Di Patirtan Ini, Cinta Pandangan Pertama Arok-Dedes Bersemi

Sabtu, 19 September 2020 - 05:00 WIB
Di Patirtan Ini, Cinta Pandangan Pertama Arok-Dedes Bersemi
Situs patirtan Watu Gede, yang ada di wilayah Desa Watu Gede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Foto/SINDOnews/Yuswantoro
A A A
Air jernih, menggenang tenang di dalam telaga yang tidak begitu luas. Pohon-pohon besar, menghiasi sekitarnya. Daun-daunnya yang rindang, menaungi telaga penuh kedamaian itu. Salah satu sudut telaga, tepatnya di bawah pohon besar, masih mengalirkan air dari mata air .

(Baca juga: Dwarapala Saksi Bisu Ketangguhan Desa Menjaga Arjuna )

Air yang mengalir dari sela-sela pohon besar menuju ke telaga, terasa sangat menyegarkan, dan begitu jernih. Suaranya gemercik, berirama, saat berjatuhan di dalam telaga. Beberapa arca kecil, masih nampak berdiri di tepian telaga.

Bocah-bocah kecil, begitu riang bermain di tepian telaga. Matahari sudah tepat berada di ubun-ubun. Tetapi, telaga yang berada di wilayah Desa Watu Gede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, tersebut, tidak terasa panas. Kesejukan menjalar dari air telaga, dan rindangnya pepohonan besar.

Air di Situs Patirtan Watu Gede, diakui oleh sejarawan Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono, sebagai air suci. Sumber air di situs ini sangat diskralkan, sehingga disebut sebagai patirtan. "Patirtan Watu Gede ini, digunakan khusus untuk para ratu. Salah satu yang utama adalah untuk Puteri Ken Dedes," ungkapnya.

Bahkan, dia mengatakan, dalam kitab Pararaton, disebutkan bahwa pertama kali Ken Arok, bertemu dengan Ken Dedes, adalah di Patirtan Watu Gede. Pertemuan itulah, yang membuat Ken Arok akhirnya jatuh cinta kepada Ken Dedes.

(Baca juga: Mengintip Petilasan Ken Dedes, Ibu Para Raja Nusantara )



Selain menjadi media penting pertemuan antara Arok dan Dedes. Patirtan Watu Gede, yang kini keberadaannya terus terhimpit oleh padatnya bangunan permukiman penduduk tersebut. Di masa lampau, patirtan ini sangat disucikan.

Di Patirtan Ini, Cinta Pandangan Pertama Arok-Dedes Bersemi


Penyucian sumber air oleh masyarakat masa lalu, menjadikan sumber air selalu lestari. Termasuk kawasan di sekitarnya. Tidak akan ada pembabatan hutan, dan perusakan lingkungan di kawasan sumber air . "Masyarakat masa lalu, menyadari betul air merupakan sumber kehidupan. Sehingga mereka menjaganya dengan baik," tuturnya.
Halaman :
Mungkin Anda Suka
Komentar
Copyright © 2021 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2381 seconds (11.97#12.26)