Malu Menanggung Hasil Seks Bebas, Ibu Bunuh Anak Kandung yang Baru Dilahirkan

Selasa, 29 Maret 2022 - 21:53 WIB
loading...
Malu Menanggung Hasil Seks Bebas, Ibu Bunuh Anak Kandung yang Baru Dilahirkan
Tersangka S saat menunjukkan ke lokasi pembunuhan bayi yang baru dilahirkannya di salah satu kontrakan kawasan Penancangan, Kota Serang, Banten. Foto/iNews TV/Mahesa Apriandi
A A A
SERANG - Seorang ibu muda di Kota Serang, Banten tega membunuh bayinya yang baru dilahirkan dengan cara dibiarkan selama 24 jam tanpa perawatan medis setelah dilahirkan.

Pelaku berinisial S asal Sukabumi, Jawa Barat ini diam-diam melahirkan karena malu di kontrakannya di Kelurahan Penancangan, Kota Serang, Banten. Pelaku malu dengan bayinya tersebut karena hasil dari hubungan intim dengan banyak pria atau seks bebas.

Baca juga: Ibu Bunuh Anak Kandung di Bengkulu Mengaku Didatangi Arwah Anaknya

Tersangka S bahkan tidak mengetahui siapa ayah bayi tersebut sehingga nekat melahirkan sendiri di kontrakan dan membiarkannya meninggal dunia.

Saat lahir bayi dibiarkan begitu saja selama 24 jam sampai meninggal. Polisi menetapkan S sebagai tersangka pembunuhan bayi.

Polisi yang sudah melakukan olah tempat kejadian dan menerima hasil autopsi memastikan jika bayi saat dilahirkan masih dalam kondisi hidup selama enam jam.

Akan tetapi karena pelaku membiarkan tanpa perawatan medis, akhirnya bayi tersebut meninggal dunia. Hasil autopsi menurut dokter forensik ditemukan memar dibagian kepala dan penyumbatan pernapasan akibat cairan.

Baca juga: Ibu Bunuh Anak Kandung, Bibi Pelaku: Orangnya Sangat Sayang Anak-anaknya

Kapolres Serang Kota, AKBP Maruli Ahiles Hutapea menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui bahwa tersangka S malu untuk membawa kehamilanya ke rumah sakit. Hal itu karena S hamil di luar pernikahan.

"Sejumlah barang bukti berhasil di amankan, di antaranya gunting tidak higienis yang digunakan pelaku untuk menggunting ari-ari dan pakaian pelaku," katanya.



Akibat perbuatannya, tersangka bakal dijerat dengan Pasal 341 KUHP dengan ancaman pidana maksimal tujuh tahun penjara.
(shf)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1840 seconds (11.252#12.26)