alexametrics

Cerita Pagi

Keajaiban Kayangan Api, Tempat Semedi Pembuat Keris Majapahit

loading...
Hingga sekarang, setiap malam Jumat pahing di kalender penanggalan masyarakat Jawa, Kayangan Api ini dipadati pengunjung dari masyarakat sekitar, bahkan beberapa daerah dari luar Bojonegoro.

(Baca juga:Kisah Runtuhnya Majapahit dan Bangkitnya Islam di Tanah Jawa)

Para pengunjung ini datang dari beberapa daerah dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang ritual dan berdoa meminta jodoh, usaha lancar, hingga mendapatkan kedudukan karena meyakini Kayangan Api merupakan tempat yang sakral.

Sejarahnya Kayangan Api pernah digunakan sebagai tempat pengambilan api Pekan Olah Raga Nasional (PON) Jawa Timur ke-XV tahun 2000, kemudian menjadi sumber api semangat saat perayaan hari jadi Bojonegoro dan untuk upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengkubuwana X.

Namun dalam pengambilannya tak bisa sembarang orang dan asal melakukannya. Akan tetapi harus melalui upacara adat dan selamatan dengan menyanyikan gending atau lagu jawa yang merupakan kesukaan Mbah Kriyo Kusumo.

Keajaiban Kayangan Api, Tempat Semedi Pembuat Keris Majapahit


Kendati saat ini Kayangan Api telah berevolusi menjadi wisata geoheritage, namun nuansa mistis masih terasa kental, perpaduan pemandangan alam hutan jati dengan sajian kuliner tradisional lokal masyarakat Ngasem.

Menilik sisi lain Kayangan Api, ternyata ada sebuah kolam berukuran sedang yang dipagar secara melingkar. Uniknya kolam berisi air ini senantiasa mendidih walaupun di bawahnya tidak terdapat api.

Bupati Bojonegoro Anna Muawanah mengungkapkan, akan terus mengembangkan obyek wisata ini. Salah satunya menambah obyek wisata seperti tempat persemedian yang kondisinya saat ini perlu ditata.

Anna berharap obyek wisata ini semakin diminati wisatawan dalam dan luar negeri, termasuk kegiatan olahraga masyarakat bisa berkunjung ke Api Kayangan yang terletak di pedalaman hutan lindung ini.

"Biasanyanya sih pengunjung paling banyak memang malak hari. Maka pada malam hari ini kami sengaja untuk berkunjung malam hari dan biar keliatan nature-nya yang ada di sini," ungkap Anna.

Sementara itu, Djarot yang datang dari Jakarta mengaku merasakan wisata spiritual yang luar biasa ketika memberanikan diri menyeberangi Kayangan Api yang membakar seluruh bebatuan yang tertumpuk. Dia hanya merasakan hangat tanpa sedikitpun merasa terbakar dengan api yang terlihat merah kebiruan itu.

Pria ini membanyangkan tentang suasana para kesatria kerajaan zaman kerajaan Nusantara dahulu. "Jadi pasukan Bayangkara yang sudah dilatih itu di wisuda di sini. Pasukan Bayangkara dari Singashari maupun Majapahit," kata Djarot.

Djarot melihat Bojonegoro telah memberikan penekanan terhadap wisata budaya. Baginya, Kayangan Api telah memberikan pengalaman wisata yang eksotik.

"Coba kalian naik ke atas kemudian di atas api di situ, tidak terbakar, hangat dan membayangkan diri kalian itu betul-betul diselimuti oleh semangat aura api di dalam dada kita dan itu semua untuk pengabdian untuk Tanah Air. Itu mungkin filosofi yang digunakan oleh bala tentara Bayangkara waktu itu. Bayangkara adalah pengawal negara zaman Kerajaan Majapahit dan Singashari," ujarnya.

*Diolah berbagai sumber
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak