Perang Pasola, Uji Nyali Lelaki Pemberani

loading...
Syahdan, Rabu kepincut asmara dengan Teda Gaiparona, lelaki kampung tetangga. Karena jalinan cinta keduanya tak direstui keluarga, keduanya nekat kawin lari alias meninggalkan kampung. Suatu waktu, Umbu Amahu kembali dari pengembaraannya. Namun dia menemukan fakta, si pujaan hati sudah dibawa lari laki-laki lain.

Umbu Amahu ingin mengambilnya kembali, namun Rabu Kaba lebih terpikat pada Teda Gaiparona. Rabu Kaba kemudian meminta pertanggungjawaban Teda Gaiparona untuk mengganti belis yang telah diterima keluarganya dari Umbu Dulla. Belis yang sudah diterima berupa kuda, sapi, kerbau, dan barang-barang berharga lainnya sanggup dikembalikan Teda Gaiparona.

Setelah seluruh belis dilunasi, upacara perkawinan pasangan Rabu Kaba dengan Teda Gaiparona, diselenggarakan. Peristiwa ini membuat Umbu Dulla sedih. Demi melipur lara, ia pun memerintahkan warga Waiwuang agar mengadakan pesta nyale dalam wujud Pasola. (Baca: Kampung Adat Umbu Koba Sumba Barat Daya Terbakar, 1 Orang Meninggal)

Sebelum melaksanakan ritual Pasola, masyarakat Sumba Barat terlebih dahulu melakukan tradisi nyale, memancing cacing laut di tepi pantai. Tradisi ini dilakukan saat bulan purnama berlangsung. Jika mendapatkan banyak nyale, itu isyarat Pasola bisa diselenggarakan.

Memaknai Tetesan Darah

Aksi saling menombak dengan bambu tumpul kerap menimbulkan jatuh korban dan cucuran darah. Jika ada korban jiwa selama Pasola berlangsung, itu dimaknai sebagai hukuman dari Dewa terhadap peribadi bersangkutam. Hukuman itu merupakan tebusan atas dosa atau kesalahan yang dilakukannya dalam masyarakat.

Sementara itu, jika ada yang mencurkan darah, itu dimaknai sebagai berkat. Makin banyak darah yang tertumpah akibat saling tombak ini, masyarakat setempat meyakini akan banyak berkat atau panenan kelak. (Baca: Pekan Kebudayaan Daerah Pidie Jaya Tampilkan Berbagai Lomba Permainan Tradisional)

Menariknya, dalam Pasola ini, para petarung selalu menggunakan kuda jenis Sandalwood atau Kuda Sandel. Kuda Sandel mempunyai postur yang cenderung lebih rendah dibandingkan kuda ras Amerika dan Australia.

Keistimewaan dari kuda ini terletak pada kecepatan dan daya tahannya. Konon kuda ini hasil persilangan dari Kuda Arab dengan Kuda poni lokal. yang kini terus dikembangkan di Pulau Sumba.
(don)
halaman ke-2 dari 2
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video
Top