Cerita Pagi

Catur Piwulang dan Singo Mengkok, Senjata Sunan Drajat Menebar Syiar Islam di Pesisir

loading...
Catur Piwulang dan Singo Mengkok, Senjata Sunan Drajat Menebar Syiar Islam di Pesisir
Sunan Drajat memulai syiar Islam di kawasan Pesisir Paciran Lamongan. Di sana, melalui kesenian ajaran Islam bisa diterima dengan nilai moral dan ajakan kebaikan. Foto/Ist.
"Paring teken marang kang kalunyon lan wuto"; "Paring pangan marang kang keliren"; "Paring sandang marang kang kawudan"; "Paring payung marang kang kodanan".

Baca juga: Kisah Maling Aguno, Si Pencuri Sakti Berhati Budiman yang Selalu Membikin Resah Orang-orang Kaya

Catur Piwulang ini menjadi senjata bagi Sunan Drajat untuk menebar syiar Islam. Di pesisir yang keras, anak Sunan Ampel itu mampu menyebarkan Islam melalui jalan kesenian yang disukai oleh masyarakat. Kesenian itu larut dalam deburan ombak yang terdengar sejak di pesisir Paciran, Lamongan.

Dalam Catur Piwulang itu, masyarakat begitu kental dengan ajakan kebaikan. "Berikan tongkat kepada orang yang berjalan dijalan licin dan buta"; "Berikanlah makan kepada orang yang kelaparan"; "Berikanlah busana kepada orang yang telanjang"; "Berikanlah payung kepada orang yang kehujanan".

Sunan Drajat menciptakan tembang Pangkur, ajaran baik yang selalu mendarat di kepala masyarakat. Tembang Pangkur dipadukan dengan alat musik yang digunakan berupa gamelan yang diberi nama Singo Mengkok . Alat musik ini masih disimpan di Museum Sunan Drajat.



Baca juga: Indramayu Gempar, Warga 3 Desa Mendadak Jadi Miliarder Usai Menerima Pembebasan Lahan

Sunan Drajat yang juga dikenal sebagai Raden Qasim merupakan salah satu anggota Wali Songo yang tersohor menebar syiar Islam di pesisir utara di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.

Catur Piwulang yang dibawanya ke tiap perkampungan di kawasan pesisir mengajarkan dan menekankan pada aspek pendidikan moral. Kedekatannya dengan kaum miskin menjadi bagian dalam perjalanan panjangnya untuk memberi pertolongan, makan, pakaian, serta melindungi masyarakat yang membutuhkan.

Bukunya berjudul Atlas Wali Songo (2012) yang ditulis oleh Agus Sunyoto memberikan gambaran jelas bagaimana jejak Sunan Drajat mendidik masyarakat untuk bisa saling memberikan kepedulian terhadap nasib fakir miskin, mengutamakan kesejahteraan umat, serta memiliki empati pada semua orang.

Baca juga: Misteri Macan Putih di Candi Mleri dan Silangsengkarut Anak Turunan Ken Arok



Di pesisir yang keras, Sunan Drajat mengajarkan bagaimana masyarakat memiliki etos kerja keras, kedermawanan, pengentasan kemiskinan, usaha menciptakan kemakmuran, solidaritas sosial, dan gotong-royong yang harus selalu ditanam sebagai bagian dari kehidupan.

Ada banyak hal baru bagi masyarakat yang coba dikembangkan, Sunan Drajat mengajarkan kepada mereka berbagai teknik membuat rumah dan tandu. Bekal yang melekat dan menjadi kearifan bagi masyarakat di sekitar Paciran.

Jalan kesenian yang dipilih Sunan Drajat juga mengendapkan ragam ajaran tasawuf. Ada banyak kedalaman makna dan sisi kebatinan yang beririsan dengan kehidupan sehari-hari. Bangunan ilmu itu menjadi sebuah konstruksi filosofis yang realistis dalam upaya untuk mengurangi angka kemiskinan.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top