Harga Kedelai Selangit, Produsen Tahu dan Tempe di Pasuruan Menjerit
Minggu, 03 Januari 2021 - 07:50 WIB
loading...
Produsen tempe di Kabupaten Pasuruan, mengeluhkan tingginya harga kedelai. Foto/iNews TV/Jaka Samudera
A
A
A
PASURUAN - Kenaikan harga kedelai yang sangat tinggi, membuat produsen tahu dan tempe di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menjerit. Untuk menyiasati kondisi tersebut, mereka terpaksa mengurangi bahan baku produksi dan ukurannya.
(Baca juga: Kementan Bongkar Penyebab Kedelai Lokal Langka )
Sejumlah pengrajin tahu dan tempe di Desa Pacarkeling, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, mengeluh tingginya harga kedelai yang terjadi sejak dua bulan terakhir. Kondisi ini membuat mereka kesulitan menjual tahu dan tempe dengan harga tinggi.
" Harga kedelai sudah mencapai Rp9.050/kg. Biasanya harga normalnya mencapai Rp4.500/kg. Kondisi ini membuat kami kesulitan untuk mendapatkan keuntungan, karena harga tempe juga tidak bisa dinaikkan terlalu tinggi, dampaknya sepi pembeli," ujar produsen tempe, Fadilah.
Dia mengaku, kini harus menyiasati naiknya harga kedelai tersebut dengan cara mengurangi ukuran tempe, agar harga jualnya tidak naik. "Sejak ada pandemi COVID-19, daya beli masyarakat juga menurun. Omzet kami turun 50% dari kondisi normal," tuturnya.
Sebelum harga kedelai mengalami kenaikan, dia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp400 ribu/hari. Kini untuk mendapatkan omzet Rp250 ribu/hari sudah sulit. Kondisi ini akan semakin memberatkan keberlangsungan usaha tempenya.
(Baca juga: Kementan Bongkar Penyebab Kedelai Lokal Langka )
Sejumlah pengrajin tahu dan tempe di Desa Pacarkeling, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, mengeluh tingginya harga kedelai yang terjadi sejak dua bulan terakhir. Kondisi ini membuat mereka kesulitan menjual tahu dan tempe dengan harga tinggi.
" Harga kedelai sudah mencapai Rp9.050/kg. Biasanya harga normalnya mencapai Rp4.500/kg. Kondisi ini membuat kami kesulitan untuk mendapatkan keuntungan, karena harga tempe juga tidak bisa dinaikkan terlalu tinggi, dampaknya sepi pembeli," ujar produsen tempe, Fadilah.
Dia mengaku, kini harus menyiasati naiknya harga kedelai tersebut dengan cara mengurangi ukuran tempe, agar harga jualnya tidak naik. "Sejak ada pandemi COVID-19, daya beli masyarakat juga menurun. Omzet kami turun 50% dari kondisi normal," tuturnya.
Sebelum harga kedelai mengalami kenaikan, dia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp400 ribu/hari. Kini untuk mendapatkan omzet Rp250 ribu/hari sudah sulit. Kondisi ini akan semakin memberatkan keberlangsungan usaha tempenya.
Lihat Juga :