Kisah Ranggawarsita, Pujangga Sakti dari Surakarta yang Ramalkan Kemerdekaan Indonesia dan Kematiannya Sendiri

Minggu, 29 Mei 2022 - 06:11 WIB
loading...
A A A
Fitnah keji Belanda terhadap Mas Pajangswara, akhirnya membuat Pakubuwana IX yang kala itu bertakhta, tak menyukai putra Mas Pajangswara, Ranggawarsita. Belanda juga turut tak menyukai Ranggawarsita. Bahkan seluruh kegiatan Ranggawarsita, selalu diawasi oleh Belanda.

Belanda melihat Ranggawarsita sebagai jurnalis berbahaya, meskipun dia bersahabat dan memiliki murid keturunan Belanda, C.F. Winter, Sr. Melalui tulisan-tulisannya, Ranggawarsita dinilai Belanda dapat membangkitkan semangat perlawanan para pribumi.

Tekanan dan kecurigaan yang kian menjadi-jadi dari Belanda melalui orang-orang suruhannya, membuat Ranggawarsita harus melepaskan jabatannya sebagai redaksi di surat kabar Bramartani, pada tahun 1870.

Dia menjadi saksi bagaimana menderitanya rakyat Jawa, usai perang Diponegoro. Belanda dengan semena-mena menerapkan program tabam paksa. Kondisi ini juga membuat hati Ranggawarsita terluka.

Dalam situasi penuh keprihatinan tersebut, Ranggawarsita meramalkan terjadinya kemerdekaan. Dalam Serat Jaka Lodang dia menyebutkan, kemerdekaan itu akan terjadi pada tahun Wiku Sapta Ngesthi Janma.

Baca juga: Kisah Gunung Semeru, Pasak untuk Pulau Jawa Dihuni Keturunan Asli Majapahit

Empat kata yang merupakan kalimat Suryasengkala tersebut, jika ditafsirkan akan ditemukan deretan angka 7, 7, 8, 1. Untuk membaca Suryasengkala, dilakukan dari belakang ke depan, menjadi 1877 Saka, yang bertepatan dengan tahun 1945 Masehi, dan menjadi tahun kemerdekaan Indonesia.

Berbagai karya sastra telah dilahirkan Ranggawarsita. Bahkan, bersama sahabat yang juga anak dirinya, C.F. Winter Sr., Ranggawarsita melahirkan Bausastra Kawi, atau Kamus Bahasa Kawi-Jawa.

Karya-karyanya antara lain Sapta Dharma, Serat Aji Pamasa, Serat Candrarini, Serat Cemporet, Serat Jaka Lodang, Serat Jayengbaya, Serat Kalatidha, Serat Panitisastra, Serat Pandji Jayeng Tilam, Serat Paramasastra, Serat Paramayoga, Serat Pawarsakan, Serat Pustaka Raja, Suluk Saloka Jiwa, Serat Wedaraga, Serat Witaradya, Sri Kresna Barata, Wirid Hidayat Jati, Wirid Ma'lumat Jati, dan Serat Sabda Jati.

Ranggawarsita yang meninggal dunia tepat sesuai ramalannya sendiri, akhirnya dimakamkan di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Makam tersebut sering dikunjungi para peziarah, termasuk Presiden Soekarno, dan Gus Dur.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1467 seconds (10.55#12.26)