Kisah Biksu Bangladesh Rela Mengarungi Lautan demi Belajar Agama di Kerajaan Sriwijaya

Jum'at, 09 September 2022 - 07:20 WIB
loading...
Kisah Biksu Bangladesh Rela Mengarungi Lautan demi Belajar Agama di Kerajaan Sriwijaya
Candi Bahal Portibi, salah satu peninggalan Sriwijaya. Foto: Dok/SINDOnews
A A A
KEBESARAN Kerajaan Sriwijaya di masa lalu tidak hanya dikenal sebagai negeri bahari, tapi juga sebagai pusat pendidikan Buddha yang di kenal secara nasional atau lokal, tetapi juga hingga ke dataran asia.

Dikisahkan pada usia 31 tahun, Atisha dengan diikuti oleh 100 muridnya berangkat melakukan perjalanan laut selama tiga belas bulan ke Sumatera untuk belajar Buddhisme.

Dikenalnya Sriwijaya sebagai pusat pendidikan Buddha-Mahayana tidak lain karena peranan Suvarnadvipi Dharmakrti, yang dalam tradisi Buddha Tibetan disebut dengan nama Serlingpa (Gser-gling-pa) dan dianggap Guru Bodhichitta.

Selain merupakan biksu tertinggi di Sriwijaya yang pengetahuannya dikenal luas, Dharmakriti dicatat telah menyusun kitab Abhisamayalamkara.

Baca juga: Misteri Kutukan Raja Sriwijaya Terhadap Tanah Jawa yang Dicap Pemberontak

Demikian populernya Dharmakriti membuat Atisha berani menempuh risiko mengarungi lautan luas ke Sriwijaya untuk belajar.

Konon, dalam bentang masa belajarnya selama 13 tahun, yakni dari tahun 1011 hingga tahun 1023 Masehi, Atisha juga pernah menyempatkan diri ziarah ke Borobudur di Jawa, dan belajar perihal teks Mahayana yang dipahatkan menjadi bangunan candi.

Sebagai pusat pengajaran Buddha Vajrayana, Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarjana dari negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I Tsing, yang melakukan kunjungan ke Sumatra dalam perjalanan studinya di Universitas Nalanda, India, pada tahun 671 dan 695, I Tsing melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi sarjana Buddha sehingga menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Selain berita diatas, terdapat berita yang dibawakan oleh I Tsing, dinyatakan bahwa terdapat 1000 orang pendeta yang belajar agama Buddha pada Sakyakirti, seorang pendeta terkenal di Sriwijaya.

Selain itu ajaran Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana juga turut berkembang di Sriwijaya. Menjelang akhir abad ke-10, Ati┼Ťa, seorang sarjana Buddha asal Benggala yang berperan dalam mengembangkan Buddha Vajrayana di Tibet dalam kertas kerjanya Durbodhaloka menyebutkan ditulis pada masa pemerintahan Sri Cudamani Warmadewa penguasa Sriwijayanagara di Malayagiri di Suvarnadvipa.

Baca juga: Kisah Mataram Dilanda Gelombang Pemberontakan, Usai Panembahan Senopati Mangkat

Kedatuan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India, pertama oleh budaya Hindu kemudian diikuti pula oleh agama Buddha. Peranannya dalam agama Budha dibuktikannya dengan membangun tempat pemujaan agama Budha di Ligor, Thailand.

Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu melalui perdagangan dan penaklukkan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9, sehingga secara langsung turut serta mengembangkan bahasa Melayu beserta kebudayaannya di Nusantara.

Sangat dimungkinkan bahwa Sriwijaya yang termahsyur sebagai bandar pusat perdagangan di Asia Tenggara, tentunya menarik minat para pedagang dan ulama Muslim dari Timur Tengah, sehingga beberapa kerajaan yang semula merupakan bagian dari Sriwijaya, kemudian tumbuh menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera kelak, di saat melemahnya pengaruh Sriwijaya.

Baca juga: Kisah Mistis Sultan Agung Menikah dengan Ratu Kidul demi Kekuasaan Mataram Islam

Menurut Prasasti Kedukan Bukit, tahun 605 Saka (683 M), Kadatuan Sriwijaya pertama kali didirikan di sekitar Palembang, di tepian Sungai Musi. Prasasti ini menyebutkan bahwa Dapunta Hyang berasal dari Minanga Tamwan. Lokasi yang tepat dari Minanga Tamwan masih diperdebatkan.

Teori Palembang sebagai tempat di mana Sriwijaya pertama kali bermula diajukan oleh Coedes dan didukung oleh Pierre-Yves Manguin. Selain Palembang, tempat lain seperti Muaro Jambi (Sungai Batanghari, Jambi) dan Muara Takus (pertemuan Sungai Kampar Kanan dan Kiri, Riau) juga diduga sebagai ibu kota Sriwijaya.

Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya terletak di sebelah barat daya pusat kota Palembang. Situs ini membentuk poros yang menghubungkan Bukit Seguntang dan tepian Sungai Musi.

Sumber: Okezone, sejarah nasional indonesia, diolah dari berbagai sumber
(nic)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1421 seconds (11.210#12.26)