Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Banyak Masalah, Wakil Rakyat Tolak Perluasan Bisnis Susu PT Greenfields di Blitar

loading...
Banyak Masalah, Wakil Rakyat Tolak Perluasan Bisnis Susu PT Greenfields di Blitar
Perluasan peternakan sapi PT Greenfields Indonesia yang mengancam menggusur ratusan warga Desa Sumberurip, dilaporkan ke Komnas HAM. Foto/SINDOnews/Solichan Arif
BLITAR - Perluasan bisnis peternakan sapi PT Greenfields Indonesia di Desa Sumberurip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, mendapat sorotan kalangan DPRD. Legislatif menolak perluasan bisnis PT Greenfields selama sengketa dengan warga setempat, tidak tuntas. DPRD juga meminta Bupati Blitar, tidak berpangku tangan .

Baca juga: Ancam Gusur Ratusan Warga, Perluasan PT Greenfields di Blitar Dilaporkan Komnas HAM

"Kalau persoalan dengan masyarakat tidak tuntas, kami tegas menolak . Kami juga meminta Bupati Blitar turun tangan menyelesaikan masalah ini," ujar Anggota DPRD Kabupaten Blitar, Wasis Kunto Atmojo kepada SINDOnews.





PT Greenfields Indonesia berancang-ancang melebarkan bisnisnya . Perusahaan ini merupakan anak usaha JAPFA group, dan bergerak di bidang produksi susu. Produk PT Greenfields diekspor ke Singapura, Hongkong, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Baca juga: Positif COVID-19, Penumpang Pesawat Ini Lolos Terbang Dari Semarang ke Pangkalan Bun

Sukses mendirikan Farm 1 (peternakan sapi perah) di wilayah Kabupaten Malang, dan Farm 2 di wilayah Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Greenfields meluaskan investasi di wilayah Desa Sumberurip, Kecamatan Doko.

Sebanyak 20 ribu ekor sapi perah disiapkan menghuni Farm 3. Peternakan sapi perah tersebut akan berdiri di atas tanah bekas lahan perkebunan cengkeh . Luasnya 467 hektar. Saat ini dokumen hak guna usaha (HGU) telah beralih ke PT Greenfields Indonesia. Sebelumnya HGU dipegang PT Sari Bumi Kawi (PT SBK). Yakni perusahaan pengolahan cengkeh dan teh.

Baca juga: Hadapi Lebaran, BBPJN Kebut Perbaikan Jalan Dalam Kota Palembang

Dokumen Izin Peralihan Hak (IPH) yang menjadi dasar penerbitan izin lain, yakni termasuk amdal, masih dalam proses di Jakarta. Sementara dengan berdirinya Farm 3 di Doko, sebanyak 120 jiwa yang terdiri dari 40 KK (kepala keluarga) dipaksa angkat kaki. Mereka adalah warga Dusun Telogo Gentong, dan Telogo Mas. Sampai saat ini warga yang mayoritas menggantungkan hidup sebagai buruh perkebunan , tetap bertahan.



Warga bersedia meninggalkan lokasi asal ada ganti untung berupa tempat tinggal serta lahan pertanian yang layak. "Sebelum memulai perluasan investasinya, masalah yang menyangkut hajat hidup warga ini harus selesai dulu," tegas Wasis.

Baca juga: Pria Lansia di Manado Ditemukan Istrinya Tewas Tertelungkup di Dapur

Sebagai wakil rakyat, Wasis memiliki catatan tersendiri pada PT Greenfields. Terutama di Farm 2 wilayah Kecamatan Wlingi. Ada catatan hitam soal pengolahan limbah. Kotoran sapi yang tidak diolah dengan baik itu sempat mencemari sungai.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top