Cerita Pagi

Mas-mas TRIP Berjuang Hingga Akhir Zaman...

loading...
Mas-mas TRIP Berjuang Hingga Akhir Zaman...
Para pejuang mantan anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), bersama anak, dan cucunya, melakukan ziarah serta penghormatan di Taman Makam Pahlawan (TMP) TRIP. Foto/SINDOnews/Yuswantoro
MALANG - Sebuah makam besar, dengan dua batu nisan berwarna putih menyisakan ketegaran dan semangat yang masih terus menyala di bawah kibaran Sang Merah Putih. Makam itu menjadi persitirahan terakhir bagi 35 anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).

Waktu itu, mereka masih berusia belasan tahun. Tetapi, berani mengangkat senjata bersama-sama. Berjuang secara fisik, menjaga kedaulatan nusantara dari kembalinya para penjajah. (Baca juga: Di Patirtan Ini, Cinta Pandangan Pertama Arok-Dedes Bersemi)

Para prajurit TRIP, yang masih belia. Bertugas menjaga pertahanan di dalam Kota Malang. Mereka harus berjibaku, menghadapi tentara aggressor Belanda, yang bersenjata lengkap. Para prajurit belia ini, sempat membumihanguskan Kota Malang, untuk menghadang laju dari pasukan lawan.

Pertempuran heroik itu terjadi 31 Juli 1947. Tepatnya terjadi di Jalan Salak, Kota Malang, yang kini menjadi Jalan Pahlawan TRIP. Jalan yang langsung terhubung dengan Jalan Ijen ini, pada saat terjadi pertempuran, berdekatan langsung dengan sebuah hamparan luas lapangan pacuan kuda.



Kini, arena pertempuran heroik menghadapi serangan ganas Agresi Militer I Belanda tersebut, nyaris tidak nampak lagi. Himpitan perumahan elit, berharga miliaran rupiah, telah mengerdilkan pengorbanan besar untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia, dengan menumpahkan darah, dan mengorbankan nyawa.

Bahkan, makam yang digunakan untuk memakamkan jenazah anggota TRIP, dalam satu liang lahat itu. Nyaris saja hilang. Tergusur menjadi bangunan rumah toko (Ruko), bagian dari kompleks perumahan elit yang kini memenuhi seluruh bekas lapangan pacuan kuda.

Beruntung, di tahun 2008 silam. Saat Wali Kota Malang, dijabat oleh Peni Suparto, dengan berani Pemkot Malang, menetapkan kawasan itu sebagai kawasan cagar budaya, dan bersejarah, sehingga tidak bisa digusur lagi. (Baca juga: Dwarapala Saksi Bisu Ketangguhan Desa Menjaga Arjuna)



Suara dentuman meriam, dan rentetan tembakan senapan mesin dari pasukan Belanda, dengan dukungan penuh pasukan sekutu. Masih jelas terngiang diingatan para mantan anggota Batalyon 5000 TRIP Jawa Timur.
halaman ke-1 dari 3
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top