Kisah Jenderal Soemitro, Tentara Kesayangan Soeharto dari Ramalan Boneka Jailangkung
Jum'at, 03 Mei 2024 - 06:47 WIB
loading...
Pangkopkamtib Jenderal TNI Soemitro ketika mengunjungi Pulau Buru pada Oktober 1973. Foto Repro/Istimewa
A
A
A
Jenderal Soemitro salah satu tokoh militer sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia. Dalam riwayatnya, jenderal asal Probolinggo ini pernah menjadi Wakil Panglima ABRI hingga Pangkopkamtib.
Salah satu jenderal kesayangan Presiden Soeharto ini punya kisah unik di masa kecil saat sering bermain boneka jailangkung bersama teman-temannya. Isyarat yang muncul dari permainan itu ternyata berhasil menjadikannya seorang Jenderal TNI.
Kisah tersebut disampaikannya dalam buku berjudul “Soemitro: dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkamtib” karya Ramadhan K.H. Riwayat perjalanan hidupnya berawal saat dirinya menginjak usia 15 tahun.
Saat itu, Soemitro sejatinya memiliki sebuah cita-cita untuk menjadi seorang insinyur. Namun, secara tiba-tiba impiannya tersebut segera berubah setelah dirinya bermain jailangkung bersama temannya yang bernama Gatot Supangkat.
Baca Juga: Kisah Jenderal Gatot Subroto, Perisai Hidup Soekarno Pemberi Julukan Monyet ke Soeharto
Layaknya permainan jailangkung yang umum diketahui, Soemitro pun menanyakan sesuatu kepada boneka Jailangkung. Dalam hal ini, pertanyaan pertama yang diberikan adalah terkait keadaan dirinya di masa depan akan menjadi apa.
Singkatnya, jailangkung menjawabnya dengan menunjuk masing-masing huruf M, A, J, O, R. Hal itu membuat Soemitro kecil terkejut. Namun, Pada akhirnya, Soemitro benar benar menjadi seorang tentara hingga akhir hayatnya.
“Namanya garis hidup, saya betul-betul jadi tentara,” ucap Jenderal Soemitro dalam buku Soemitro: dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkamtib karya Ramadhan K. H sebagaimana dikutip SINDOnews.
Setelahnya, Soemitro bergabung bersama Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk oleh Jepang. Seiring perjalanan hidupnya, Soemitro justru memiliki karier moncer di militer Indonesia. Tercatat, bahkan pangkat bintang 4 (Jenderal TNI) berhasil disematnya.
Baca Juga: Kisah Rakai Pikatan, Raja Mataram Kuno Pembuat Mahakarya Candi Prambanan
Soemitro lahir di Probolinggo, Jawa Timur pada 13 Januari 1927. Pada masa kecilnya, dia pernah belajar di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Setelahnya, dia melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan berhasil lulus pada 1944.
Kemudian, Soemitro bergabung sebagai tentara sukarela di Pembela Tanah Air alias PETA. Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, dia juga turut beralih menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang nantinya menjadi cikal bakal TNI.
Selepas sekolah menengah pertama, Soemitro mendaftar sebagai tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Waktu itu, satuan militer bentukan Jepang membuka lowongan sebagai prajurit pembantu.
Soemitro diterima dan diberangkatkan ke Bogor, Jawa Barat untuk mengikuti pendidikan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 1945, seperti kebanyakan tentara PETA, Soemitro bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal TNI.
Baca Juga: Perjanjian Giyanti Pecah Pusaka Kesultanan Mataram ke Surakarta dan Yogyakarta
Saat Agresi Belanda II, Soemitro menjabat sebagai Wakil Komandan Sub-Wehkreise di Malang. Dia sukses melakukan perang wingate atau perang gerilya sesuai instruksi Panglima Komando Jawa, Kolonel Nasution, untuk mengamankan wilayahnya.
Sadar pendidikan mendukung karier di militer, pada 1952, Soemitro masuk Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung, Jawa Barat.
Salah satu jenderal kesayangan Presiden Soeharto ini punya kisah unik di masa kecil saat sering bermain boneka jailangkung bersama teman-temannya. Isyarat yang muncul dari permainan itu ternyata berhasil menjadikannya seorang Jenderal TNI.
Kisah tersebut disampaikannya dalam buku berjudul “Soemitro: dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkamtib” karya Ramadhan K.H. Riwayat perjalanan hidupnya berawal saat dirinya menginjak usia 15 tahun.
Saat itu, Soemitro sejatinya memiliki sebuah cita-cita untuk menjadi seorang insinyur. Namun, secara tiba-tiba impiannya tersebut segera berubah setelah dirinya bermain jailangkung bersama temannya yang bernama Gatot Supangkat.
Baca Juga: Kisah Jenderal Gatot Subroto, Perisai Hidup Soekarno Pemberi Julukan Monyet ke Soeharto
Layaknya permainan jailangkung yang umum diketahui, Soemitro pun menanyakan sesuatu kepada boneka Jailangkung. Dalam hal ini, pertanyaan pertama yang diberikan adalah terkait keadaan dirinya di masa depan akan menjadi apa.
Singkatnya, jailangkung menjawabnya dengan menunjuk masing-masing huruf M, A, J, O, R. Hal itu membuat Soemitro kecil terkejut. Namun, Pada akhirnya, Soemitro benar benar menjadi seorang tentara hingga akhir hayatnya.
“Namanya garis hidup, saya betul-betul jadi tentara,” ucap Jenderal Soemitro dalam buku Soemitro: dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkamtib karya Ramadhan K. H sebagaimana dikutip SINDOnews.
Setelahnya, Soemitro bergabung bersama Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk oleh Jepang. Seiring perjalanan hidupnya, Soemitro justru memiliki karier moncer di militer Indonesia. Tercatat, bahkan pangkat bintang 4 (Jenderal TNI) berhasil disematnya.
Baca Juga: Kisah Rakai Pikatan, Raja Mataram Kuno Pembuat Mahakarya Candi Prambanan
Soemitro lahir di Probolinggo, Jawa Timur pada 13 Januari 1927. Pada masa kecilnya, dia pernah belajar di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Setelahnya, dia melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan berhasil lulus pada 1944.
Kemudian, Soemitro bergabung sebagai tentara sukarela di Pembela Tanah Air alias PETA. Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, dia juga turut beralih menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang nantinya menjadi cikal bakal TNI.
Selepas sekolah menengah pertama, Soemitro mendaftar sebagai tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Waktu itu, satuan militer bentukan Jepang membuka lowongan sebagai prajurit pembantu.
Soemitro diterima dan diberangkatkan ke Bogor, Jawa Barat untuk mengikuti pendidikan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 1945, seperti kebanyakan tentara PETA, Soemitro bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal TNI.
Baca Juga: Perjanjian Giyanti Pecah Pusaka Kesultanan Mataram ke Surakarta dan Yogyakarta
Saat Agresi Belanda II, Soemitro menjabat sebagai Wakil Komandan Sub-Wehkreise di Malang. Dia sukses melakukan perang wingate atau perang gerilya sesuai instruksi Panglima Komando Jawa, Kolonel Nasution, untuk mengamankan wilayahnya.
Sadar pendidikan mendukung karier di militer, pada 1952, Soemitro masuk Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung, Jawa Barat.
Lihat Juga :