Kisah Ranggawarsita, Pujangga Sakti dari Surakarta yang Ramalkan Kemerdekaan Indonesia dan Kematiannya Sendiri

Minggu, 29 Mei 2022 - 06:11 WIB
loading...
Kisah Ranggawarsita, Pujangga Sakti dari Surakarta yang Ramalkan Kemerdekaan Indonesia dan Kematiannya Sendiri
Gambar foto Ranggawarsita dalam buku Serat Condrorini karya Tan Khoen Swie. Foto/Wikipedia
A A A
Amenangi zaman édan,
Ewuhaya ing pambudi,
Mélu ngédan nora tahan,
Yén tan mélu anglakoni,
Boya keduman mélik,
Kaliren wekasanipun,
Ndilalah kersa Allah,
Begja-begjaning kang lali,
Luwih begja kang éling klawan waspada.

Baca juga: Kiai Ageng Muhammad Besari, Mahaguru Raja Jawa Bisa Bangun Masjid Hanya 2 Jam

Salah satu syair karya Ranggawarsita, yang hingga kini masih sangat relevan. Diduga, syair ini diciptakan pujangga besar dari Kasunanan Surakarta ini, pada era pemerintahan Pakubuwono IX.



Syair yang termuat dalam Serat Kalatida, dan terdiri atas 12 bait tembang Sinom tersebut, diduga merupakan ungkapan kekesalan hati Ranggawarsita, terhadap situasi masa itu. Di mana banyak penjilat yang mencari keuntungan pribadi. Kalau diterjemahkan, kurang lebih memiliki arti, sebagai berikut:

Baca juga: Kisah Pembunuhan Raja Demak Sunan Prawoto Dipicu Dendam Kesumat Arya Penangsang

Menyaksikan zaman gila,
Serba susah dalam bertindak,
Ikut gila tidak akan tahan,
Tapi kalau tidak mengikuti (gila),
Tidak akan mendapat bagian,
Kelaparan pada akhirnya,
Namun telah menjadi kehendak Allah,
Sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
Akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Seperti melintasi zaman. Syair tersebut juga masih sangat relevan dengan kondisi masa kini. Di mana praktik mencari keuntungan pribadi masih terus terjadi, dan tak mempedulikan lagi kerugiannya bagi orang lain.

Tak hanya syairnya saja yang mampu melintasi zaman. Ranggawarsita yang terlahir pada 14 Maret 1802, dengan nama asli Bagus Burhan ini, ramalannya juga melintasi zaman dan banyak yang meyakini kebenarannya.

Bahkan, kematiannya pada 24 Desember 1873, juga telah diramalkan sendiri oleh pujangga besar ini, melalui Serat Sabdajati. Ranggawarsita merupakan putra dari Mas Pajangswara, yang merupakan cucu dari pujangga utama Kasunanan Surakarta, Yasadipura II.

Terlahir dari keturunan Kesultanan Pajang, dan Kesultanan Demak. Ranggawarsita muda, tumbuh besar dan menjadi dewasa di bawah asuhan Ki Tanujaya yang merupakan abdi dari Mas Pajangswara.

Baca juga: Kisah Tjong A Fie, Crazy Rich Era Kolonial yang Dermawan dan Menghormati Keberagaman

Kebengalannya di masa muda, dan kegemarannya berjudi, membuat Ranggawarsita muda dikirim oleh kakeknya ke Kyai Imam Besari, untuk berguru agama Islam di Pesantren Gebang Tinatar. Pesantren tersebut berada di Desa Tegalsari, yang masuk wilayah Ponorogo.

Berguru di pesantren, tak membuat kebengalannya surut. Ranggawarsita masih saja bandel dan suka berjudi. Bahkan, dia sempat kabur ke wilayah Madiun. Namun, saat berada di wilayah Sungai Kedungwatu, Ranggwarsita mendapatkan penyadaran, sehingga kembali ke pesantren dan berubah menjadi alim serta pandai mengaji.

Pulang kembali ke Surakarta, dengan kondisi telah menjadi alim, membuat Ranggawarsita diangkat menjadi cucu Panembahan Buminoto, yang merupakan adik Pakubuwana IV.

Ranggawarsita kemudian diangkat sebagai Carik Kadipaten Anom, dengan gelar Mas Pajanganom pada 28 Oktober 1819. Namun, saat kepemimpinan beralih ke Pakubuwana V yang memerintah sepanjang tahun 1820-1823, karier Ranggawarsita tersendat.

Pakubuwono V tak menyukai kakek angkat Ranggawarsita, Panembahan Buminoto. Pakubuwono V merasa Panembahan Buminoto selalu mendesaknya untuk menaikkan pangkat Ranggawarsita.

Baca juga: Kisah Cinta Sultan Syarif Kasim II dan Ratu Wilhelmina Bersemi di Antara Kolonialisme dan Kecamuk Perang

Ranggawarsita menikah dengan Raden Ayu Gombak, pada 9 November 1821. Usai menikah, Ranggawarsita ikut mertuanya, yaitu Adipati Cakradiningrat di Kediri. Berada di Kediri, membuat Ranggawarsita mengalami kejenuhan, sehingga memutuskan untuk mengembara bersama Ki Tanujoyo.

Pengembaraan itu, diduga dilakukan Ranggawarsita sampai ke Pulau Bali. Tak sekedar mengembara, Ranggawarsita juga mempelajari naskah-naskah sastra Hindu koleksi Ki Ajar Sidalaku.

Gelar Raden Ngabei Ranggawarsita, akhirnya diterimanya saat pulang dari pengembaraannya, dan diangkat menjadi Panewu Carik Kadipaten Anom. Dia menggantikan posisi ayahnya yang meninggal saat di penjara Belanda tahun 1830.

