Kisah Profesor Sardjito dan Vaksin Temuannya
Sabtu, 18 April 2020 - 21:17 WIB
loading...
Prof Dr Sardjito menemukan sejumlah obat dan vaksin penyakit selama masa hidupnya. FOTO/Setpres/Biro Pers
A
A
A
DI TENGAHpandemi virus corona jenis baru, Covid-19 seperti sekarang ini, kita sangat berharap sosok ilmuwan seperti Prof Dr Sardjito kembali muncul di Indonesia. Berkat dedikasinya yang tinggi di bidang kesehatan, dokter yang bergelar doktor itu menemukan obat untuk sejumlah penyakit yang mewabah di zamannya.
Ya, Sardjito yang dimaksud adalah Pahlawan Nasional yang juga Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) pertama (1950-1961). Namanya disematkan pada rumah sakit ternama di Yogyakarta, RSUP Dr Sardjito yang kini menjadi rujukan utama penanganan pasien Covid-19. Pendirian rumah sakit ini merupakan idenya yang diwujudkan pemerintah di tahun yang sama ketika Sardjito wafat pada 1970.
Dalam tulisan Rara Widuri (2015) berjudul Sebuah Biografi Intelektual 1923-1970, Sardjito lahir di Desa Purwodadi, Magetan, Jawa Timur pada 13 Agustus 1888. Namun sumber lain menyebutkan, putra dari seorang guru bernama Mohammad Sajid tersebut lahir pada tanggal sama 1889.
Sardjito cukup beruntung bisa mengenyam pendidikan formal di sekolah Belanda di Lumajang (1901-1907). Selepas itu, dia melanjutkan pendidikan di School tot Opleiding voor Indische Artsen (STOVIA) Jakarta, dan berhasil lulus pada 1915.
Lulus dari STOVIA, Sardjito kemudian diangkat menjadi dokter dinas kesehatan kota (Burgerlijke Geneeskundige Dienst) di Batavia. Dia kemudian bekerja di Pasteur Instituut. Waktu itu, kantor ini masih berada di Batavia, baru pindah ke Bandung pada 1923. Di lembaga ini, Sardjito melakukan riset pertamanya soal influenza selama setahun (1918-1919). Influenza saat itu merupakan salah satu penyakit mematikan dan momok menakutkan bagi masyarakat.
Ya, Sardjito yang dimaksud adalah Pahlawan Nasional yang juga Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) pertama (1950-1961). Namanya disematkan pada rumah sakit ternama di Yogyakarta, RSUP Dr Sardjito yang kini menjadi rujukan utama penanganan pasien Covid-19. Pendirian rumah sakit ini merupakan idenya yang diwujudkan pemerintah di tahun yang sama ketika Sardjito wafat pada 1970.
Dalam tulisan Rara Widuri (2015) berjudul Sebuah Biografi Intelektual 1923-1970, Sardjito lahir di Desa Purwodadi, Magetan, Jawa Timur pada 13 Agustus 1888. Namun sumber lain menyebutkan, putra dari seorang guru bernama Mohammad Sajid tersebut lahir pada tanggal sama 1889.
Sardjito cukup beruntung bisa mengenyam pendidikan formal di sekolah Belanda di Lumajang (1901-1907). Selepas itu, dia melanjutkan pendidikan di School tot Opleiding voor Indische Artsen (STOVIA) Jakarta, dan berhasil lulus pada 1915.
Lulus dari STOVIA, Sardjito kemudian diangkat menjadi dokter dinas kesehatan kota (Burgerlijke Geneeskundige Dienst) di Batavia. Dia kemudian bekerja di Pasteur Instituut. Waktu itu, kantor ini masih berada di Batavia, baru pindah ke Bandung pada 1923. Di lembaga ini, Sardjito melakukan riset pertamanya soal influenza selama setahun (1918-1919). Influenza saat itu merupakan salah satu penyakit mematikan dan momok menakutkan bagi masyarakat.
Lihat Juga :