Kisah Pilu Kematian Putri Tujuh yang Cantik Jelita dan Legenda Lahirnya Nama Kota Dumai
Senin, 25 Juli 2022 - 04:57 WIB
loading...
Legenda Putri Tujuh, yang dikaitkan dengan kelahiran Kota Dumai, Riau. Foto/Ist.
A
A
A
Umbut mari mayang diumbut
Mari diumbut di rumpun buluh
Jemput mari dayang dijemput
Mari dijemput turun bertujuh
Ketujuhnya berkain serong
Ketujuhnya bersubang gading
Ketujuhnya bersanggul sendeng
Ketujuhnya memakai pending
Sebuah lirik, yang menggambarkan kepiluan atas kematian tujuh putri cantik di tengah hutan. Lirik yang dikutip dari "Putri Tujuh: Asal Mula Nama Kota Dumai" dan diterbitkan melayuonline.com tersebut, menjadi kenangan pengorbanan Putri Tujuh.
Baca juga: Menikmati Wisata Air di Danau Bunga Tujuh
Legenda Putri Tujuh tersebut, terus berkembang menjadi cerita rakyat yang secara turun-temurun disampaikan melalui cerita lisan maupun tulisan. Kisah Putri Tujuh yang berakhir tragis ini, diyakini sebagai asal mula nama Kota Dumai, Riau.
Cerita ini berawal saat Dumai masih menjadi dusun nelayan yang sepi. Dusun tersebut berada di wilayah kerajaan Seri Bunga Tanjung, yang diperintah oleh seorang ratu, yakni Cik Sima.
Baca juga: Kisah Gundik dan Nyai Pribumi di Tangsi Tentara KNIL Masa Kolonial Belanda
Ratu Seri Bunga Tanjung tersebut, memiliki tujuh orang putri yang sangat cantik, dan dikenal sebagai Putri Tujuh. Dari ketujuh putri tersebut, Mayang Sari yang merupakan putri bungsu merupakan putri yang paling cantik.
Keindahan tubuh Putri Mayang Sari sangat mempesona, dengan wajah berseri bak rembulan. Selain itu kulitnya sangat halus selembut sutra. Alis putri cantik itu digambarkan seperti semut beriring, dan rambutnya yang ikal memanjang bagai mayang.
Saat ketujuh putri cantik itu asyik mandi di lubuk Sarang Umai, tidak menyadari ada yang mengintai. Pengintai para putri cantik yang sedang asyik berendam dan bersenda gurau, dengan suaranya yang merdu itu, adalah Pangeran Empang Kuala.
Pangeran Empang Kuala yang kebetulan lewat bersama para pengawalnya, sangat terpesona melihat kecantikan Putri Mayang Sari. "Gadis cantik di lubuk Umai…. Cantik di Umai. Ya, ya… d'umai… d'umai…," gumam lirih Pangeran Empang Kuala.
Kata-kata itu terus terucap dalam hati Pangeran Empang Kuala. Sang pangeran begitu jatuh cinta kepada sang putri. Karena itu, sang pangeran itu berniat untuk meminang sang putri cantik pujaan hatinya.
Baca juga: Demam Citayam Fashion Week di Tunjungan Surabaya Dibubarkan Satpol PP
Mari diumbut di rumpun buluh
Jemput mari dayang dijemput
Mari dijemput turun bertujuh
Ketujuhnya berkain serong
Ketujuhnya bersubang gading
Ketujuhnya bersanggul sendeng
Ketujuhnya memakai pending
Sebuah lirik, yang menggambarkan kepiluan atas kematian tujuh putri cantik di tengah hutan. Lirik yang dikutip dari "Putri Tujuh: Asal Mula Nama Kota Dumai" dan diterbitkan melayuonline.com tersebut, menjadi kenangan pengorbanan Putri Tujuh.
Baca juga: Menikmati Wisata Air di Danau Bunga Tujuh
Legenda Putri Tujuh tersebut, terus berkembang menjadi cerita rakyat yang secara turun-temurun disampaikan melalui cerita lisan maupun tulisan. Kisah Putri Tujuh yang berakhir tragis ini, diyakini sebagai asal mula nama Kota Dumai, Riau.
Cerita ini berawal saat Dumai masih menjadi dusun nelayan yang sepi. Dusun tersebut berada di wilayah kerajaan Seri Bunga Tanjung, yang diperintah oleh seorang ratu, yakni Cik Sima.
Baca juga: Kisah Gundik dan Nyai Pribumi di Tangsi Tentara KNIL Masa Kolonial Belanda
Ratu Seri Bunga Tanjung tersebut, memiliki tujuh orang putri yang sangat cantik, dan dikenal sebagai Putri Tujuh. Dari ketujuh putri tersebut, Mayang Sari yang merupakan putri bungsu merupakan putri yang paling cantik.
Keindahan tubuh Putri Mayang Sari sangat mempesona, dengan wajah berseri bak rembulan. Selain itu kulitnya sangat halus selembut sutra. Alis putri cantik itu digambarkan seperti semut beriring, dan rambutnya yang ikal memanjang bagai mayang.
Saat ketujuh putri cantik itu asyik mandi di lubuk Sarang Umai, tidak menyadari ada yang mengintai. Pengintai para putri cantik yang sedang asyik berendam dan bersenda gurau, dengan suaranya yang merdu itu, adalah Pangeran Empang Kuala.
Pangeran Empang Kuala yang kebetulan lewat bersama para pengawalnya, sangat terpesona melihat kecantikan Putri Mayang Sari. "Gadis cantik di lubuk Umai…. Cantik di Umai. Ya, ya… d'umai… d'umai…," gumam lirih Pangeran Empang Kuala.
Kata-kata itu terus terucap dalam hati Pangeran Empang Kuala. Sang pangeran begitu jatuh cinta kepada sang putri. Karena itu, sang pangeran itu berniat untuk meminang sang putri cantik pujaan hatinya.
Baca juga: Demam Citayam Fashion Week di Tunjungan Surabaya Dibubarkan Satpol PP
Lihat Juga :