Bermodal Besar, Kader PMII Diminta Ambil Peran di Ranah Politik-Ilmu Pengetahuan
Senin, 26 April 2021 - 10:51 WIB
loading...
Kader PMII berkumpul dalam kegiatan Buka Bersama IKA PMII Jawa Barat bertema Refleksi 61 Tahun PMII. Foto/Agung Bakti Sarasa
A
A
A
BANDUNG - Seluruh kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII ) didorong mengambil petani penting, baik dalam ranah politik maupun ilmu pengetahuan demi kemajuan bangsa Indonesia.
Dorongan tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR RI, Syaiful Huda Syaiful Huda dalam kegiatan Buka Bersama Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMII Jawa Barat dengan tema "Refleksi 61 Tahun PMII" di Grill Garden Hotel Papandayan Kota Bandung, Sabtu, 24 April 2021 malam, kemarin.
Huda menjelaskan bahwa ajaran ahlussunah waljama'ah annahdiyah yang dipegang oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan PMII menjadi modal yang paling utama, yakni nahnu ashabul haq, alhaqqul diniy wal haqqul wathoniy yang bermakna kita pemegang kebenaran, kebenaran agama, dan kebenaran bertanah air.
"Kebenaran agama yang kita yakini sejalan dengan nasionalisme yang kita yakini kebenarannya juga. Sebagaimana yang didoktrinkan khadaratus syaikh KH Hasyim Asy'ari yang menyatakan bahwa agama dan nasionalisme tidak bertentangan," tegas Huda.
"Nasionalisme adalah serbuk bagi proses penyemaian ke-Islaman yang sesungguhnya," sambungnya.
Oleh karenanya, lanjut Huda, kader NU dan PMII harus bangga karena keduanya memiliki saham yang besar dalam sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Bahkan, Huda menegaskan bahwa eksistensi dan masa depan Indonesia tergantung peran kader PMII.
Dorongan tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR RI, Syaiful Huda Syaiful Huda dalam kegiatan Buka Bersama Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMII Jawa Barat dengan tema "Refleksi 61 Tahun PMII" di Grill Garden Hotel Papandayan Kota Bandung, Sabtu, 24 April 2021 malam, kemarin.
Huda menjelaskan bahwa ajaran ahlussunah waljama'ah annahdiyah yang dipegang oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan PMII menjadi modal yang paling utama, yakni nahnu ashabul haq, alhaqqul diniy wal haqqul wathoniy yang bermakna kita pemegang kebenaran, kebenaran agama, dan kebenaran bertanah air.
"Kebenaran agama yang kita yakini sejalan dengan nasionalisme yang kita yakini kebenarannya juga. Sebagaimana yang didoktrinkan khadaratus syaikh KH Hasyim Asy'ari yang menyatakan bahwa agama dan nasionalisme tidak bertentangan," tegas Huda.
"Nasionalisme adalah serbuk bagi proses penyemaian ke-Islaman yang sesungguhnya," sambungnya.
Oleh karenanya, lanjut Huda, kader NU dan PMII harus bangga karena keduanya memiliki saham yang besar dalam sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Bahkan, Huda menegaskan bahwa eksistensi dan masa depan Indonesia tergantung peran kader PMII.
Lihat Juga :