Tanpa Tunjukkan Data, Risma Klaim Kasus COVID-19 di Surabaya Turun

loading...
Tanpa Tunjukkan Data, Risma Klaim Kasus COVID-19 di Surabaya Turun
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini membantah bahwa kasus positif COVID-19 di Surabaya terus mengalami peningkatan. SINDOnews/Lukman
SURABAYA - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini membantah bahwa kasus positif COVID-19 di Surabaya terus mengalami peningkatan. Sebaliknya, orang nomor satu di Surabaya mengklaim kasus virus corona di Kota Pahlawan berangsur menurun.

“Sebenarnya sudah turun (kasus positif COVID-19 di Surabaya). Cuma tadi saya tidak menyampaikan angka. Nanti dikira seolah saya enggak kerja. Sebetulnya angka itu sudah turun. Tadi saya suruh ngecek di hotel tinggal nggak sampai 60 orang, itu yang reaktif nunggu swab. Kemungkinan sudah pulang, nggak sebesar 60 orang itu,” kata Risma, usai mengikuti rapat koordinasi bersama Menkopolhukam, Mendagri dan Forkopimda Jatim di Hotel JW Marriot, Surabaya, Jumat (26/6/2020).

Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jatim menunjukkan, jumlah kasus positif COVID-19 di Surabaya pada Kamis (25/6/2020) sebanyak 5.157 kasus. Jumlah itu naik sebanyak 195 kasus dari sehari sebelumnya.

Dalam sepekan terakhir, rata-rata kasus COVID-19 di Surabaya bertambah antara 80 hingga 100 lebih kasus. "Kita tetap lakukan tracing. Jadi BIN (Badan Intelijen Negara) itu kita gantikan petugas puskesmas, Babinsa Bhabinkamtibmas (menggelar swab dan rapid test)," ujarnya.



Sebelumnya, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyebut, rasio tracing atau pelacakan pasien COVID-19 di Surabaya terendah se-Jatim. Pada setiap satu kasus positif di Kota Pahlawan, hanya ditemukan 2,8 Orang Dalam Pemantauan (ODP) atau Orang Tanpa Gejala (OTG) dari hasil tracingnya.

Sementara di Sidoarjo, merupakan angka terendah kedua dengan angka 3,5 ODP/OTG setiap satu kasus positif. Sementara kedua daerah tersebut, menyumbang angka kematian tertinggi di Jatim. Per 30 Mei lalu, jumlah angka kematian di Surabaya mencapai 234 orang dan Sidoarjo 57 orang.

"Peta ini saya rasa menjadi penting bagaimana intervensi ini harus kita maksimalkan dengan berbagai macam ikhtiar. Yang kalau kita bersinergi akan membuka jalan untuk menurunkan angka kematian dan kasus baru, utamanya di Surabaya raya,” kata Khofifah Rabu (24/6/2020) lalu.



Khofifah menjelaskan, dari 10.092 kasus positif di Jatim (data kasus Selasa, 23 Juni 2020), sebanyak 4.878 kasus diantaranya berasal dari Surabaya atau 48,3 persen. Sementara untuk Surabaya Raya total kasusnya mencapai 6.653 orang atau 65,9 persen. "Pada posisi ini Attack Rate (AR) di Surabaya sudah 189 per 100.00 jumlah penduduk. Sementara Jatim AR mencapai 25," tutur Khofifah.

Orang nomor satu di Jatim itu juga menyinggung terkait tingkat kepatuhan masyarakat di Surabaya Raya yang cukup rendah. Bahkan, banyak masyarakat yang tidak menerapkan protokol pencegahan COVID-19 di tempat umum. Kondisi itu diketahui dari survei yang dilakukan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair). (Baca: 35 Warga Ketajen Sidoarjo Tunggu Hasil Swab, Akses Desa Ditutup).

Dia mencontohkan di tempat ibadah, hanya 30 persen masyarakat yang menggunakan masker. Sisanya, sebanyak 70 persen abai akan protokol kesehatan. Di pasar tradisional jumlah masyarakat yang tidak menggunakan masker mencapai 84 persen. Hal ini juga terjadi di tempat nongkrong, di mana ada 88 persen tak menggunakan masker.

“PSBB di Surabaya Raya sudah sempat sukses kalau dari sisi RT (rate of transmission) di bawah 1. Jadi pada tanggal 20 sampai tanggal 26 Mei sesungguhnya sudah tepat di bawah 1. Namun, ini hanya berselang beberapa hari karena RT di Surabaya Raya kembali naik seiring dengan pertumbuhan kasusnya," pungkasnya.
(nag)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top