Cerita Pagi

KH Anwar Musaddad, Ulama Besar yang Kerap Merepotkan Pasukan Belanda

loading...
Yies Sa'diyah dalam bukunya, Biografi Prof KH Anwar Musaddad menyebutkan bahwa saat berusia 32 tahun, Musaddad menerima pendidikan militer dalam program kemiliteran yang digagas Pemerintah Jepang. Program tersebut sengaja digelar untuk melatih warga pribumi dalam upaya mengantisipasi kedatangan pasukan sekutu.

Alih-alih untuk kepentingan Pemerintah Jepang, Musaddad malah memanfaatkan ilmu kemiliteran, termasuk strategi berperang yang diperolehnya itu untuk membangkitkan semangat perlawanan terhadap perjuangan melawan pendudukan Jepang.

Melalui dakwah, Musaddad pun mulai memobilisasi guru, ulama, pandu, pedagang, hingga petani dalam upayanya membangun semangat perjuangan untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Para pemuda pun kemudian dikumpulkan untuk mendapatkan pelatihan militer hingga akhirnya terbentuk sebuah pasukan yang dinamai Hizbullah.

Kala Jepang bertekuk lutut kepada tentara sekutu menjelang proklamasi kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, Musaddad langsung menunjukkan perannya sebagai pejuang ulung dengan strategi berperang yang telah dikuasainya.

Hal itu dia lakukan menyusul informasi bahwa Belanda akan kembali menjajah Indonesia dengan menumpang pasukan sekutu. Kembalinya pasukan Belanda diketahui menjadi pemicu pertempuran di Surabaya, 10 November 1945 yang akhirnya diperingati sebagai Hari Pahlawan dan pembumihangusan Bandung yang dikenal dengan peristiwa Bandung Lautan Api, 23 Maret 1946.

Meski sempat dirawat di rumah sakit pascaterjatuh dari sepeda motor saat proklamasi dikumandangkan, pasca pulih, Musaddad langsung terlibat pertempuran dengan pasukan Belanda yang hendak kembali menjajah Indonesia kala itu. Bersama KH Mustofa Kamil dan KH Yusuf Tauziri, ulama besar lainnya di Garut, Musaddad memberikan perlawanan sengit dalam pertempuran di Garut.

Dengan dukungan sekitar 200 pemuda terlatih yang tergabung dalam pasukan Hizbullah, pertempuran demi pertempuran berhasil dimenangkan, seperti saat melawan Gurkha, pasukan tentara Inggris yang diisi orang-orang dari India.

Pasukan Hizbullah menerapkan strategi berperang sporadis yang kerap merepotkan pasukan Belanda dan sekutunya itu. Kisah heroik pasukan Hizbullah pun akhirnya terdengar ke seantero negeri hingga sampai di telinga Bung Tomo, pemimpin pergerakan Arek-arek Suroboyo.

Bahkan, Bung Tomo pun mengagumi aksi heroik tersebut hingga dirinya mengajak pasukan Hizbullah untuk bergabung melawan pasukan Belanda di Surabaya. Keinginan Bung Tomo pun akhirnya dikabulkan, dipimpin KH Mustofa Kamil, satu peleton barisan Hizbullah berangkat ke Surabaya dan bertempur hingga KH Mustofa Kamil gugur dalam pertempuran tersebut.

Musaddad dan KH Yusuf Tauziri sendiri akhirnya ditangkap pasukan Belanda pada 1948 dan mendekam di penjara. Keduanya baru dibebaskan setelah pengakuan kedaulatan kemerdekaan RI pada 1950 hingga keduanya kembali ke Pesantren Cipari di Garut sebagai markas perjuangan barunya.
halaman ke-2 dari 4
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top