Meninggalnya Yasadipura II, membuat Ranggawarsita diangkat sebagai pujangga Kasunanan Surakarta, oleh Pakubuwana VII pada tanggal 14 September 1845. Ranggawarsita melahirkan banyak karya sastra di masa pemerintahan Pakubuwana VII.

Bukan hanya itu, Ranggawarsita memiliki hubungan yang sangat harmonis dengan Pakubuwana VII. Dia juga dikenal sakti oleh banyak kalangan, dan menjadi peramal yang sangat ulung.

Baca juga: Kisah Kiai Mahrus Aly Lirboyo, Kirim Santri Syafii Sulaiman Menyusup dan Lucuti Senjata Jepang

Meski memiliki darah biru, dan menjadi pujangga Kesunan Surakarta, Ranggawarsita dikenal sangat peduli terhadap nasib rakyat kecil. Bahkan, dalam sejumlah naskah Ranggawarsita dikisahkan sebagai orang yang mengerti bahasa binatang, hal ini diduga hanya sebagai simbol tentang kepeduliannya terhadap kesusahan rakyat jelata.

Situasi berbalik, ketika Belanda membuang Pakubuwana VI ke Ambon, pada tahun 1830 dan Pakubuwana IX naik takhta. Pakubuwana VI dibuang ke Ambon, karena dituduh mendukung Pangeran Diponegoro.

Sebelum Pakubuwana VI ditangkap Belanda, dan dibuang ke Ambon. Diduga, Belanda terlebih dahulu menangkap ayah Ranggawarsita, Mas Pajangswara yang merupakan juru tulis keraton. Mas Pajangswara ditangkap dan disiksa hingga tewas, untuk mengungkap hubungan Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro.

Namun, siksaan yang keji dari Belanda, hingga membuat Mas Pajangswara tewas, tidak merubah sedikitpun sikap Mas Pajangswara. Sikap diam dan tak membocorkan hubungan Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro, diambil Mas Pajangswara dengan segala konsekuensi logisnya.

Belanda tetap saja licik. Meski tak menemukan bukti hubungan Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro, tetap saja Pakubuwana ditangkap dan dibuang ke Ambon, dengan menyebarkan berita bohong, bahwa Mas Pajangswara telah memnocorkan seluruh informasi hubungan Pakubuwana VI dengan Pangeran Diponegoro.

Baca juga: Kisah Nyimas Utari, Telik Sandi Cantik dari Mataram yang Memenggal Kepala Gubernur Jenderal JP Coen

Fitnah keji Belanda terhadap Mas Pajangswara, akhirnya membuat Pakubuwana IX yang kala itu bertakhta, tak menyukai putra Mas Pajangswara, Ranggawarsita. Belanda juga turut tak menyukai Ranggawarsita. Bahkan seluruh kegiatan Ranggawarsita, selalu diawasi oleh Belanda.

Belanda melihat Ranggawarsita sebagai jurnalis berbahaya, meskipun dia bersahabat dan memiliki murid keturunan Belanda, C.F. Winter, Sr. Melalui tulisan-tulisannya, Ranggawarsita dinilai Belanda dapat membangkitkan semangat perlawanan para pribumi.

Tekanan dan kecurigaan yang kian menjadi-jadi dari Belanda melalui orang-orang suruhannya, membuat Ranggawarsita harus melepaskan jabatannya sebagai redaksi di surat kabar Bramartani, pada tahun 1870.

Dia menjadi saksi bagaimana menderitanya rakyat Jawa, usai perang Diponegoro. Belanda dengan semena-mena menerapkan program tabam paksa. Kondisi ini juga membuat hati Ranggawarsita terluka.

Dalam situasi penuh keprihatinan tersebut, Ranggawarsita meramalkan terjadinya kemerdekaan. Dalam Serat Jaka Lodang dia menyebutkan, kemerdekaan itu akan terjadi pada tahun Wiku Sapta Ngesthi Janma.

Baca juga: Kisah Gunung Semeru, Pasak untuk Pulau Jawa Dihuni Keturunan Asli Majapahit

Empat kata yang merupakan kalimat Suryasengkala tersebut, jika ditafsirkan akan ditemukan deretan angka 7, 7, 8, 1. Untuk membaca Suryasengkala, dilakukan dari belakang ke depan, menjadi 1877 Saka, yang bertepatan dengan tahun 1945 Masehi, dan menjadi tahun kemerdekaan Indonesia.

Berbagai karya sastra telah dilahirkan Ranggawarsita. Bahkan, bersama sahabat yang juga anak dirinya, C.F. Winter Sr., Ranggawarsita melahirkan Bausastra Kawi, atau Kamus Bahasa Kawi-Jawa.

Karya-karyanya antara lain Sapta Dharma, Serat Aji Pamasa, Serat Candrarini, Serat Cemporet, Serat Jaka Lodang, Serat Jayengbaya, Serat Kalatidha, Serat Panitisastra, Serat Pandji Jayeng Tilam, Serat Paramasastra, Serat Paramayoga, Serat Pawarsakan, Serat Pustaka Raja, Suluk Saloka Jiwa, Serat Wedaraga, Serat Witaradya, Sri Kresna Barata, Wirid Hidayat Jati, Wirid Ma'lumat Jati, dan Serat Sabda Jati.

Ranggawarsita yang meninggal dunia tepat sesuai ramalannya sendiri, akhirnya dimakamkan di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Makam tersebut sering dikunjungi para peziarah, termasuk Presiden Soekarno, dan Gus Dur.

Sumber: Wikipedia
(eyt)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2801 seconds (11.252#12.26)