Cerita Pagi

Kisah Candi dan Benteng Kuno Lamuri yang Menjadi Masjid

loading...
Kisah Candi dan Benteng Kuno Lamuri yang Menjadi Masjid
Masjid Tuha Indrapuri masih berdiri kokoh sejak dibangun masehi, yang terletak di Kabupaten Aceh Besar, masjid ini merupakan satu dari sejumlah peradaban Islam di Tanah Rencong, dulunya masjid ini adalah candi yang berupah fungsi menjadi masjid. Foto: iNe
Masjid Tuha Indrapuri yang terletak di Kabupaten Aceh Besar merupakan satu dari sejumlah peradaban islam di Tanah Rencong, pasalnya masjid bertingkat tiga ini dibangun atas bangunan candi yang sebelumnya dijadikan sebagai pura sekaligus benteng Kerajaan Hindu Lamuri.

Hingga kini, Masjid Tuha yang terletak di Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar masih berdiri kokoh di usianya yang sudah ratusan tahun.

Kisah Candi dan Benteng Kuno Lamuri yang Menjadi Masjid

Baca juga: Kisah Syech Hang Sanah, Ahli Taktik dan Strategi Perang dari Kerajaan China

Saat memasuki kawasan masjid, Anda akan disuguhkan pemandangan rimbunnya pepohonan serta kokohnya dinding benteng bersegi empat dengan atap mengerucut, merupakan ciri khas masjid kala itu yang masih dipengaruhi budaya hindu.

Setelah menaiki belasan anak tangga sebelum tiba ke serambi masjid, maka para pengunjung akan disambut dua kolam di bagian depan dan airnya digunakan untuk membasuh kaki para jamaah yang hendak melaksanakan ibadah salat.



Bangunan utama masjid ini berkontruksi kayu dengan dinding beton serta disangga oleh tiang tiang kayu yang masih kokoh hingga sekarang.

Dari cerita turun temurun masjid kuno ini sebelumnya merupakan bekas candi atau kuil yang dibangun oleh masyarakat hindu yang berasal dari India, yang menetap di Aceh sekitar tahun 604 masehi.

Kisah Candi dan Benteng Kuno Lamuri yang Menjadi Masjid

Baca juga: Masjid Cheng Ho, Seperti Pagoda dan Filosofi Kakbah serta Perjalanan Wali Songo

Di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, bangunan candi itu dihancurkan serta dialihfungsikan untuk masjid.

Saat pembangunan masjid, Sultan Iskandar Muda mamasang 36 tiang penyangga bersama penopang atap. Dari tiang tersebut masih terlihat beragam bentuk ukiran khas masa kerajaan kuno. Disamping itu bentuk atap masjid ini menyerupai piramida dengan empat atap dari bawah hingga paling pucuk. Atap berbentuk piramida itu merupakan ciri khas masjid-masjid tradisional di Aceh.



Disebut-sebut empat tingkat ini memiliki makna khusus dalam dunia keislaman. Empat tingkat atap melambangkan empat tingkatan ilmu Islam, mulai syariat, tarekat, hakikat dan makrifat.

“Dulunya, benteng ini adalah kerajaan Hindu, umat Hindu yang berasal dari India yang lari ke Aceh dan diterima masyarakat Aceh, saat itu, didirikanlah 3 benteng yang juga dijadikan kerajaan, satu di antaranya, disini (Tuha) yang menjadi tempatnya ratu kala itu,” tutur Penjaga Masjid Tuha, Iswando.

Saat islam masuk di Aceh sekitar abad ke 7, yang kemudian menjadi pesat sehingga banyak umat Hindu kala itu yang masuk Islam. “Memasuki abad 12, Islam di Aceh sudah berkembang dan dibangunlah Masjid Raya Aceh yang pertama,” ujarnya.
Kisah Candi dan Benteng Kuno Lamuri yang Menjadi Masjid

Baca juga: Jejak Sunan Kalijaga di Bukit Surowiti Gresik
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top