Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Unggah Gambar Kerumunan di Gantangan, Pemuda Gresik Bonyok Dihajar Pecinta Burung

loading...
Unggah Gambar Kerumunan di Gantangan, Pemuda Gresik Bonyok Dihajar Pecinta Burung
Lokasi gantangan burung berkicau di Desa Peganden, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, yang menjadi lokasi penganiayaan. Foto/SINDOnews/Ashadi Iksan
GRESIK - Ahmad Ari Afandi mengalami luka di wajah dan tubuhnya, usai dihajar sejumlah orang. Korban dikeroyok usai mengunggah gambar di media sosial, terkait mengabarkan kerumunan di arena gantangan burung atau loma burung kicau.

Baca juga: Kurang Sehari, Rencana Resepsi di Gresik Batal Digelar Usai Didatangi Satgas COVID-19

Kejadian itu bermula saat korban mengunggah di media sosial tentang kerumunan lomba burung di Desa Peganden, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, pada Sabtu (17/6/2021) lalu. Dampak unggahan itu, membuat aparat berdatangan dan melarang acara dilanjutkan.



Setelah acara dibubarkan, kemudian di hari yang sama pada pukul 17.00 WIB, korban mengaku didatangi sejumlah orang. Mereka keberatan dengan unggahan korban yang mengakibatkan polisi membubarkan acara. Lalu, sejumlah orang itu langsung berbuat onar.

Baca juga: Gereja Pentakosta Dilempar Bom Molotov Saat Banyak Warga Mengungsi di Dalamnya



Mereka memukuli korban di tempat kosnya yang tak jauh dari tempat arena lomba burung. Kepada polisi, korban mengaku dipukuli dengan tangan kosong dan pipa shockbreaker serta kayu. Korban juga ditendang bagian kaki, badan dan kepalanya. Akibatnya korban mengalami sejumlah luka di wajah dan tubuhnya.

Kapolsek Manyar, AKP Bima Sakti membenarkan peristiwa itu. Saat ini pihaknya telah melakukan penyelidikan atas kasus tersebut, serta memburu para pelaku yang melakukan penganiyaan terhadap korban. "Sudah kami tangani, beberapa saksi di lapangan juga kami hadirkan," kata Bima, Kamis (22/7/2021).

Baca juga: Ssst...Hamil di Luar Nikah, Ratusan Remaja di Musi Rawas Ajukan Dispensasi Nikah

Alumni Akpol tahun 2013 ini membenarkan jika polisi bertindak, karena adanya unggahan korban. Dia menyebut bahwa pembubaran itu dilakukan karena arena gantangan burung di Desa Peganden mendatangkan massa, sehingga terjadi kerumunan . "Dari unggahan korban itulah, polisi, TNI dan pihak kecamatan langsung menuju lokasi gantang untuk membubarkan paksa," bebernya.



Kendati demikian, Bima meyayangkan atas tindakan sejumlah pelaku yang belum diketahui identitasnya itu. Pasalnya, mestinya mereka tidak perlu melakukan kekerasan. "Apalagi korban ini maksudnya benar, mengingatkan agar tidak ada kerumunan di tengah pemberlakukan PPKM Darurat," pungkasnya.
(eyt)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top