Masjid Agung Surakarta, Simbol Historis Dinasti Mataram Islam
Senin, 03 Agustus 2020 - 05:01 WIB
loading...
Masjid Agung Surakarta. Foto: SINDOnews/Ary Wahyu Wibowo
A
A
A
Posisi Masjid Agung Surakarta tak lepas dari perjalanan sejarah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau biasa dikenal dengan Keraton Solo . Keduanya memiliki ikatan historis dengan Dinasti Mataram Islam.
Sejarah Masjid Agung Surakarta diawali ketika pemindahan Keraton Kartasura ke Surakarta pada 17 Februari 1745 oleh Raja Paku Buwana (PB) II. Awalnya dahulu hanya dibangun masjid berkonstruksi kayu yang dibawa dari Keraton Kartasura. Namun setelah tiga tahun menempati keraton yang baru, PB II kemudian mangkat. Pembangunan masjid lalu dilanjutkan oleh raja raja yang memerintah berikutnya. “Peletakan tiang saka guru (tempat tiang utama) dilaksanakan langsung oleh Paku Buwana (PB) III pada tahun 1757,” kata Abdul Basyid, Sekretaris Masjid Agung Surakarta.
Kala itu, PB III membangun di bagian dalam. Sedangkan batu batu yang digunakan dalam pembangunan menggunakan batu kali atau sungai. Raja PB IV, PB VII, dan PB X banyak memberikan andil dalam perkembangan pembangunan Masjid Agung Surakarta pada masa berikutnya. Masjid Agung Surakarta dirancang sama bentuknya dengan Masjid Demak. Yakni berbentuk joglo dan beratap tajuk susun tiga yang melambangkan kesempurnaan kaum muslim dalam menjalani kehidupannya. Yakni Islam, iman dan ikhsan (amal). Pembangunan maupun renovasi terus berlangsung pada itu. “Kemudian terakhir PB X dengan ditambah menara dan gapura,” urainya.
Setelah PB X naik haji dan ke sejumlah negara, kemudian terinspirasi untuk memberikan perubahan yang sangat besar. Diantaranya agar masjid dapat diketahui dari jauh, dan ada menaranya. Sehingga kemudian dibangun menara, dan gapura yang berbentuk kubah. Sehingga Masjid Agung sangat terlihat megah ketika di era pemerintahan PB X.
![Masjid Agung Surakarta, Simbol Historis Dinasti Mataram Islam]()
Menara dengan ketinggian 33 meter bergaya arsitektur ktup minar khas India. Menurut Pengetan Yasan Dalem Para Nata, pembangunan menara dimulai tahun 1859 Jawa. Menara yang menjulang, dulunya dipergunakan sebagai tempat untuk mengumandangkan azan. Pada perkembangannya, kini menjadi tempat untuk meletakkan perangkat pengeras suara.(Baca juga : Monumen Plataran Saksi Bisu Perjuangan Taruna Akmil Jaga Kemerdekaan )
Sejarah Masjid Agung Surakarta diawali ketika pemindahan Keraton Kartasura ke Surakarta pada 17 Februari 1745 oleh Raja Paku Buwana (PB) II. Awalnya dahulu hanya dibangun masjid berkonstruksi kayu yang dibawa dari Keraton Kartasura. Namun setelah tiga tahun menempati keraton yang baru, PB II kemudian mangkat. Pembangunan masjid lalu dilanjutkan oleh raja raja yang memerintah berikutnya. “Peletakan tiang saka guru (tempat tiang utama) dilaksanakan langsung oleh Paku Buwana (PB) III pada tahun 1757,” kata Abdul Basyid, Sekretaris Masjid Agung Surakarta.
Kala itu, PB III membangun di bagian dalam. Sedangkan batu batu yang digunakan dalam pembangunan menggunakan batu kali atau sungai. Raja PB IV, PB VII, dan PB X banyak memberikan andil dalam perkembangan pembangunan Masjid Agung Surakarta pada masa berikutnya. Masjid Agung Surakarta dirancang sama bentuknya dengan Masjid Demak. Yakni berbentuk joglo dan beratap tajuk susun tiga yang melambangkan kesempurnaan kaum muslim dalam menjalani kehidupannya. Yakni Islam, iman dan ikhsan (amal). Pembangunan maupun renovasi terus berlangsung pada itu. “Kemudian terakhir PB X dengan ditambah menara dan gapura,” urainya.
Setelah PB X naik haji dan ke sejumlah negara, kemudian terinspirasi untuk memberikan perubahan yang sangat besar. Diantaranya agar masjid dapat diketahui dari jauh, dan ada menaranya. Sehingga kemudian dibangun menara, dan gapura yang berbentuk kubah. Sehingga Masjid Agung sangat terlihat megah ketika di era pemerintahan PB X.

Menara dengan ketinggian 33 meter bergaya arsitektur ktup minar khas India. Menurut Pengetan Yasan Dalem Para Nata, pembangunan menara dimulai tahun 1859 Jawa. Menara yang menjulang, dulunya dipergunakan sebagai tempat untuk mengumandangkan azan. Pada perkembangannya, kini menjadi tempat untuk meletakkan perangkat pengeras suara.(Baca juga : Monumen Plataran Saksi Bisu Perjuangan Taruna Akmil Jaga Kemerdekaan )
Lihat Juga :