Cerita Pagi

Karomah Pusaka Sunan Kalijaga, Rompi Ontokusumo dan Keris Kiai Carubuk

loading...
Karomah Pusaka Sunan Kalijaga, Rompi Ontokusumo dan Keris Kiai Carubuk
Tradisi jamasan dua pusaka Sunan Kalijaga Rompi Ontokusumo dan Keris Kiai Carubuk di Demak, Jumat (31/7/2020) lalu. Foto-foto iNews TV/Sukmawijaya
A+ A-
Sunan Kalijaga terkenal sebagai salah satu sembilan wali yang memiliki ilmu kanuragan dan ilmu bathin yang tinggi sebagai karomah yang diberikan Allah SWT. Ada dua pusaka milik Sunan Kalijaga yang diyakini karomahnya hingga kini yaitu Rompi Ontokusumo dan Keris Kiai Carubuk. (Baca: Sunan Kalijaga, Nyai Ratu Kidul dan Kisah Rompi Ontokusumo)
Karomah Pusaka Sunan Kalijaga, Rompi Ontokusumo dan Keris Kiai Carubuk

Kedua pusaka tersebut tetap disimpan anak cucu keturunan Sunan Kalijaga hingga kini. Bahkan setiap setiap hari raya Idul Adha atau 10 Dzulhijah kedua pusaka tersebut dimandikan atau dijamas (jamasan). Tradisi ini tetap dilakukan sesuai wasiat Sunan Kalijaga terhadap keturunannya.

Pelaksana Tugas Panembahan Kadilangu Raden Krisnaidi mengatakan, penjamasan Pusaka Sunan Kalijaga wajib dilakukan walaupun ada PSBB . “Tradisi jamasan dua pusaka tersebut adalah wasiat keramat dari Sunan Kalijaga sebelum meninggal,” katanya kepada wartawan iNews TV, Sukmawijaya di Demak, Jumat (31/7/2020) lalu saat Idul Adha 1441 H.
Karomah Pusaka Sunan Kalijaga, Rompi Ontokusumo dan Keris Kiai Carubuk

“Sebelum meninggal Sunan Kalijaga sempat berpesan, sak lungone sun rumato pusaka iku. Ojo wani ngulingani dapor miwah tangguhe. Yen nganti surup mesti ngeno popo tanpo netro, wasiat yang berarti setelah kepergian Sunan agar keturunannya merawat pusaka itu. Namun dilarang untuk melihat pusaka itu kalau tidak ingin terkena musibah mata menjadi buta,” timpalnya.

Saat menjamas, kata dia, seluruh tim dilarang melihat pusaka tersebut dengan mata terbuka. Dimana saat menjamas mereka hanya diperbolehkan merendam tangannya ke dalam bokor minyak jamas. Selanjutnya melumasi kedua pusaka dengan kedua tangannya. (Baca juga: Panti Pijat Digerebek, Sejumlah Terapis Cantik Dipulangkan ke Kampung)

Konon Rompi Ontokusumo dibuat dari kulit kambing yang dirajah oleh Sunan Bonang. Kisahnya dimulai saat wabah penyakit merajalela di wilayah Pantai Selatan yang ditimbulkan oleh Kanjeng Nyai Ratu Kidul.

Dimana pagebluk yang ditimbulkan oleh kejahatan Nyai Ratu Kidul tersebut merenggut jiwa siapa saja. Melihat kenyataan ini, Sunan Kalijaga lalu mencoba melawan wabah penyakit yang diciptakan Kanjeng Nyai Ratu Kidul.



Lalu Sunan Kalijaga bertarung dengan Kanjeng Ratu Kidul tersebut, namun sang wali mengalami kekalahan. Setelah kekalahan itu, Sunan Kalijaga mendapat wangsit atau petunjuk yang mengatakan, untuk mengalahkan Kanjeng Nyai Ratu Kidul, Sunan Kalijaga harus menghatamkan Alquran.

Lalu sang sunan menghatamkan Alquran di Masjid Demak dengan disaksikan beberapa anggota Wali Songo lainnya. Konon setelah usai menjalankan salat subuh berjamaah para Wali Songo menemukan kulit kambing pada hari Kamis Legi malam Jum’at Pahing.

Kulit kambing tersebut kemudian dibuat menjadi rompi dengan rajahan oleh Sunan Bonang. Rompi inilah yang kemudian disebut sebagai Rompi Ontokusumo.

Namun setelah selesai rompi ini terlalu sempit untuk dikenakan oleh Sunan Bonang. Lalu coba dikenakan oleh para wali songo lainnya tetapi tetap saja tak muat. Tapi saat Sunan Kalijaga mencoba mengenakannya rompi tersebut ternyata pas.

Rompi Ontokusumo sendiri kemudian diberikan ke Sunan Kalijaga. Ketika mengenakan rompi ini, Sunan Kalijaga menjadi lebih kuat. Kekuatan yang terkandung dalam Rompi Ontokusumo konon sangat luar biasa. Bahkan, para sunan pun tak dapat menyimpulkan secara pasti “cahaya” yang terkandung dalam rompi tersebut.



Berdasarkan cerita sejak saat itu Sunan Kalijaga selalu mengenakan rompi tersebut. Rompi ini pulalah yang menjadi tameng dalam pertempurannya menaklukan ratu pantai selatan, Nyai Roro Kidul. Sehingga akhirnya penguasa pantai selatan itu akhirnya memeluk Islam.

Sementara pusaka Kiai Carubuk dibuat oleh Empu Supa, yang tak lain adalah sahabat Suna Kalijaga sendiri.

Saat diminta tolong untuk membuatkan keris untuk Sang Sunan, Empu Supa terkaget-kaget karena konon bahan yang diberikan padanya hanyalah besi berukuran sebuah biji asam.

Meski hanya sebesar biji asam, besi yang diberikan sunan sebagai bahan kerisnya ternyata memiliki berat yang luar biasa, tak sesuai dengan besar dan ukurannya.

Singkat cerita, Empu Supa kemudian selesai mengerjakan tugasnya. Keris yang sudah jadi itu kemudian dia serahkan pada Sang Sunan. Oleh sang sunan, keris dengan 17 lekuk itu kemudian diberi nama Keris Kiai Carubuk.

Keris ini sangat ampuh dan diwariskan turun temurun. Keris ini bahkan dapat mengalahkan kesaktian keris setan kober yang dipunyai Arya Penangsang saat terjadi pemberontakan di Mataram. Wallahualam Bishawab

Sumber:
- kisahasalusul
- wikipedia dan diolah dari berbagai sumber
(sms)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top