Gagal Meracuni Sawunggaling, Belanda Murka dan Rakyat Surabaya Digilas

Senin, 26 Juli 2021 - 05:00 WIB
loading...
A A A
Sebelum semuanya tersadar sepenuhnya, Arya Suradireja langsung mengajak Sawunggaling meninggalkan lokasi. Sementara melihat dua perwiranya tewas, Kapitan Komisaris Pieter Speelman murka. Dipimpin Letnan Herman De Wilde, wakil Peiter Speelman, pengejaran langsung dilakukan. "Tidak tanggung-tanggung, 200 pasukan berkuda Kompeni tergabung dalam pengejar," tulis Fabricus Indri.

Sawunggaling dan Arya Suradireja berhasil keluar dari Kartasura. Di wilayah Sragen, mereka sengaja menerobos kawasan hutan. Di hutan itu Sawunggaling sempat berkontak dengan Gerombolan Gagak Mataram. Yakni sekelompok bandit sosial pimpinan Gagak Lodra yang pernah berhutang nyawa dengan Sawunggaling. Di hutan Sragen itu pasukan Kompeni yang berusaha menyusul, dihancurkan.

Kabar kematian dua petinggi Kompeni Belanda di Kartasura, menggemparkan dan dengan cepat tersebar hingga ke Batavia. Kabar tersebut sampai ke telinga Gubernur Jendral Belanda Hendrick Zwaardeckroon. Ultimatum langsung dikeluarkan: "Tangkap Adipati Sawunggaling hidup atau mati". Penyerangan ke Surabaya dipimpin Kapitan Komisaris Pieter Speelman sekaligus pengganti Hoogendorf.

Baca juga: Kisah Jalan Bhayangkara, Saksi Bisu Sejarah Panjang Polri di Masa Pergolakan Revolusi

Sebanyak 5.000 orang pasukan yang terdiri dari prajurit Eropa dan pribumi dikerahkan. Serangan dilakukan melalui perang darat dan laut. Sementara di Kadipaten Surabaya, Adipati Sawunggaling berusaha menyatukan kekuatan Gerbangkertasusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan). Pertempuran dahsyat tidak terelakkan. Pada tanggal 10 Februari 1723. Pasukan Sawunggaling berhasil memukul mundur Kompeni Belanda di Lamongan.

Kompeni yang terbiasa melakukan perang terbuka, dibuat kocar-kacir saat harus menghadapi serangan gerilya dari rumah ke rumah. Kapitan Pieter Speelman yang marah, turun langsung memimpin peperangan. Tiga kapal perang diberangkatkan untuk menggempur Surabaya dari arah laut. Perintahnya ke setiap pimpinan pasukan adalah tidak ada tawanan perang. Artinya semua termasuk Adipati Sawunggaling dihabisi.

Perang berlangsung sengit. Karena kalah jumlah pasukan serta persenjataan, laskar Sawunggaling terdesak. Saat itu awal Maret 1723. Kondisi yang ada diperparah dengan ditariknya bantuan pasukan dari orang-orang Bali yang sebelumnya berada di Pasuruan dan Probolinggo. Penarikan pasukan dikarenakan di Bali juga sedang terjadi peperangan. Sawunggaling bersama istri dan putranya, Arya Bagus Narendra yang masih berusia balita mengungsi ke dalam Benteng Providencia .

Baca juga: Cerita Tentang Pecel Blitar, Bung Karno, dan Revolusi Makanan Rakyat

Kadipaten Surabaya dikosongkan. Agar tidak dipakai pasukan Kompeni Belanda. Saat meninggalkan kota, seluruh rumah-rumah yang ada lebih dulu dibakari. Termasuk kediaman Sawunggaling juga tidak luput dihanguskan. "Asap hitam mengepul di mana-mana. Surabaya menjadi karang abang (lautan api)," tulis Febricus Indri. Tanggal 8 Maret 1723. Pasukan Kompeni masuk Surabaya melalui Sidoarjo. Saat yang sama, pasukan Kompeni lain yang datang dari arah Kadipaten Gresik, dan Gunungsari juga masuk Surabaya.

Mereka merangsek ke arah benteng Providencia , tempat pertahanan terakhir Sawunggaling. Di dalam benteng masih ada 800 orang pejuang laskar Sawunggaling yang siap bertempur sampai titik darah penghabisan. Perang yang tidak seimbang tersebut berlangsung sengit. Pasukan Kompeni berhasil merangsek masuk sekaligus menewaskan Arya Suradireja. Dengan sisa pasukan yang ada, Sawunggaling terus melawan. Pistol di tangan kanannya tidak henti-henti menyalak.

Baca juga: Kisah Buaya Kuning Penjaga dan Suku Dayak Tunjung

Begitu juga dengan pedang di tangan kirinya tidak berhenti mengayun. Perlawanan Sawunggaling berakhir setelah peluru menembus lehernya dan bayonet dari segala arah menikami tubuhnya. Adipati Surabaya tersebut ambruk dengan bersimbah darah, dan gugur. Namun sebelum ajal menjemput, konon Adipati Sawunggaling sempat melontarkan sumpah kutukan kepada Kompeni Belanda.

Bahwa saat ini dirinya memang kalah dalam jumlah pasukan dan persenjataan . "Namun kelak bila saatnya tiba, bila ada petarung-petarung berbadan pendek (katai), berkulit kuning, berasal dari arah timur laut dan jumlahnya berlaksa-laksa, saat itulah akan datang kembali dan membalas perbuatan kalian".
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Museum ITB Diresmikan,...
Museum ITB Diresmikan, Ruang Baru Membaca Masa Lalu dan Merajut Masa Depan
Prabowo: Indonesia Berada...
Prabowo: Indonesia Berada pada Persimpangan Sejarah, di Tengah Konflik Dunia
Permukiman Prasejarah...
Permukiman Prasejarah Ditemukan di Gurun Yordania
Rekomendasi
Serangan AS ke Iran...
Serangan AS ke Iran Tak Punya Strategi, Apakah Trump Sudah Putus Asa?
Mahfud MD Ungkap Alasan...
Mahfud MD Ungkap Alasan KPK Harus Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah, Singgung Asas Konflik Kepentingan
10 Pemain Tercepat di...
10 Pemain Tercepat di Piala Dunia 2026: Mbappe Top Sprinter Kalahkan Haaland
Berita Terkini
PSN Papua Perkuat Pemerataan...
PSN Papua Perkuat Pemerataan Pembangunan Indonesia
Bangun Harapan dari...
Bangun Harapan dari Wilayah 3T, PNM Peduli Tingkatkan Fasilitas SD Inpres Wae Moto
Di Kongres Nasional...
Di Kongres Nasional PMKRI, Sudirman Said Ajak Mahasiswa Bangun Kepemimpinan Intrinsik
PASTI INDONESIA Dampingi...
PASTI INDONESIA Dampingi Praperadilan dan Ajukan Penangguhan Penahanan Babe Aldo
Kapal Basarnas Terbakar...
Kapal Basarnas Terbakar di Muara Baru, 14 Unit dan 70 Personel Damkar Dikerahkan
Refly Harun Dampingi...
Refly Harun Dampingi Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus di PN Jakpus
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved