alexametrics

Cerita Pagi

RS Simpang, Perjalanan Penuh Wabah dan Penampung Korban Perang

loading...
RS Simpang, Perjalanan Penuh Wabah dan Penampung Korban Perang
Tulisan yang menjadi penanda pernah ada sebuah rumah sakit besar di Surabaya, yakni RS Simpang yang memiliki peran sebagai penampung korban perang serta wabah. Foto/SINDOnews/Aan Haryono
A+ A-
Kehadiran Surabaya selalu dipenuhi dengan pergolakan yang tak pernah surut. Korban perang dan wabah menjadi bumbu dalam perjalanan sejarah panjangnya. Di tengah perjalanan itu, ada satu nama rumah sakit yang sampai kini menyisahkan cerita heroik, RS Simpang.

(Baca juga: Merapah Asal Mula Penduduk Surabaya)

Kehadiran RSUD dr Soetomo yang kini menjadi tumpuan utama penanganan pasien COVID-19 tak lepas dari perjalanan penuh darah RS Simpang yang melipat berbagai sejarah panjang perang, wabah dan penyakit yang menyertai selama masa sebelum kemerdekaan.

Yayasan delta plaza ini dulunya rumah sakit rumah sakit umum (C.S.Z). Korban pertempuran 10 Nopember 1945 memenuhi seluruh pojok gedung dan meluber sampai di halaman rumah sakit. Para dokter dan perawat bekerja keras terus menerus, namun banyak korban tak tertolong jiwanya. Mereka yang bisa diselematkan diangkut keluar kota, karena meluasnya pertempuran, tanggal 10 Nopember dilakukan pengungsian terakhir dengan kereta api dari Stasiun Gubeng menuju Malang.



Tulisan itu terpatri dengan jelas di sebuah tugu kecil di antara jalanan Plaza Surabaya, tepatnya di Jalan Pemuda. Sudah tak ada lagi bangunan yang tersisa dari RS Simpang. Namun jasanya dalam mengendalikan korban perang dan wabah menjadikannya tetap tersohor sampai kini.

(Baca juga: Makam Syekh Mubin di Kebumen, Gurunya para Walisongo di Tanah Jawa)



Rumah Sakit Simpang awalnya bernama Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting(CBZ) yang dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Daendels. Julukan Rumah Sakit Simpang datang dari penduduk sekitar yang melihat dari lokasi dibangunnya, sebuah kawasan Simpang yang dikenal sebagai pembelah wilayah pemukiman Eropa dan non Eropa di Kota Pahlawan.

Saat awal dibangun, rumah sakit ini hanya sebatas melayani sebagai pasien militer. Namun, seiring perkembangannya rumah sakit ini juga melayani warga sipil. Pasien Rumah Sakit Simpang, tak hanya warga Surabaya saja melainkan seluruh warga Jawa Timur serta Indonesia Timur.

Tercatat, jumlah pasien terbanyak adalah ketika wabah kolera menyerang pada tahun 1868. Saat itu, pasien membludak hingga tiga kali lipat jumlah normal. Semua dokter dan perawat tak henti-hentinya menerima pasien.

Bangunan khas Eropa mengiasi seluruh bagian RS Simpang. Pintu, tembok dan lantai yang terbangun dengan indah. Termasuk halaman luas dan ditumbuhi pohon beringin besar yang rindang. Para tenaga medis juga memiliki rumah dinas yang dibangun di sekitar komplek rumah sakit.

(Baca juga: Cerita Mbah Moedjair, Penemu Ikan Mujair asal Blitar)

Sejarahwan Universitas Airlangga RN Bayu Aji menuturkan, pada 1913 dibangun pula Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), sebuah sekolah untuk mendidik calon dokter. "Kebutuhan dokter waktu itu tinggi," katanya Rojil, panggilan akrabnya.

Para calon dokter dari NIAS ini selanjutnya melakukan praktik di RS Simpang. Gedung NIAS ini masih berdiri dan berfungsi menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

"Banyak warga pribumi yang sekolah dokter. Termasuk dr Soetomo yang menjadi pemuda pengerak waktu itu," ucapnya. (Baca juga: Mengembalikan Identitas Sejati Kota Medan sebagai Kota Perdagangan dan Saudagar)

RS Simpang juga menjadi cikal bakal berdirinya RSUD dr Soetomo yang saat ini menjadi RS rujukan di Indonesia Timur. Waktu itu, para dokter di RS Simpang mulai merancang Nieuwe CBZ atau Rumah Sakit Karangmenjangan pada 1938. RS Karangmenjanagan inilah yang kini berubah nama menjadi RSUD dr Soetomo.

Pertempuran Surabaya terus meletus, RS Simpang menjadi salah satu rumah sakit utama untuk menampung korban pertempuran. Mereka memenuhi berbagai selasar rumah sakit.

Pada 13 November 1945, dr. Soetopo yang saat itu kepala RS Simpang memutuskan untuk memindahkan para pasien ke luar kota. Hal ini karena faktor keamanan dan tenaga medis yang kelelahan bekerja setiap hari tanpa henti.

Untuk pelaksanaan pengungsian ini diserahkan pada dr.Soewandhi. Tahap pertama, pengungsian dimulai dari peralatan dan obat-obatan menuju Kota Malang dan Jombang menggunakan ambulan, cikar dan truk. Setelah itu, tahap selanjutnya baru mengungsikan para korban pertempuran menuju Sidoarjo, Malang, Mojowarno dan Jombang.
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak