Kisah Persahabatan Eks Tentara Pelajar Indonesia dengan Perwira Belanda

loading...
Kisah Persahabatan Eks Tentara Pelajar Indonesia dengan Perwira Belanda
Eyang Giri saat bertemu Arnold de Lange saat di Semarang sekitar tahun 1992. (Ist)
SEMARANG - Usia boleh uzur termakan oleh waktu, tapi ingatan masa lalu tak lekang ditelan zaman. Hal itu ada pada sosok Soegiarno, seorang mantan TentaraPelajar Brigade 17 di Semarang. Di usia 91 tahun, kondisi Soegiarno kini memang tak segagah masa mudanya ketika ia bergabung dalam barisan Tentara Pelajar Brigade 17 Semarang dan sekitarnya.

Eyang Giri, begitu ia akrab disapa, nyaris kehilangan sebuah bola matanya karena sudah tak berfungsi secara normal. Bola mata kirinya yang terserang glukoma terjadi infeksi hingga kondisinya mengecil, dan baru kira-kira dua minggu lalu selaput katarakyang ada di mata kanannya pun diangkat.

Beruntung meski agak kabur, eyang Giri mengaku bersyukur atas nikmat kesehatan dan dipanjangkan umurnya. Meski dulu pernah malang melintang berjuang bersama rekan-rekan Tentara Pelajar di Batalyon 200, namun eyang Giri hingga akhir hayatnya tak pernah tercatat dan mencatatkan diri sebagai anggota Legiun VeteranRepublik Indonesia (LVRI) dan memperoleh tunjangan.

Hal yang sama juga dilakukan kakaknya, Soegiarin (sudah meninggal 1987) yang dulu berjasa menyebarkan kabar Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 melalui siaran sandi morse Kantor berita Domei Jakarta.



Namun demikian, ada cerita menarik saat Soegi (nama panggilan mudanya) berjuang angkat senjata dan terlibat peperangan dengan Belanda di Ambarawa tahun 1948, waktu itu usianya baru 19 tahun.

Ketika menghadang rombongan tentara Belanda, pasukannya sibuk menembaki untuk membuyarkan konvoi. Karena dirinya kehabisan amunisi dan terkepung tentara Belanda, akhirnya hanya bisa berserah diri pada Yang Maha Kuasa.

"Saat itu saya berpikir akan ditembak Belanda dan mati saat itu juga, tapi akhirnya senjata saya dirampas dan saya ditangkap dibawa ke sebuah tangsi dimasukkan dalam sel. Saat itu saya mengenal seorang tentara Letnan Arnold de Lange, perwira yang memimpin di Tiger Brigade. Selama berjam-jam saya diinterogasi dan saya jawab dengan berbahasa Belanda,” keta Soegiarno, belum lama ini.



Berkat kemampuan berbahasa Belanda ini lah yang membuatnya longgar di tempat penawanan. “Setiap pagi saya membersihkan ruang penawanan dan sesekali diajak ngobrol Arnold. Saya bercerita tentang perang. Banyak orang tak suka perang, tapi tidak bisa menghindar ketika negara membutuhkan kita untuk perang,” katanya. (Baca: Mantap, Dosen Unpad Ini Ciptakan Aplikasi Pengukur Stres dari Ponsel).
halaman ke-1 dari 3
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top