Dukung Energi Terbarukan, Kemenristek Apresiasi Inovasi Biofuel dari Minyak Sawit
Kamis, 10 September 2020 - 09:16 WIB
loading...
Menristek/BRIN Bambang Brodjonegoro. (Foto/Ist)
A
A
A
JAKARTA - Kemenristek atau Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus berkomitmen mengembangkan inovasi bahan bakar biofuel berbahan minyak kelapa sawit .
Salah satunya dengan penandatangan kerjasama dengan Bupati Banyuasin , Sumatera Selatan dan Bupati Pelalawan, Provinsi Riau. Kerjasama tersebut dapat menjamin stabilitas harga kelapa sawit tidak melambung walaupun sedang dipersiapkan sebagai bahan bakar energi alternatif.
“Ada 26 provinsi yang di wilayahnya punya banyak lahan kebun kelapa sawit rakyat. Jika pembinaan di daerah Banyuasin dan Pelalawan sudah selesai maka kami akan segera memulai kerjasama dengan provinsi lain. Jika seluruh provinsi sudah memiliki industri pengelolaan minyak kelapa sawit, maka cita cita Indonesia memiliki bahan bakar terbarukan akan segera terwujud,” ujar Plt Deputi Bidang Penguatan Inovasi Kemenristek/BRIN, Jumain Appe, Rabu (9/10/2020) malam. (BACA JUGA: Ribuan Rumah di Kota Padang Terendam Banjir)
Komitmen ini juga dipertegas lagi oleh Menristek/BRIN Bambang Brodjonegoro saat memberikan sambutan dalam Webinar The Development of Biofuels Indonesia - Brazil.
Kemenristek/ memberikan apresiasi terhadap kolaborasi ITB dan Pertamina dengan mengembangkan inovasi bahan bakar biofuel yang berbahan minyak sawit.
“Bahan bakar nabati berbasis sawit diprediksi akan menjadikan perekonomian Indonesia bergerak lebih cepat dan dapat meminimalisir dampak perlambatan ekonomi yang kini mulai melanda banyak negara di dunia. Oleh karena itu kita wajib memberikan apresiasi kepada para semua pihak yang terlibat dalam menelurkan inovasi tersebut,” ujar Bambang pada Rabu malam (09/09/2020).
Konsumsi bahan bakar dalam negeri mencapai 1.790.000 barrel perhari namun kini Pertamina dan ITB telah berhasil memproduksi green diesel D100 dari 100% Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) yang di-cracking menggunakan katalis merah putih hasil pengembangan ITB dan Pertamina dengan kelapa sawit berkapasitas 1.000 barel perhari.
Salah satunya dengan penandatangan kerjasama dengan Bupati Banyuasin , Sumatera Selatan dan Bupati Pelalawan, Provinsi Riau. Kerjasama tersebut dapat menjamin stabilitas harga kelapa sawit tidak melambung walaupun sedang dipersiapkan sebagai bahan bakar energi alternatif.
“Ada 26 provinsi yang di wilayahnya punya banyak lahan kebun kelapa sawit rakyat. Jika pembinaan di daerah Banyuasin dan Pelalawan sudah selesai maka kami akan segera memulai kerjasama dengan provinsi lain. Jika seluruh provinsi sudah memiliki industri pengelolaan minyak kelapa sawit, maka cita cita Indonesia memiliki bahan bakar terbarukan akan segera terwujud,” ujar Plt Deputi Bidang Penguatan Inovasi Kemenristek/BRIN, Jumain Appe, Rabu (9/10/2020) malam. (BACA JUGA: Ribuan Rumah di Kota Padang Terendam Banjir)
Komitmen ini juga dipertegas lagi oleh Menristek/BRIN Bambang Brodjonegoro saat memberikan sambutan dalam Webinar The Development of Biofuels Indonesia - Brazil.
Kemenristek/ memberikan apresiasi terhadap kolaborasi ITB dan Pertamina dengan mengembangkan inovasi bahan bakar biofuel yang berbahan minyak sawit.
“Bahan bakar nabati berbasis sawit diprediksi akan menjadikan perekonomian Indonesia bergerak lebih cepat dan dapat meminimalisir dampak perlambatan ekonomi yang kini mulai melanda banyak negara di dunia. Oleh karena itu kita wajib memberikan apresiasi kepada para semua pihak yang terlibat dalam menelurkan inovasi tersebut,” ujar Bambang pada Rabu malam (09/09/2020).
Konsumsi bahan bakar dalam negeri mencapai 1.790.000 barrel perhari namun kini Pertamina dan ITB telah berhasil memproduksi green diesel D100 dari 100% Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) yang di-cracking menggunakan katalis merah putih hasil pengembangan ITB dan Pertamina dengan kelapa sawit berkapasitas 1.000 barel perhari.
Lihat Juga :