Gelar Unjuk Rasa, Aliansi Masyarakat Cipayung Tolak Deklarasi KAMI di Bandung
Kamis, 03 September 2020 - 15:14 WIB
loading...
Caption: Aliansi Masyarakat Cipayung menolak keras rencana kegiatan Deklarasi di Kota Bandung melalui aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (3/9/2020). Foto/SINDOnews/Agung Bakti Sarasa
A
A
A
BANDUNG - Melalui aksi unjuk rasa, sekelompok masyarakat yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Cipayung menolak keras rencana kegiatan Deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) di Kota Bandung.
Mereka menilai, kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan konflik politik yang berujung pada perpecahan bangsa. Apalagi, kegiatan yang diprediksi bakal dihadiri ribuan orang itu digelar di tengah pandemi COVID-19 yang dikhawatirkan memunculkan klaster baru penularan COVID-19. Koordinator aksi, Sakuntala menegaskan, Deklarasi KAMI yang dibalut Peringatan HUT ke-75 Republik Indonesia (RI) itu hanyalah upaya untuk memecah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
"Peringatan Kemerdekaan RI yang seakan tidak dipandang sebagai hari yang sakral lagi. Semestinya, sebagai bangsa yang besar harus merayakan dengan suka cita dengan jalan mengevaluasi segala bentuk perpecahan dan konflik politik yang selalu larut dengan jabatan dan kekuasaan," tegas Sakuntala dalam aksinya di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (3/9/2020). (Baca: Deklarasi di Tugu Proklamasi, KAMI Nyatakan Dukung Kebijakan Pemerintah)
Apalagi, lanjut Sakuntala, di tengah kondisi pandemi COVID-19, para tokoh-tokoh besar bangsa yang terlibat, seperti Din Samsudin, Gatot Nurmantio, dan lainnya dapat memberikan semangat kebangsaan yang benar terhadap masyarakat.
"Seharusnya, tokoh bangsa ini bisa bahu-membahu dalam menyelesaikan problem permasalahan bangsa, salah satunya tetap menjaga protokol kesehatan. Situasi pandemi ini, termasuk peringatan HUT ke-75 RI adalah ajang untuk menyongsong Indonesia lebih baik lagi," paparnya.
Mereka menilai, kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan konflik politik yang berujung pada perpecahan bangsa. Apalagi, kegiatan yang diprediksi bakal dihadiri ribuan orang itu digelar di tengah pandemi COVID-19 yang dikhawatirkan memunculkan klaster baru penularan COVID-19. Koordinator aksi, Sakuntala menegaskan, Deklarasi KAMI yang dibalut Peringatan HUT ke-75 Republik Indonesia (RI) itu hanyalah upaya untuk memecah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
"Peringatan Kemerdekaan RI yang seakan tidak dipandang sebagai hari yang sakral lagi. Semestinya, sebagai bangsa yang besar harus merayakan dengan suka cita dengan jalan mengevaluasi segala bentuk perpecahan dan konflik politik yang selalu larut dengan jabatan dan kekuasaan," tegas Sakuntala dalam aksinya di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (3/9/2020). (Baca: Deklarasi di Tugu Proklamasi, KAMI Nyatakan Dukung Kebijakan Pemerintah)
Apalagi, lanjut Sakuntala, di tengah kondisi pandemi COVID-19, para tokoh-tokoh besar bangsa yang terlibat, seperti Din Samsudin, Gatot Nurmantio, dan lainnya dapat memberikan semangat kebangsaan yang benar terhadap masyarakat.
"Seharusnya, tokoh bangsa ini bisa bahu-membahu dalam menyelesaikan problem permasalahan bangsa, salah satunya tetap menjaga protokol kesehatan. Situasi pandemi ini, termasuk peringatan HUT ke-75 RI adalah ajang untuk menyongsong Indonesia lebih baik lagi," paparnya.
Lihat Juga :