Karomah Kiai Abbas Buntet, Jatuhkan Pesawat Inggris dengan Doa di Pertempuran 10 November
Rabu, 10 November 2021 - 08:23 WIB
loading...
Potongan koran era perjuangan. Foto: Istimewa/Api Sejarah 2
A
A
A
KIAI ABBAS bin ABDUL JAMIL dari Pesantren Buntet, Cirebon , merupakan ulama besar. Kisah perjuangannya dalam pertempuran 10 November 1945, sangat legendaris. Tidak kalah hebat dengan Bung Tomo dan Soemarsono.
Peristiwa yang kemudian hari dikenal sebagai Hari Pahlawan, ini sebenarnya bukan pertempuran. Peristiwa ini lebih tepat disebut sebagai pembantaian atau aksi balas dendam Inggris terhadap tewasnya Brigjen Mallaby.
Baca : Taktik Bung Tomo dan Siasat Kolonel Sungkono Bakar Semangat Arek Suroboyo Jihad di Pertempuran 10 November
Sejak jam 6 pagi, Surabaya dihujani peluru meriam-meriam dari kapal-kapal laut Inggris. Tidak hanya dari laut, dari udara pesawat mereka juga menghujani rakyat di Kota Surabaya dan kampung-kampung dengan bom-bom.
Serangan bom ini membuat ribuan rumah warga, di Kota Surabaya dan kampung-kampung hancur berantakan, rata dengan tanah. Tidak hanya itu, puluhan ribu jiwa juga melayang, mayat terlihat bergelimpangan di mana-mana.
"Berhari-hari mereka lakukan serangan tersebut dengan kejam dan tak ada pertimbangan perikemanusiaan sama sekali," kenang Soemarsono, pelaku perjuangan seperti dikutip SINDOnews dalam Revolusi Agustus, Rabu (10/11/2021).
Dalam serangan itu, pihak Inggris mengakui, jumlah korban tewas dari rakyat dalam serangan itu mencapai 20 ribu jiwa. Angka ini, belum termasuk mereka yang berhasil selamat, namun menderita luka berat dan ringan.
"Puluhan ribu rakyat menjadi korban pemboman dalam dua kali pertempuran di Surabaya. Tetapi rakyat dan pemuda tidak ada pikiran menyerah atau minta ampun. Bahkan mendidih semangatnya," sambung Soemarsono.
Melihat kondisi itu, Bung Tomo meminta petunjuk kepada Hadhratusy Syaikh Kiai Haji Hasyim Ashari untuk menyerang. "Tunggu kedatangan Kiai dari Cirebon," jawab pimpinan Pesantren Tebuireng Jombang dan Rois Akbar NU itu.
Adapun Kiai dari Cirebon yang dimaksud Hasyim Ashari adalah Kiai Abbas dari Pondok Pesantren Buntet, Cirebon.
Kiai Abbas Buntet adalah putra sulung Kiai Abdul Jamil, putra Kiai Mutaad yang juga menantu Mbah Muqqayim, pendiri Pondok Pesantren Buntet. Dia lahir, pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H (1879 M) di Pekalangan, Cirebon.
Saat perjuangan kemerdekaan di Indonesia tengah hebat-hebatnya yang ditandai dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Kiai Abbas terjun ke dunia pergerakan meninggalkan kitab kuningnya.
Menurutnya, pada masa itu yang lebih diutamakan adalah keahlian bela diri dan ilmu kanuragan. Dia juga mulai meninggalkan pondok pesantren dan melakukan dakwah langsung di tengah masyarakat.
Sarana dakwah itu dimanfaatkannya sambil mengajarkan berbagai ilmu kesaktian dalam bela diri sebagai bekal melawan penjajah. Aktivitas Kiai Abbas ini cepat mendapatkan respon positif dari masyarakat yang ingin berjuang.
Peristiwa yang kemudian hari dikenal sebagai Hari Pahlawan, ini sebenarnya bukan pertempuran. Peristiwa ini lebih tepat disebut sebagai pembantaian atau aksi balas dendam Inggris terhadap tewasnya Brigjen Mallaby.
Baca : Taktik Bung Tomo dan Siasat Kolonel Sungkono Bakar Semangat Arek Suroboyo Jihad di Pertempuran 10 November
Sejak jam 6 pagi, Surabaya dihujani peluru meriam-meriam dari kapal-kapal laut Inggris. Tidak hanya dari laut, dari udara pesawat mereka juga menghujani rakyat di Kota Surabaya dan kampung-kampung dengan bom-bom.
Serangan bom ini membuat ribuan rumah warga, di Kota Surabaya dan kampung-kampung hancur berantakan, rata dengan tanah. Tidak hanya itu, puluhan ribu jiwa juga melayang, mayat terlihat bergelimpangan di mana-mana.
"Berhari-hari mereka lakukan serangan tersebut dengan kejam dan tak ada pertimbangan perikemanusiaan sama sekali," kenang Soemarsono, pelaku perjuangan seperti dikutip SINDOnews dalam Revolusi Agustus, Rabu (10/11/2021).
Dalam serangan itu, pihak Inggris mengakui, jumlah korban tewas dari rakyat dalam serangan itu mencapai 20 ribu jiwa. Angka ini, belum termasuk mereka yang berhasil selamat, namun menderita luka berat dan ringan.
"Puluhan ribu rakyat menjadi korban pemboman dalam dua kali pertempuran di Surabaya. Tetapi rakyat dan pemuda tidak ada pikiran menyerah atau minta ampun. Bahkan mendidih semangatnya," sambung Soemarsono.
Melihat kondisi itu, Bung Tomo meminta petunjuk kepada Hadhratusy Syaikh Kiai Haji Hasyim Ashari untuk menyerang. "Tunggu kedatangan Kiai dari Cirebon," jawab pimpinan Pesantren Tebuireng Jombang dan Rois Akbar NU itu.
Adapun Kiai dari Cirebon yang dimaksud Hasyim Ashari adalah Kiai Abbas dari Pondok Pesantren Buntet, Cirebon.
Kiai Abbas Buntet adalah putra sulung Kiai Abdul Jamil, putra Kiai Mutaad yang juga menantu Mbah Muqqayim, pendiri Pondok Pesantren Buntet. Dia lahir, pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H (1879 M) di Pekalangan, Cirebon.
Saat perjuangan kemerdekaan di Indonesia tengah hebat-hebatnya yang ditandai dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Kiai Abbas terjun ke dunia pergerakan meninggalkan kitab kuningnya.
Menurutnya, pada masa itu yang lebih diutamakan adalah keahlian bela diri dan ilmu kanuragan. Dia juga mulai meninggalkan pondok pesantren dan melakukan dakwah langsung di tengah masyarakat.
Sarana dakwah itu dimanfaatkannya sambil mengajarkan berbagai ilmu kesaktian dalam bela diri sebagai bekal melawan penjajah. Aktivitas Kiai Abbas ini cepat mendapatkan respon positif dari masyarakat yang ingin berjuang.
Lihat Juga :