Taktik Bung Tomo dan Siasat Kolonel Sungkono Bakar Semangat Arek Suroboyo Jihad di Pertempuran 10 November
Rabu, 10 November 2021 - 06:57 WIB
loading...
Bung Tomo dan Sungkono menjadi dua motor dalam gelombang gerakan 10 Nopember.Foto/ist
A
A
A
SURABAYA - Hari Pahlawan 10 Nopember tak hanya menyisahkan cerita yang berdarah. Ada dua sosok yang menjadikan dua kepingan sisi uang yang begitu menentukan dalam ruang perjuangan di Kota Surabaya.
Ada Kolonel Sungkono yang militan tak kenal lelah menebar agitasi ke kampung-kampung untuk melawan. Di kepingan perjuangan lainnya, Bung Tomo masuk ke telingga para pejuang lewat udara. Suaranya nyaring dengan letupan semangat dan heroisme untuk terus berjuang.
Baca juga: Kisah Romantis Bung Tomo, Macan Podium yang Jatuh Cinta pada Wanita Cantik Bernama Sulistina
Ia piawai membakar semangat warga Surabaya di masa pertempuran. Pasca perang Surabaya, Bung Tomo ditarik ke Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat. Ia juga diberikan pangkat militer Jenderal Mayor.
Dua sisi kepingan mata uang itu menjalankan fungsinya. Mereka mampu mengecoh sekutu, menjadikan Surabaya benar-benar membara dan kobaran perjuangan itu sampai sekarang belum padam. Dari radio, Bung Tomo mengerakan ribuan anak muda untuk angkat senjata.
Suara sinyal radio yang belum jernih masih menangkap lantang suara Bung Tomo. Para arek-arek Suroboyo yang masih muda mendekatkan telingga nya ke tepi radio, mendengarkan dengan seksama.
Bismillahirrohmanirrohim..Merdeka!!! Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya. Kita semuanya telah mengetahui. Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan, menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang. Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan. Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka
Saat Bung Tomo sudah mengudara dengan lantangnya di udara, darah arek-arek Surabaya sudah mendidih di sepanjang petang sampai dini hari. Suara senapan dan riak kecil pengepungan sudah dilakukan sekutu pada 9 November 1945. Arek-arek Suroboyo sudah berkumpul, membunuh dinginnya malam sambil menunggu seruan untuk bergerak. Perkampungan kecil dipatadi para gerilyawan, berbagai pasang mata tetap terjaga. Menunggu tank lewat dan menyergapnya dengan kilat.
Kolonel Sungkono, seorang pria yang waktu itu masih berusia 31 tahun masuk ke kampung-kampung untuk mengumpulkan pejuang. Suara seraknya seperti mau marah, memukul gerbang-gerbang rumah dengan semangatnya. Mereka diajak berkumpu di ujung pintu Markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Jalan Pregolan 4, Surabaya.
Tidak ada senyum tersungging dari Sungkono. Matanya terjaga seperti burung hantu, menatap serangkaian pasang mata dari arek-arek Suroboyo yang sudah menunggunya dengan gelisah dan keringat yang masih bercampur dengan darah di peluh perjuangan.
"Saudara-saudara, saya ingin mempertahankan Kota Surabaya. Surabaya tidak bisa kita lepaskan dari bahaya ini. Kalau saudara-saudara mau meninggalkan kota, saya juga tidak menahan, tapi saya akan mempertahankan kota sendiri,” kata Sungkono pada arek-arek Suroboyo dengan kedalaman suaranya seperti dikutip dari Surabaya 1945: Sakral Tanahku.
Ada Kolonel Sungkono yang militan tak kenal lelah menebar agitasi ke kampung-kampung untuk melawan. Di kepingan perjuangan lainnya, Bung Tomo masuk ke telingga para pejuang lewat udara. Suaranya nyaring dengan letupan semangat dan heroisme untuk terus berjuang.
Baca juga: Kisah Romantis Bung Tomo, Macan Podium yang Jatuh Cinta pada Wanita Cantik Bernama Sulistina
Ia piawai membakar semangat warga Surabaya di masa pertempuran. Pasca perang Surabaya, Bung Tomo ditarik ke Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat. Ia juga diberikan pangkat militer Jenderal Mayor.
Dua sisi kepingan mata uang itu menjalankan fungsinya. Mereka mampu mengecoh sekutu, menjadikan Surabaya benar-benar membara dan kobaran perjuangan itu sampai sekarang belum padam. Dari radio, Bung Tomo mengerakan ribuan anak muda untuk angkat senjata.
Suara sinyal radio yang belum jernih masih menangkap lantang suara Bung Tomo. Para arek-arek Suroboyo yang masih muda mendekatkan telingga nya ke tepi radio, mendengarkan dengan seksama.
Bismillahirrohmanirrohim..Merdeka!!! Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya. Kita semuanya telah mengetahui. Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan, menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang. Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan. Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka
Saat Bung Tomo sudah mengudara dengan lantangnya di udara, darah arek-arek Surabaya sudah mendidih di sepanjang petang sampai dini hari. Suara senapan dan riak kecil pengepungan sudah dilakukan sekutu pada 9 November 1945. Arek-arek Suroboyo sudah berkumpul, membunuh dinginnya malam sambil menunggu seruan untuk bergerak. Perkampungan kecil dipatadi para gerilyawan, berbagai pasang mata tetap terjaga. Menunggu tank lewat dan menyergapnya dengan kilat.
Kolonel Sungkono, seorang pria yang waktu itu masih berusia 31 tahun masuk ke kampung-kampung untuk mengumpulkan pejuang. Suara seraknya seperti mau marah, memukul gerbang-gerbang rumah dengan semangatnya. Mereka diajak berkumpu di ujung pintu Markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Jalan Pregolan 4, Surabaya.
Tidak ada senyum tersungging dari Sungkono. Matanya terjaga seperti burung hantu, menatap serangkaian pasang mata dari arek-arek Suroboyo yang sudah menunggunya dengan gelisah dan keringat yang masih bercampur dengan darah di peluh perjuangan.
"Saudara-saudara, saya ingin mempertahankan Kota Surabaya. Surabaya tidak bisa kita lepaskan dari bahaya ini. Kalau saudara-saudara mau meninggalkan kota, saya juga tidak menahan, tapi saya akan mempertahankan kota sendiri,” kata Sungkono pada arek-arek Suroboyo dengan kedalaman suaranya seperti dikutip dari Surabaya 1945: Sakral Tanahku.
Lihat Juga :