Marak Anak Gugat Orang Tua, Ini Kata Pakar Psikologi Untag Surabaya

loading...
Marak Anak Gugat Orang Tua, Ini Kata Pakar Psikologi Untag Surabaya
Fenomena anak gugat orang tua kandung menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Foto/Ilustrasi
SURABAYA - Akhir-akhir ini marak seorang anak menyeret orang tua kandungnya ke meja hijau. Fenomena inipun menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat. Terbaru yang cukup menyita perhatian publik adalah kasus anak gugat ayah di Bandung .

Baca juga: Ini Testimoni Deden Penggugat Ayah Renta di Bandung yang Tulus Meminta Maaf

RE Koswara, lelaki tua berusia 85 tahun harus menghadapi kenyataan pahit berurusan dengan hukum setelah digugat anak-anak kandungnya sendiri ke pengadilan. Entah setan apa yang merasuki si anak. Meski beberapa kasus berakhir damai dengan mediasi, namun secara etika peristiwa tersebut tentu tidak etik.



Pakar psikologi Untag Surabaya, Rr. Amanda Pasca Rini, menuturkan fenomena anak menggugat orang tua itu disebabkan oleh rendahnya attachment behavior atau tingkah laku lekat antara anak dan orang tua . "Ini merupakan suatu hubungan yang didukung oleh tingkah laku lekat (attachment behavior) yang dirancang untuk memelihara hubungan tersebut," tuturnya.



Baca juga: Bawa Istri Orang, Mobil Kades di Rembang Dirusak di Jalur Pantura

Kaprodi Magister Psikologi Untag Surabaya ini mengatakan, tingkah laku lekat harus ditanamkan pada setiap keluarga agar fenomena anak gugat orang tua tidak terjadi. Karena efek dari keluarga yang punya attcehment behavior adalah mendekatnya ibu pada anak, bapak pada anak.

"Kedekakatan ini diharapkan untuk mendapatkan dan meningkatkan kedekatan dengan ibu atau bapaknya ," kata dia. Amanda melanjutkan, apabila ada kedekatan yang baik di masa kanak-kanak hingga dewasa, maka otomatis keluarga menjadi lebih hangat dan lebih guyub. Baca juga: Tak Kuat Membujang Puluhan Tahun, Oe Chen Lwee Ditekuman Tewas Gantung Diri

Bahkan jika ada persoalanpun, bila ada kedekatan atau kelekatan atau attachment behavior antara individu dengan seluruh anggota keluarganya, maka dapat diselesaikan dengan tidak saling menyakiti. "Sebaliknya akan lebih didominasi oleh rasa saling menyayangi dan menghormati peran masing-masing dalam keluarga," imbuhnya.

Baca juga: Bangkalan Gempar, Video Buaya Muara Membawa Potongan Kaki Manusia Viral



Ia menambahkan, pola kelekatan akan membentuk ketahanan keluarga. Setiap anggota keluarga akan memahami peran masing-masing. Seorang anak paham perannya sebagai anak dan memposisikan bapak sebagai kepala rumah tangga yang mempunyai peran berbeda dengan anak. "Ketahanan keluargapun terjaga. Sehingga tidak akan terjadi anak menuntut orang tuanya," tegasnya.
(eyt)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top