Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Cerita Pagi

Cerita Tentang Pecel Blitar, Bung Karno, dan Revolusi Makanan Rakyat

loading...
Cerita Tentang Pecel Blitar, Bung Karno, dan Revolusi Makanan Rakyat
Bung Karno. Foto/Repro/SINDOnews/Solichan Arif
BLITAR - Bung Karno yang lahir pada 6 Juni 1901, sangat menggilai nasi pecel Blitar. Guntur, putra sulung Bung Karno hafal kebiasaan itu. Kalau sudah disanding pecel Blitar, Guntur melukiskan bapaknya akan memilih anteng. Emoh beranjak ke mana-mana.

Baca juga: Rayakan Ulang Tahun Bung Karno, Perupa Blitar Kumpul di Istana Gebang

"Nasi pecel dari Blitar. Wah kalau bapak sedang menikmati, walaupun yang namanya Revolusi Indonesia berhenti, pasti bapak tidak akan ambil pusing," tulis Guntur Soekarno Putra dalam buku " Bung Karno & Kesayangannnya".





Pecel merupakan salah satu kuliner khas daerah Blitar . Dibanding pecel lain, bumbu kacang Blitar lebih manis, gurih, sekaligus pedas. Di luar pecel, ada kuliner Iwak Uceng, sayur Blendi, Pecel Punten, Es Plered, Es Drop, jajanan Wajik Kletik dan masih banyak lainnya.

Baca juga: Kisah Sawito, Lelaki Blitar yang Ditangkap Kaki Tangan Soeharto Atas Tuduhan Makar

Saat itu tahun 50-an. Favorit Bung Karno adalah pecel racikan Mbok Rah. Seorang pedagang pecel keliling di Kota Blitar, yang usianya terpaut 5-10 tahun lebih tua dari Bung Karno . Untuk sekali santap, 2-3 pincuk nasi pecel buatan Mbok Rah bisa ludes seketika.

Itu dilakukan Bung Karno setiap bangun pagi, sebelum cuci muka atau mandi, ataupun gosok gigi. "Menurut bapak, hal inilah yang justru membuat makan nasi pecel terasa lebih afdol," kata Guntur. Saking gandrungnya sama pecel, setiap tiga bulan sekali memesan pecel Mbok Rah untuk dibawa ke Jakarta.

Setiap Bung Karno melakukan lawatan ke luar negeri, Pecel Blitar Mbok Rah juga tidak pernah lupa. Bahkan saat berkunjung ke Mongolia. Bung Karno memilih mengolesi roti dengan sambel pecel dari pada dengan susu kuda. "Di sana setiap harinya bapak selalu makan roti dengan sambel pecel saja. Kadang-kadang juga dengan kecap," kata Guntur.

Baca juga: Kisah Lamajang Tigang Juru, Kerajaan di Selatan Mahameru yang Menggetarkan Majapahit



Sebetulnya bukan hanya Pecel. Bung Karno mencintai seluruh kuliner nusantara. Kecintaanya pada makanan tradisional Indonesia membuatnya gusar saat para perempuan di kabinetnya selalu menyuguhinya makanan Eropa. Kegusaran itu diungkapkan Bung Karno saat wawancara dengan jurnalis asing Cindy Adam.

Bung Karno mengatakan, "Sampai sekarang orang Indonesia masih terbawa-bawa oleh sifat rendah diri, yang masih saja mereka pegang teguh secara tidak sadar. Hal ini menyebabkan kemarahanku baru-baru ini".

Ia menjelaskan, "Wanita-wanita dari kabinetku selalu menyediakan jualan makanan Eropa . Kita mempunyai penganan enak kepunyaan kita sendiri, kataku dengan marah. Mengapa tidak itu saja dihidangkan?".
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top