Cerita Pagi

Kisah Maling Aguno, Si Pencuri Sakti Berhati Budiman yang Selalu Membikin Resah Orang-orang Kaya

loading...
Baca juga: Misteri Macan Putih di Candi Mleri dan Silangsengkarut Anak Turunan Ken Arok



Di era tahun 80-an hingga 90-an, kata Tatok masih banyak ludruk di Blitar yang mementaskan lakon Maling Aguno . "Selain Maling Aguno , juga ada lakon Maling Caluring dan Sogol," kenang Tatok.

Tatok tumbuh di lingkungan masyarakat nahdliyin. Ia gemar menelisik sejarah lokal. Pada tahun 1997 jelang reformasi, Tatok bahkan pernah berhari-hari menyusuri makam-makam tua . Selama 72 hari ia berjalan kaki mulai Blitar, Banten, hingga Madura.

Tatok percaya, kisah Maling Aguno bukan sepenuhnya legenda. Ia meyakini ada. Sebab keberadaan makam Maling Aguno , betul-betul ada. "Saya kira Maling Aguno betul-betul ada. Karena ada makamnya," terang Tatok menceritakan di mana makam itu berada.

Baca juga: Hasil Uji GeNose C 19 Positif, 54 Penumpang Pesawat di Bandara Juanda Gagal Terbang

Makam itu terletak di kawasan tebing Gunung Pegat , wilayah Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Tepatnya di Desa Prambutan yang secara administratif masuk wilayah Kecamatan Ponggok. Lokasinya di bawah Situs Pertapaan.

Yakni puncak Gunung Pegat setinggi 200 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang konon Dewi Kilisuci, putri sulung Prabu Airlangga, Raja Kahuripan, pernah bertapa. Lokasi makam juga tidak terpaut jauh dari situs Candi Mleri di Desa Bagelenan, tempat persemayaman abu jenazah Ranggawuni atau Wisnuwardhana, Raja Singasari ketiga.

"Apakah masih ada kaitan dengan pertapaan Dewi Kilisuci dan Candi Mleri?, sampai hari ini jawabanya masih misteri," tambahnya. Baca juga: Kisah Kejayaan Majapahit dan Mitos-mitos Misterius yang Menyelubunginya

Secara topografi, lokasi makam tersebut tersembunyi di kawasan hutan. Akses menuju lokasi berupa jalan setapak yang sarat tanjakan. Tanahnya merah bercampur bebatuan. Tidak hanya terjal. Tanah tersebut juga berkarakter licin saat tersiram air hujan.

Karenanya hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Sekitar 20 meter sebelum makam, berdiri bongkahan batu kuno yang diduga bagian dari konstruksi bangunan candi. Di atasnya terlihat sisa abu pembakaran dupa. Makam Maling Aguno membujur dengan arah mata angin Utara-Selatan.

Pada bagian kedua ujungnya, masing-masing tertancap nisan. Namun tidak ada tulisan nama. Juga bersih dari angka tahun. Yang unik pada bagian pusaranya. Bukan gundukan tanah. Melainkan tumpukan potongan batu candi. Entah siapa yang meletakannya. "Saya pertama kali ziarah makam Maling Aguno sejak masih madrasah tsanawiyah. Dari dulu pusaranya ya seperti itu," terang Tatok menjelaskan.

Baca juga: Kisah Kesaktian Hang Tuah dan Keris Taming Sari Menjaga Kedaulatan Kesultanan Malaka

Bagi sebagian besar masyarakat Blitar, Maling Aguno dianggap sebagai pencuri budiman. Semacam Robin Hood di Inggris, yang menyatroni para bangsawan untuk dibagi bagikan kepada rakyat jelata. Semacam Brandal Loka Jaya di Tuban. Maling Cluring di Jombang.

Maling Kentiri di Kediri (Ada yang menyebut Blora). Diego Carrientes di Spanyol. Atau Janosik di Slovakia. Begitu juga dengan Maling Aguno . Kata Tatok, hasil dari aksi kejahatannya untuk disedahkan kepada orang orang miskin.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top