itu, Semenanjung Malaya menjadi titik persaingan antara Majapahit dan Kerajaan Ayutthaya, hingga pada akhirnya muncul Kesultanan Malaka yang mendapat dukungan dari Dinasti Ming Tiongkok untuk mengatasi konflik yang terus berlangsung.

Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit adalah salah satu kekuatan terbesar di Asia Tenggara, namun setelah kematiannya, situasi politik dalam negeri terganggu oleh ambisi keluarga kerajaan dan perebutan kekuasaan. Pewaris sah Hayam Wuruk, Kusumawardhani, menikahi sepupunya, Pangeran Wikramawardhana.

Namun tidak lama setelah itu, muncul tantangan dari Wirabhumi, putra Hayam Wuruk dari selirnya yang menuntut hak atas takhta. Konflik ini dikenal dengan nama Perang Regreg yang terjadi antara tahun 1404 hingga 1406, dan berakhir dengan kemenangan Wikramawardhana, sementara Wirabhumi dihukum mati. Meski demikian, perang saudara ini telah melemahkan kekuasaan Majapahit, dan kerajaan mulai kehilangan kendali atas wilayah-wilayah taklukannya.

Selama pemerintahan Wikramawardhana, ekspedisi laut dari Dinasti Ming yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho, seorang jenderal Muslim dari Tiongkok, mengunjungi Jawa beberapa kali antara tahun 1405 hingga 1433. Ekspedisi ini membawa dampak besar, karena mereka mendirikan komunitas Muslim di kota-kota pelabuhan Jawa Utara seperti Semarang, Demak, Tuban, dan Ampel, yang turut memperkenalkan Islam di pesisir utara Jawa.

Sejak saat itu, pengaruh Islam di Jawa semakin kuat, bersamaan dengan mulai meredanya pengaruh Majapahit yang semakin terdesak oleh kebangkitan Kesultanan Malaka di bagian barat Nusantara.

Pada abad ke-15, Majapahit mengalami perpecahan lebih lanjut. Ketika pemerintahan Wikramawardhana berakhir pada tahun 1429, takhta dilanjutkan oleh putrinya, Ratu Suhita, yang memerintah hingga 1447. Setelah kematiannya, penerusnya Kertawijaya memerintah hingga tahun 1451, namun setelah kematiannya terjadi krisis suksesi yang semakin memperburuk keadaan.

Puncak ketegangan terjadi pada tahun 1468, ketika Bhre Kertabhumi, putra bungsu Rajasawardhana, memberontak terhadap Singhawikramawardhana, yang sebelumnya berhasil mengalahkan Kertabhumi pada tahun 1474.

Pada tahun 1474, Ranawijaya (sebelumnya dikenal sebagai Singhawikramawardhana) berhasil mengalahkan Kertabhumi dalam sebuah perebutan kekuasaan yang dipicu oleh ketidakpuasan di kalangan masyarakat Hindu dan Buddha atas kebijakan Kertabhumi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Polisi Usut Penyandang...
Polisi Usut Penyandang Dana hingga Penyewa Gedung Hayam Wuruk yang Jadi Markas Judi Online
Sindikat Judi Online...
Sindikat Judi Online di Hayam Wuruk Sudah Beroperasi 2 Bulan, Sewa Kantor untuk Setahun
Rekomendasi
Alwi Farhan Jagokan...
Alwi Farhan Jagokan Portugal di Piala Dunia 2026: Cristiano Ronaldo For The Last Dance!
PB PMII Serukan Persatuan...
PB PMII Serukan Persatuan Nasional, Kembalikan Intelektualitas Jadi Navigasi Gerakan
Ancam Ritel dan Perbankan,...
Ancam Ritel dan Perbankan, Penipuan 'Gift Card' Digital Kian Sulit Terdeteksi
Berita Terkini
BMKG Catat 612 Gempa...
BMKG Catat 612 Gempa Susulan Guncang Sulteng usai Gempa Besar M6,7
Pegadaian Kanwil IX...
Pegadaian Kanwil IX Jakarta 2 Gelar Khitanan Massal Gratis di Dua Lokasi
Rencana Aksi Lagi di...
Rencana Aksi Lagi di Bundaran HI, Ketua BEM UI Ingin Dobrak Kemacetan Mobilitas Sosial
Viral Gunung Lawu Akan...
Viral Gunung Lawu Akan Erupsi Besar, Badan Geologi: Hoaks!
Besok Eksekusi Lahan...
Besok Eksekusi Lahan Hotel Sultan, Sejumlah Akses Menuju GBK Ditutup
Divonis 6 Tahun Penjara,...
Divonis 6 Tahun Penjara, Pengusaha Jambi Bengawan Kamto Tempuh Banding
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved