Sejarah Lukisan Hidup Pangeran Diponegoro, Separuh Badan Dibuat di Batavia
Senin, 04 Juli 2022 - 07:05 WIB
loading...
Jan Bik berhasil menuntaskan gambar sketsa Diponegoro separuh badan. Ia menuliskan dua judul di sebelah kiri bawah dan tengah lukisan: A.J. Bik, digambar dari model hidup, Batavia 1830 dan Diponegoro, kepala para pemberontak di Jawa. Foto: Ist
A
A
A
Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830) yang meletus mulai bulan Juli 1825 berakhir setelah Jenderal De Koch berhasil membujuk Pangeran Diponegoro berunding di Magelang, Jawa Tengah dan menangkapnya.
Pangeran Diponegoro yang di akhir pemberontakan mengalami penderitaan fisik, tiga bulan terpojok di hutan Begelen, Purworejo dengan wajah rusak akibat demam malaria dan hanya ditemani dua pengawal setia, tidak melawan.
Diponegoro hanya diam saat kompeni Belanda dengan tergesa-gesa membawanya ke Batavia atau Jakarta, tempat kedudukan utama Pemerintah Hindia Belanda di Pulau Jawa. Di Batavia, Diponegoro dikurung di Balai Kota, bukan dijebloskan ke dalam ruang penjara di bawah gedung yang dipakai membui para penjahat kriminal dari perkotaan.
Baca juga: Kisah Pangeran Diponegoro, Dilawan Rakyat yang Lapar Akibat Ulah Pejabat Culas
Dia berada dalam ruangan yang terletak di lantai pertama dengan pemandangan halaman Balai Kota. “Penguasa kolonial memperlakukan Pangeran Diponegoro dengan penuh rasa hormat,” tulis Harm Stevens dalam buku ‘Yang Silam Yang Pedas, Indonesia dan Belanda Sejak Tahun 1600’.
Kehadiran Diponegoro di Balai Kota Batavia menarik perhatian Adrianus Johannes Bik atau biasa dipanggil Jan Bik. Dia seorang pejabat di lembaga kehakiman pemerintahan Kolonial Belanda.
Sebagai pejabat kehakiman, karir Jan Bik diawali dari pegawai juru gambar pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dalam perjalanannya, ia berhasil menduduki jabatan Asisten Residen Kepolisian untuk wilayah Batavia dan sekitarnya.
Pangeran Diponegoro yang di akhir pemberontakan mengalami penderitaan fisik, tiga bulan terpojok di hutan Begelen, Purworejo dengan wajah rusak akibat demam malaria dan hanya ditemani dua pengawal setia, tidak melawan.
Diponegoro hanya diam saat kompeni Belanda dengan tergesa-gesa membawanya ke Batavia atau Jakarta, tempat kedudukan utama Pemerintah Hindia Belanda di Pulau Jawa. Di Batavia, Diponegoro dikurung di Balai Kota, bukan dijebloskan ke dalam ruang penjara di bawah gedung yang dipakai membui para penjahat kriminal dari perkotaan.
Baca juga: Kisah Pangeran Diponegoro, Dilawan Rakyat yang Lapar Akibat Ulah Pejabat Culas
Dia berada dalam ruangan yang terletak di lantai pertama dengan pemandangan halaman Balai Kota. “Penguasa kolonial memperlakukan Pangeran Diponegoro dengan penuh rasa hormat,” tulis Harm Stevens dalam buku ‘Yang Silam Yang Pedas, Indonesia dan Belanda Sejak Tahun 1600’.
Kehadiran Diponegoro di Balai Kota Batavia menarik perhatian Adrianus Johannes Bik atau biasa dipanggil Jan Bik. Dia seorang pejabat di lembaga kehakiman pemerintahan Kolonial Belanda.
Sebagai pejabat kehakiman, karir Jan Bik diawali dari pegawai juru gambar pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dalam perjalanannya, ia berhasil menduduki jabatan Asisten Residen Kepolisian untuk wilayah Batavia dan sekitarnya.
Lihat Juga :