Berkuasanya Raja La Maddaremeng Hapus Perbudakan di Kerajaan Bone
Senin, 20 September 2021 - 05:05 WIB
loading...
Berkuasanya Raja La Maddaremeng Hapus Perbudakan di Kerajaan Bone/Historia.id
A
A
A
Cerita pagi kali ini menyajikan kisah perbudakan di Kerajaan Bone atau sering disebut Akkarungeng ri Bone mendapat penentangan dari Raja Bone XIII La Maddaremeng Matinroe ri Bukaka. Selama masa kepemimpinannya 1631-1640, Raja La Maddaremeng menerapkan aturan Islam dengan ketat termasuk menghapus praktik perbudakan.
Tidak hanya di dalam wilayahnya, Raja La Maddaremeng menerapkan ajaran Islam hingga ke Kerajaan Wajo dan Soppeng. Dia sangat menentang perbudakan dengan mengeluarkan perintah untuk tidak lagi mempekerjakan ata (budak). Dia menilai semua umat Islam adalah orang yang merdeka. Bila seseorang mempekerjakan seseorang maka orang tersebut harus mendapatkan nafkah sewajarnya.
Ketika Sultan Alaudin, raja Gowa XIV, menerima Islam sebagai agama resmi kerajaan, seluruh kerajaan taklukannya di Sulawesi Selatan wajib masuk Islam. Namun, persekutuan kerajaan dalam ikrar tellu bocco, yakni Bone, Soppeng dan Wajo tidak menerima begitu saja.
Baca Juga: Kisah Djuwari, Pemikul Tandu Jenderal Sudirman yang Terlupakan
Ajakan masuk Islam oleh Gowa dianggap sebagai upaya menanamkan kekuasaan di wilayah kerajaan itu. Akhirnya, selama empat tahun, Gowa menyerang tiga kerajaan itu. Perang ini dikenal dengan nama Musu Selleng (Peperangan Islam). Sidenreng dan Soppeng diislamkan pada 1690, Wajo pada 1610 dan Bone pada 1611.
Tidak hanya di dalam wilayahnya, Raja La Maddaremeng menerapkan ajaran Islam hingga ke Kerajaan Wajo dan Soppeng. Dia sangat menentang perbudakan dengan mengeluarkan perintah untuk tidak lagi mempekerjakan ata (budak). Dia menilai semua umat Islam adalah orang yang merdeka. Bila seseorang mempekerjakan seseorang maka orang tersebut harus mendapatkan nafkah sewajarnya.
Ketika Sultan Alaudin, raja Gowa XIV, menerima Islam sebagai agama resmi kerajaan, seluruh kerajaan taklukannya di Sulawesi Selatan wajib masuk Islam. Namun, persekutuan kerajaan dalam ikrar tellu bocco, yakni Bone, Soppeng dan Wajo tidak menerima begitu saja.
Baca Juga: Kisah Djuwari, Pemikul Tandu Jenderal Sudirman yang Terlupakan
Ajakan masuk Islam oleh Gowa dianggap sebagai upaya menanamkan kekuasaan di wilayah kerajaan itu. Akhirnya, selama empat tahun, Gowa menyerang tiga kerajaan itu. Perang ini dikenal dengan nama Musu Selleng (Peperangan Islam). Sidenreng dan Soppeng diislamkan pada 1690, Wajo pada 1610 dan Bone pada 1611.
Lihat Juga :