Kisah Maling Aguno, Si Pencuri Sakti Berhati Budiman yang Selalu Membikin Resah Orang-orang Kaya
Sabtu, 03 April 2021 - 05:00 WIB
loading...
Makam Maling Aguno yang berlokasi di Gunung Pegat, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Foto/SINDOnews/Solichan Arif
A
A
A
BLITAR - Maling Aguno menyatroni kediaman orang-orang kaya. Ia memiliki kesaktian yang luar biasa, sehingga dengan mudah bisa menyelinap melalui lubang angin (ventilasi) atau lubang kunci yang tersorot cahaya.
Baca juga: Kisah Cinta Patih Gajah Mada dengan 3 Wanita
Dalam satu kedipan mata, raga Aguno tiba-tiba berpindah ke dalam rumah. Semuanya berlangsung senyap, tanpa suara. Kisah kesaktian Aguno ini, juga didengar oleh Tatok (52) warga Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, saat masih duduk di bangku madrasah ibtidaiyah.
Di dalam rumah yang disatroni, Maling Aguno beroperasi dengan leluasa. Uang, perhiasan, permata, dan semua barang berharga milik orang kaya, digasak habis. Saat aksi berlangsung, si empunya rumah terlelap dalam tidurnya.
Sementara para penjaga rumah orang kaya tersebut, terlena dalam canda tawa mereka, dan tak pernah menyadari rumah majikannya telah diobok-obok Aguno . Sampai Maling Aguno angkat kaki, mereka belum menyadari tempat tinggal majikannya baru saja disatroni pencuri. "Saya mendengar kisah Maling Aguno sedari kecil," tutur Tatok.
Baca juga: Usai Diusir Pemerintah Papua Nugini, Kini Gubernur Lukas Enembe Terancam Diberhentikan
Tatok mengaku terkesima dengan kisah Maling Aguno . Tidak hanya kesaktian bisa masuk lubang ventilasi yang tersorot cahaya. Ilmu sekali pukul dan musuh seketika rebah binasa, juga menarik minatnya. Termasuk kedidagyaan Maling Aguno yang kebal terhadap segala jenis senjata. Tatok mengaku diam-diam sempat berusaha mempelajarinya.
"Asal ada sorot cahaya. Maling Aguno katanya bisa memasuki lubang sekecil apapun," tambahnya. Kisah Maling Aguno didengar cukup akrab di lingkungan masyarakat Kabupaten Blitar. Cerita itu menyebar dari mulut ke mulut. Selalu mendapat tempat disetiap generasi.
Terutama warga yang bertempat tinggal di wilayah barat, yang berbatasan dengan Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Tulungagung. Menurut Tatok, tidak hanya berkembang melalui cerita tutur (folklore). Kisah tersebut juga kerap diangkat sebagai lakon kesenian ludruk.
Baca juga: Misteri Macan Putih di Candi Mleri dan Silangsengkarut Anak Turunan Ken Arok
Di era tahun 80-an hingga 90-an, kata Tatok masih banyak ludruk di Blitar yang mementaskan lakon Maling Aguno . "Selain Maling Aguno , juga ada lakon Maling Caluring dan Sogol," kenang Tatok.
Tatok tumbuh di lingkungan masyarakat nahdliyin. Ia gemar menelisik sejarah lokal. Pada tahun 1997 jelang reformasi, Tatok bahkan pernah berhari-hari menyusuri makam-makam tua . Selama 72 hari ia berjalan kaki mulai Blitar, Banten, hingga Madura.
Baca juga: Kisah Cinta Patih Gajah Mada dengan 3 Wanita
Dalam satu kedipan mata, raga Aguno tiba-tiba berpindah ke dalam rumah. Semuanya berlangsung senyap, tanpa suara. Kisah kesaktian Aguno ini, juga didengar oleh Tatok (52) warga Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, saat masih duduk di bangku madrasah ibtidaiyah.
Di dalam rumah yang disatroni, Maling Aguno beroperasi dengan leluasa. Uang, perhiasan, permata, dan semua barang berharga milik orang kaya, digasak habis. Saat aksi berlangsung, si empunya rumah terlelap dalam tidurnya.
Sementara para penjaga rumah orang kaya tersebut, terlena dalam canda tawa mereka, dan tak pernah menyadari rumah majikannya telah diobok-obok Aguno . Sampai Maling Aguno angkat kaki, mereka belum menyadari tempat tinggal majikannya baru saja disatroni pencuri. "Saya mendengar kisah Maling Aguno sedari kecil," tutur Tatok.
Baca juga: Usai Diusir Pemerintah Papua Nugini, Kini Gubernur Lukas Enembe Terancam Diberhentikan
Tatok mengaku terkesima dengan kisah Maling Aguno . Tidak hanya kesaktian bisa masuk lubang ventilasi yang tersorot cahaya. Ilmu sekali pukul dan musuh seketika rebah binasa, juga menarik minatnya. Termasuk kedidagyaan Maling Aguno yang kebal terhadap segala jenis senjata. Tatok mengaku diam-diam sempat berusaha mempelajarinya.
"Asal ada sorot cahaya. Maling Aguno katanya bisa memasuki lubang sekecil apapun," tambahnya. Kisah Maling Aguno didengar cukup akrab di lingkungan masyarakat Kabupaten Blitar. Cerita itu menyebar dari mulut ke mulut. Selalu mendapat tempat disetiap generasi.
Terutama warga yang bertempat tinggal di wilayah barat, yang berbatasan dengan Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Tulungagung. Menurut Tatok, tidak hanya berkembang melalui cerita tutur (folklore). Kisah tersebut juga kerap diangkat sebagai lakon kesenian ludruk.
Baca juga: Misteri Macan Putih di Candi Mleri dan Silangsengkarut Anak Turunan Ken Arok
Di era tahun 80-an hingga 90-an, kata Tatok masih banyak ludruk di Blitar yang mementaskan lakon Maling Aguno . "Selain Maling Aguno , juga ada lakon Maling Caluring dan Sogol," kenang Tatok.
Tatok tumbuh di lingkungan masyarakat nahdliyin. Ia gemar menelisik sejarah lokal. Pada tahun 1997 jelang reformasi, Tatok bahkan pernah berhari-hari menyusuri makam-makam tua . Selama 72 hari ia berjalan kaki mulai Blitar, Banten, hingga Madura.
Lihat Juga :