Kisah Alun-alun Contong Hendak Diganti Tugu Petani, Berhasil Digagalkan Usai G30S/PKI

Senin, 04 Oktober 2021 - 05:05 WIB
loading...
Kisah Alun-alun Contong Hendak Diganti Tugu Petani, Berhasil Digagalkan Usai G30S/PKI
Kawasan Alun-alun Contong Kota Surabaya, yang menjadi wilayah penting dalam lintasan sejarah Indonesia. Foto/Dok.SINDOnews/Lukman Hakim
A A A
Langit-langit Surabaya masih memerah ketika perkampungan di tiap RT yang ada di Kota Pahlawan terus disisir. Tak ada yang terlewat, termasuk Moerachman, Wali Kota Surabaya yang menjabat pada 1964-1965 juga terus dicari waktu itu.

Baca juga: Kisah Gubernur Suryo Berani Lawan Jepang dan Sekutu, Jadi Korban Kekejaman Pemberontak PKI Madiun

Gerakan 30 September (G30S) 1965 memberikan pengaruh pada berbagai kota di Indonesia. Surabaya yang menjadi barometer perjuangan juga bergerak cepat dengan melakukan penyisiran pada para anggota dan simpatisan PKI waktu itu.



Dalam buku "Menyeberangi Sungai Airmata: Kisah Tragis Tapol ‘65 dan Upaya Rekonsiliasi", penyisiran dilakukan secara terus-menerus. Termasuk kantor Comite Daerah besar PKI di Jalan Pahlawan. Dekat dengan Alun-alun Contong yang sempat direncanakan menjadi tempat untuk membangun simbol PKI melalui patung petani.

Baca juga: Heroik, Ibu Rumah Tangga Relakan Tubuhnya Remuk Terlindas Truk Demi Selamatkan Anak

Waktu itu, wali kota sementara Kolonel Sukotjo terus membersihkan unsur PKI di pemerintahan serta di berbagai lapisan masyarakat. Sukotjo sebelumnya merupakan Komandan Kodim 0830 Kota Surabaya, mengantikan Moerachman sebagai wali kota dan ditangkap karena memiliki hubungan dekat dengan PKI.

Surabaya sendiri dalam catatan sejarah, pernah dua kali dipimpin oleh tokoh yang memiliki kedekatan dengan PKI yang waktu itu menjadi pemenang pemilu. Tokoh pertama merupakan dr Raden Satrio Sastrodiredjo yang menjabat wali kota periode 1958-1964. Sementara Murachman lebih singkat yakni 1964-1965.

Baca juga: Cubit Murid Akibat Berkelahi, Kepala Sekolah di Tulangbawang Terkapar Dibacok Wali Murid

Waktu itu, hasil pemilu daerah pada 1957 benar-benar menjadi panggung bagi PKI di Surabaya. Masyumi hanya memperoleh dua kursi, sedangkan PKI mendapat 17 kursi. Jumlah kursi yang jauh lebih banyak ini, membuat PKI bisa mulus memilih kadernya untuk menjadi orang nomor satu di Surabaya.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2231 seconds (11.97#12.26)