Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Cerita Pagi

Sepenggal Kisah Perjuangan Gus Dur Merebut Hati Sinta Nuriyah

loading...
Selama tahun-tahun yang dihabiskan di Kairo, Gus Dur, rutin terus berkorespondensi dengan Nuriyah. Surat-surat gadis ini, yang datangnya secara teratur, ditafsirkannya sebagai tanda bahwa dia tidak sepenuhnya ditolak. Nuriyah pandai berkorespondensi dan setelah lewat beberapa tahun hubungan mereka menjadi lebih dalam daripada sekadar persahabatan ketika mereka di Jombang. Kala itu, Nuriyah sering menolak pemberian buku dari Gus Dur.



Pada awalnya, hubungan Gus Dur dan Nuriyah tidak begitu mulus. Namun, hubungan itu menjadi lebih dalam karena korespondensi yang teratur itu. Menjelang tahun 1966 keduanya merasa yakin bahwa mereka adalah pasangan yang serasi. Atau, lebih tepatnya, Nuriyah menerima Gus Dur sebagai teman hidupnya.

Pada satu tahap, Nuriyah sempat pergi ke tukang ramal untuk mencari tahu apakah Gus Dur benar-benar pemuda yang tepat baginya ataukah dia harus mencari pemuda lain.? Tukang ramal itu memberikan jawaban jelas. “Jangan mencari-cari lagi. Yang sekarang ini akan menjadi teman hidup Anda.”

Jawaban ini malah mengganggu pikiran Nuriyah karena dia belum yakin betul apakah dia benar-benar mencintai Gus Dur. Untunglah surat-surat yang diterimanya dari pemuda ini mengubah keadaan. Demikian juga karena pengalaman dan permenungan yang lebih banyak, dia menjadi yakin mengenai apa yang sebenarnya dia cari.

Nuriyah adalah seorang gadis yang menarik dan lincah. Banyak pemuda tertarik pada dirinya. Dan, Gus Dur sebenarnya bukanlah pemuda yang paling tampan yang pernah dikenalnya, tetapi kepribadiannya yang halus dan pikirannya yang tajam. Sebagaimana terbaca dari surat-suratnya, semakin membuatnya disukai oleh Nuriyah.

Akhirnya, pada pertengahan tahun 1966 Gus Dur menulis surat kepada Nuriyah. Gus Dur bertanya apakah apakah siap menjadi istrinya. Mula-mula jawaban Nuriyah masih mengambang. Dia menjawab: “Mendapatkan teman hidup bagaikan hidup dan mati. Hanya Tuhan yang tahu.” Gus Dur tidak kecil hati dan tetap menulis surat kepadanya sambil menumpahkan kepada Nuriyah rasa putus asanya di Mesir dan apa yang telah dialaminya di negeri itu.

Bagi seorang yang jarang mau mengungkapkan rasa ragunya, apa lagi depresinya, apa yang secara jujur diungkapkan Gus Dur mengenai rasa khawatirnya itu merupakan suatu tindakan penting. Setelah menerima hasil ujian akhir pada pertengahan tahun 1966, Gus Dur, ia menulis surat lagi kepada Nuriyah dan menumpahkan segenap perasaan sedih karena kegagalannya.

Kali ini ada kabar baik. Nuriyah segera membalas dengan kata-kata yang menghiburnya: “Mengapa orang harus gagal dalam segala hal? Anda boleh gagal dalam studi, tetapi paling tidak Anda berhasil dalam kisah cinta”. Hingga akhirnya, Gus Dur dengan segera menulis surat kepada ibunya untuk meminang Nuriyah.
(msd)
halaman ke-2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top