Strategi Licik Sultan Agung, Racuni Sungai Brantas untuk Taklukan Surabaya

Senin, 21 November 2022 - 04:45 WIB
loading...
Strategi Licik Sultan...
Penyerangan pasukan Sultan Agung ke Kadipaten Surabaya, pada tahun 1625 mengakibatkan kerusakan hebat, serta wabah penyakit dan kelaparan. Foto/Wikipedia/Basoeki Bawono
A A A
Wabah penyakit, kelaparan, dan kematian massal menghancurkan Surabaya. Pembunuhan massal menggunakan senjata biologis dalam perang antara kadipaten di timur Jawa, dengan pasukan Mataram di bawah komando Sultan Agung tersebut, menyisakan cerita pilu.

Baca juga: Kisah Makam Giriloyo, Makam Ghaib Sultan Agung

Kemegahan surabaya sebagai kadipaten dengan pelabuhan besar, sirna begitu saja akibat ulah pasukan Sultan Agung. Peristiwa kelam yang terjadi pada tahun 1625 tersebut, diulas Akhmad Saiful Ali, dalam hasil penelitiannya untuk tesis di IAIN Sunan Ampel Surabaya.



Dalam tesis yang berjudul "Ekspansi Mataram terhadap Surabaya Abad ke 17: Tinjauan Historis Tentang Penaklukan Surabaya oleh Mataram abad ke 17" tersebut. Akhmad Saiful Ali menyebutkan, Surabaya tak lagi menjadi pelabuhan penting dan kehilangan dominasinya di timur Jawa, usai dihancurkan oleh Mataram.

Baca juga: Tertangkap saat Asyik Bersetubuh di Hotel, Pasangan Mesum Digelandang ke Polres Merangin

Bahkan, penghancuran Surabaya, dan kota-kota pesisir utara itu membuat kemunduran perdagangan di Jawa. Dampaknya, memunculkan Kesultanan Makassar, sebagai kekuatan baru pusat perdagangan rempah-rempah di Nusantara.

Kadipaten Surabaya, yang pusatnya menjadi Kota Surabaya saat ini, dahulunya merupakan kerajaan besar usai terpecahnya Kesultanan Demak, menjadi tiga bagian pada abad ke-16. Selain Kadipaten Surabaya, pada abad 17 terdapat dua kekuatan besar, yakni Kesultanan Banten di Jawa Barat, dan Kesultanan Mataram di Jawa Tengah.

Sebagai kerajaan besar yang berpusat di tengah Jawa, Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung, mulai mengkonsolidasi kekuatannya dengan menyatukan sejumlah kerajaan, seperti Pajang, Demak, Madiun, dan Kediri.

Setelah kegagalannya melakukan ekspedisi penaklukan Banten, pada sekitar tahun 1957. Sultan Agung berubah haluan dengan melakukan pengiriman ekspedisi penaklukan wilayah timur Jawa, yang kala itu berada di bawah pengaruh Kadipaten Surabaya.

Kala itu, Kadipaten Surabaya, sangatlah kaya dan kuat. Pelabuhannya menjadi jalur perdagangan penting antara Malaka, dengan kepulauan Nusantara, penghasil rempah-rempah. Kadipaten Surabaya, bersekutu dengan Kadipaten Pasuruan. Bahkan, Kadipaten Surabaya juga menguasai wilayah Gresik, Sedayu, Sukadana, hingga Banjarmasin.

Baca juga: Kisah Nyimas Utari, Telik Sandi Cantik dari Mataram yang Memenggal Kepala Gubernur Jenderal JP Coen

Kekuatan Kadipaten Surabaya juga terkonsolidasi dengan Tuban, Malang, Kediri, Lasem, serta Madura. Konsolidasi kekuatan di timur Jawa ini terjadi sebagai respon kekuatan Mataram yang kian ekspansif.

Melihat begitu besarnya potensi kekuatan di timur Jawa yang dikonsolidasi oleh Kadipaten Surabaya, Sultan Agung mulai melancarkan kampanye militer Mataram ke wilayah timur Jawa pada awal abad ke-17, tepatnya pada tahun 1914 dengan menyerang sekutu-sekutu Kadipaten Surabaya. Upaya ini tak lepas dari ambisi Sultan Agung menyatukan Jawa di bawah Mataram.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
Pangeran Sambernyawa...
Pangeran Sambernyawa Pimpin Pasukannya dengan Semboyan Tiji Tibeh, Bikin Belanda Kocar-kacir
Kisah Strategi Cerdik...
Kisah Strategi Cerdik Panembahan Senopati Bikin Pasukan Pajang Kabur dari Mataram
Rebutan Takhta hingga...
Rebutan Takhta hingga Wanita Jadi Penyebab Pemberontakan Berdarah Era Kalingga dan Mataram
Janji Politik Raja Mataram...
Janji Politik Raja Mataram Bangun Tempat Penyeberangan di Tepi Sungai Bengawan Solo
Jejak Airlangga pada...
Jejak Airlangga pada Pendirian Kerajaan Jenggala dan Kediri
Dua Ilmuwan China Terlibat...
Dua Ilmuwan China Terlibat Bio-Smuggling, Universitas Michigan Jadi Sorotan
Kecerdasan Buatan OpenAI...
Kecerdasan Buatan OpenAI Berpontensi Bisa Membuat Senjata Biologis
3 Proyek Kontroversial...
3 Proyek Kontroversial yang Dituding Dijalankan USAID, dari Senjata Biologis hingga Covid
Rekomendasi
Gugatan CLS terkait...
Gugatan CLS terkait Ijazah Wapres Gibran Lanjut ke Pemeriksaan Pokok Perkara
BPIP Ajukan Tambahan...
BPIP Ajukan Tambahan Anggaran Rp370 Miliar untuk 2027
Prabowo Sebut Indonesia-Jerman...
Prabowo Sebut Indonesia-Jerman Sepakat Konflik Harus Diselesaikan lewat Perundingan
Berita Terkini
Biaya Operasional Tinggi,...
Biaya Operasional Tinggi, Gapasdap Minta Pemerintah Naikkan Tarif Angkutan Penyeberangan
Polda Metro Jaya: 3.588...
Polda Metro Jaya: 3.588 Personel Gabungan Dikerahkan Amankan Demo di DPR RI
Dukung Program MBG Dilanjutkan,...
Dukung Program MBG Dilanjutkan, Akademisi: Bermanfaat bagi Anak dan Masyarakat
Polda Metro Jaya Larang...
Polda Metro Jaya Larang Massa Demo Mahasiwa Masuk Jalur VIP Presiden Jerman
Ketua DPW Partai Perindo...
Ketua DPW Partai Perindo Sulsel Abdul Hayat Gani, dari Birokrasi ke Politik yang Melayani
Polisi Tangkap 2 Pelaku...
Polisi Tangkap 2 Pelaku yang Hendak Culik Lansia di PIK Jakut
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved