Tergiur Kilau Emas, Banyak Warga Salopa Merantau Jadi Penambang Rakyat

loading...
Tergiur Kilau Emas, Banyak Warga Salopa Merantau Jadi Penambang Rakyat
Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, Jabar dikenal sebagai daerah yang warganya banyak bekerja sebagai penambang emas tradisional di Kalimantan, Sulawesi hingga Sumatera. Foto/iNews TV/Asep Juhariyono
TASIKMALAYA - Sepuluh warga KabupatenTasikmalaya, Jawa Barat tertimbun di dalam lubang tambang sedalam 65 meter di Sungai Seribu, Arut Utara, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Tiga di antaranya sudah berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Dari 10 tersebut, 9 di antaranya merupakan warga Kecamatan Salopa. Selama ini banyak warga Salopa yang memilih menjadi pekerja di pertambangan rakyat tradisional di luar Pulau Jawa. (Baca juga: Tragis, 10 Penambang Emas Ilegal di Kotawaringin Barat Terkubur Longsor)

Salopa pun dikenal sebagai daerah yang warganya banyak bekerja sebagai penambang emas tradisional. Warga Salopa banyak yang bekerja di pertambangan tradisional di kawasan Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan daerah lainnya. (Baca juga: Terkubur Longsor, 10 Pekerja Tambang Emas Berasal dari Jawa Barat)
Tergiur Kilau Emas, Banyak Warga Salopa Merantau Jadi Penambang Rakyat

Sembilan dari 10 penambang yang menjadi korban tertimbun longsor di lokasi tambang tradisional di Sungai Seribu, Arut Utara, Kotawaringin Barat merupakan warga Desa Mulyasari, Desa Karyamandala, dan Desa Mandalahayu, Kecamatan Salopa. Sedangkan seorang lagi merupakan warga Kecamatan Tanjungjaya.

Salopa berada di wilayah pegunungan yang dikelilingi oleh hutan dan perkebunan. Warganya kebanyakan berprofesi sebagai petani, mengolah kebun dan pedagang. (Baca juga: 2 Anaknya Tertimbun di Lubang Tambang Emas, Sang Ibu Berharap Ditemukan Selamat)



Eka, keluarga korban yang tertimbun longsor di Kotawaringin Barat, warga Desa Mulyasari, Kecamatan Salopa lebih memilih bekerja di pertambangan tradisional di luar pulau Jawa karena banyak warga yang sukses setelah menjadi penambang. "Mereka bisa membangun rumah, membeli mobil, sapi, dan tanah," katanya, Minggu (22/11/2020).

Hal ini lah yang menjadi daya tarik bagi warga lainnya untuk menjadi penambang emas. meski pekerjaan tersebut nyawa taruhannya. Dia menceritakan, untuk bekerja menjadi seorang penambang, biasanya ada bos sebagai pemodal yang datang dan membiayai semua ongkos perjalanan dan biaya hidup di pertambangan. Biasanya mereka berangkat sekitar 10-20 orang yang dijemput oleh travel ke Jakarta. Selanjutnya dari Jakarta naik pesawat ke daerah tujuan.

"Jika mereka sudah mulai bekerja dan berhasil, maka semua ongkos yang sudah dikeluarkan oleh bosnya akan dipotong dari penghasilan mereka," lanjutnya. Namun ada juga warga yang tidak sukses dan untuk bisa pulang ke kampung halamananya meminta kiriman uang dari keluarga di kampung.

Eka menambahkan, warga Salopa banyak yang berangkat menjadi penambang di Kalimantan, Palu, Manado, Jambi dan Padang. “Mereka tergiur karena hasilnya bisa mencapai puluhan, bahkan ratusan juta,” katanya.



Nanik, tetangga korban menambahkan bahwa syarat untuk bekerja sebagai penambang hanya KTP dan keinginan warga untuk bekerja tanpa paksaan. “Mereka tergiur karena hasilnya bisa mencapai kiloan emas jika berhasil dalam penambangan,” tuturnya.

Sementara itu, Camat Salopa, Fuad Abdul Azis menyatakan ikut prihatin dan berbela sungkawa atas kejadian yang menimpa warganya. Dia membenarkan bahwa ada 9 warganya yang menjadi korban terimung longsor di lokasi penambangan emas di Kotawaringin Barat.

Fuad juga membenarkan banyak warga Salopa yang bekerja sebagai penambang di luar Pulau Jawa karena tergiur oleh hasil yang didapatkan dari para penambang yang sukses. Sementara warga di Salopa kebanyakan berprofesi sebagai petani.

Hingga saat ini baru 3 orang yang sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sedangkan 7 orang lainnya masih dicari karena tertimbun longsor di dalam lubang berkedalaman 65 meter.
(shf)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top