alexametrics

Hasto: Putus Kontrasepsi, 500 Ribu Ibu Potensi Hamil

loading...
Hasto: Putus Kontrasepsi, 500 Ribu Ibu Potensi Hamil
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo memberikan keterangan soal potensi kehamilan akibat putus kontrasepsi di UNY, Sabtu (1/8/2020). Foto/Ist.
A+ A-
KLATEN - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengatakan, potensi kehamilan bagi pasangan usia subur yang tidak mengunakan kontrasepi selama tiga bulan pertama minimal 15%.

(Baca juga: Hasto: Ibu Hamil Terpapar COVID-19 Tak Tulari ke Bayinya)

Hasto sendiri menhitung, dalam tiga bulan terakhir ada 10% dari 36 juta pasangan usia subur yang putus kontrasepsi. "Bila 10% dari 36 juta itu tidak mengunakan kontrasepsi, maka 15% antara 400 ribu-500 ribu akan terjadi kehamilan," kata Hasto usai penganugerahan doktor honoris causa di UNY, Sabtu (1/8/2020).

Untuk itu pada bulan keempat ini, menjadi tantanagn BKKBN untuk menurunkan kehamilan dari tiga bula pertama. Di antaranya yang sudah dilakukan yakni mengadakan pelayanan kontrasepsi dalam jumlah kecil secara serentak.



(Baca juga: Viral, Bocah di Agam Menangis Memeluk Sapi yang Akan Disembelih)

Hal ini seperti yang dilakukan saat hari keluarga 29 Juni 2020, yaitu dengan menggelar 1 juta pemasangan alat kontrasepsi secara serentak. "Dalam pelaksanaan itu, kami berhasil memasang alat kontrasepsi sebanyak 1,4 juta di Indonesia. Jumlah ini berasal dari 74 ribu desa se Indonesia," paparnya.



Mengenai apa pademi COVID-19 juga menjadi penyebab terjadinya kehamilan. Menurut Hasto adanya program bekerja di rumah, memang menyebabkan suami istri sering kontak. Namun ini bukan menjadi penyebab utamanya.

"Untuk kehamilan sendiri, rata-rata karena kurang tahunya pengetahuan masyarakat dalam reproduksi. Terutama mereka yang cenderung miskin, pendidikan rendah dan geografis," jelasnya.
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak