Kisah Pilu Bapak Intelijen Indonesia hingga Memendam Dendam ke Penguasa di Akhir Hayat
Sabtu, 15 Februari 2025 - 09:10 WIB
loading...
Kolonel Zulkifli Lubis bersama cucu-cucu kesayangannya. Foto/Dok Keluarga Zulkifli Lubis
A
A
A
KISAH pilu Bapak Intelijen Indonesia hingga memendam dendam ke penguasa di akhir hayat diulas dalam artikel ini. Ya, nama Kolonel Zulkifli Lubis memang tak cukup popular di Indonesia.
Namanya tak sementereng tokoh militer LB Moerdani atau Ali Moertopo. Kendati demikian, sepak terjangnya dalam dunia intelijen Indonesia tak main-main.
Kolonel Zulkifli Lubis adalah peletak fondasi lembaga intelijen Tanah Air. Tak ayal, dia dinobatkan sebagai Bapak Intelijen Indonesia.
Baca juga: Zulkifli Lubis, Bapak Intelijen Indonesia yang Tak Bisa Dikuasai Komunis
Kiprah Zulkifli di dunia militer yang cukup diperhitungkan di masa kemerdekaan, tak sejalan dengan kisah hidupnya pasca tak lagi aktif di dunia militer. Dia benar-benar menjalani hidup dalam kesusahan.
Pergantian kekuasaan membuat Lubis seolah jadi orang asing. Dikutip dari buku "Zulkifli Lubis Bapak Intelijen Indonesia", konstelasi politik yang baru terasa kabur baginya.
Betapa tidak, dia mendekam di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta sejak paruh pertama 1960-an. Rezim Soekarno, yang menjebloskannya ke penjara, berada di ambang kehancuran.
Baca juga: Mutasi TNI, 3 Pati AU Digeser Jadi Staf Khusus KSAU Tonny Harjono
Soekarno sendiri menjadi tahanan rumah dengan akses sangat terbatas. Lubis yang dibebaskan dari tahanan pada 1966, pun tak beroleh izin dari militer untuk menjenguknya.
Lubis menjalani hari-harinya sebagai "gelandangan" setelah bebas. Tidak memiliki pekerjaan maupun rumah. Kolonel CPM Soenario memberikan tempat tinggal di Jalan Gunung Gede, Sempur, Bogor
Keluarga Lubis lalu pindah ke Jalan Semboja Nomor 22 hingga tahun 2000-an. Untuk menghidupi keluarganya, Lubis mengerjakan apa saja. Sempat datang tawaran untuk masuk kembali ke dinas militer, tapi ia menolak.
“Ia tidak sejalan dengan Nasution maupun Pak Harto," ujar Furqan Lubis, anak ke-6 Zulkifli Lubis.
Kemudian, Lubis bersama beberapa kolega mendirikan lembaga riset bernama Reda yang berkantor di Melawai, Jakarta Selatan. "Karena itulah pengalaman saya," kata Lubis.
Dia mencoba membantu mengembangkan intelijen negara dengan menciptakan kerja intelijen di luar pemerintahan. Beberapa binaannya seperti Ali Moertopo membukakan jalan.
Sejumlah negara pun disambanginya untuk memperdalam ilmu intelijen. Dalam suatu perjalanan, Lubis berkenalan dengan Mr Leet, pengusaha Tionghoa muslim, mengajaknya berbisnis pasir. "Singapura lagi butuh banyak pasir untuk pembangunan," katanya.
Lubis pun setuju. Mereka pun berkongsi mendirikan PT Riau Timas awal 1970-an. Meski berkantor di Jakarta, proyek PT Riau Timas berada di Tanjung Balai Karimun, Riau. "Itu perusahaan penambangan pasir," kata Furqan.
Berkat keuletannya, perusahaan itu tumbuh besar. Sepeninggal Lubis, anaknya, Ramanta menakhodai perusahaan itu hingga kolaps sekitar 2000. Ayah yang Bijaksana dan Penyayang Pertemuan Lubis dengan sang istri, Siti Zaenab tak pernah direncanakan.
Namanya tak sementereng tokoh militer LB Moerdani atau Ali Moertopo. Kendati demikian, sepak terjangnya dalam dunia intelijen Indonesia tak main-main.
Kolonel Zulkifli Lubis adalah peletak fondasi lembaga intelijen Tanah Air. Tak ayal, dia dinobatkan sebagai Bapak Intelijen Indonesia.
Baca juga: Zulkifli Lubis, Bapak Intelijen Indonesia yang Tak Bisa Dikuasai Komunis
Kiprah Zulkifli di dunia militer yang cukup diperhitungkan di masa kemerdekaan, tak sejalan dengan kisah hidupnya pasca tak lagi aktif di dunia militer. Dia benar-benar menjalani hidup dalam kesusahan.
Pergantian kekuasaan membuat Lubis seolah jadi orang asing. Dikutip dari buku "Zulkifli Lubis Bapak Intelijen Indonesia", konstelasi politik yang baru terasa kabur baginya.
Betapa tidak, dia mendekam di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta sejak paruh pertama 1960-an. Rezim Soekarno, yang menjebloskannya ke penjara, berada di ambang kehancuran.
Baca juga: Mutasi TNI, 3 Pati AU Digeser Jadi Staf Khusus KSAU Tonny Harjono
Soekarno sendiri menjadi tahanan rumah dengan akses sangat terbatas. Lubis yang dibebaskan dari tahanan pada 1966, pun tak beroleh izin dari militer untuk menjenguknya.
Lubis menjalani hari-harinya sebagai "gelandangan" setelah bebas. Tidak memiliki pekerjaan maupun rumah. Kolonel CPM Soenario memberikan tempat tinggal di Jalan Gunung Gede, Sempur, Bogor
Keluarga Lubis lalu pindah ke Jalan Semboja Nomor 22 hingga tahun 2000-an. Untuk menghidupi keluarganya, Lubis mengerjakan apa saja. Sempat datang tawaran untuk masuk kembali ke dinas militer, tapi ia menolak.
“Ia tidak sejalan dengan Nasution maupun Pak Harto," ujar Furqan Lubis, anak ke-6 Zulkifli Lubis.
Kemudian, Lubis bersama beberapa kolega mendirikan lembaga riset bernama Reda yang berkantor di Melawai, Jakarta Selatan. "Karena itulah pengalaman saya," kata Lubis.
Dia mencoba membantu mengembangkan intelijen negara dengan menciptakan kerja intelijen di luar pemerintahan. Beberapa binaannya seperti Ali Moertopo membukakan jalan.
Sejumlah negara pun disambanginya untuk memperdalam ilmu intelijen. Dalam suatu perjalanan, Lubis berkenalan dengan Mr Leet, pengusaha Tionghoa muslim, mengajaknya berbisnis pasir. "Singapura lagi butuh banyak pasir untuk pembangunan," katanya.
Lubis pun setuju. Mereka pun berkongsi mendirikan PT Riau Timas awal 1970-an. Meski berkantor di Jakarta, proyek PT Riau Timas berada di Tanjung Balai Karimun, Riau. "Itu perusahaan penambangan pasir," kata Furqan.
Berkat keuletannya, perusahaan itu tumbuh besar. Sepeninggal Lubis, anaknya, Ramanta menakhodai perusahaan itu hingga kolaps sekitar 2000. Ayah yang Bijaksana dan Penyayang Pertemuan Lubis dengan sang istri, Siti Zaenab tak pernah direncanakan.
Lihat Juga :