Kisah Duel Maut Ronggolawe dengan Kebo Anabrang Berakhir Tragis di Sungai Tambak Beras
Minggu, 02 Maret 2025 - 12:14 WIB
loading...
Kisah Ronggolawe yang setia kepada Raden Wijaya berakhir tragis tewas dalam duel dengan Kebo Anabrang di Sungai Tambak Beras. Foto sosok Ronggolawe karya pelukis Tuban, Prapto Dwi Utomo. Foto/Ist
A
A
A
RONGGOLAWE dan Kebo Anabrang, dua ksatria Kerajaan Majapahit berduel sengit habis-habisan di Sungai Tambak Beras, Jombang hingga berakhir tragis keduanya meninggal dunia. Darah mengalir deras di aliran sungai menandai berakhirnya pertarungan dua orang dekat Raden Wijaya, pendiri Majapahit.
Ronggolawe merupakan sosok yang setia kepada Raden Wijaya sejak melarikan diri dari Singasari yang hancur diserang Raja Jayakatwang, Bupati Gelanggelang pada 1292.
Baca juga: Pelarian Epik Raden Wijaya: Dari Singasari ke Madura, Perahu Jadi Penyelamat!
Kisah kesetiaan Ronggolawe dimulai saat bersama ayahnya, Arya Wiraraja yang saat itu menjabat Bupati Songenep atau Sumenep membantu Raden Wijaya yang melarikan diri dari kejaran pasukan Jayakatwang.
Hingga kemudian kembali lagi ke Pulau Jawa dan bernegosiasi dengan Jayakatwang yang kala itu sudah mendirikan Kerajaan Kadiri.
Selanjutnya Raden Wijaya membuka Hutan Tarik yang menjadi awal berdirinya Kerajaan Majapahit.
Saat pasukan di bawah komando Raden Wijaya bekerja sama dengan pasukan Mongol menyerang Kerajaan Kadiri, Ronggolawe turut berada dalam pasukan tersebut.
Baca juga: Kisah Pasukan Elite Mongol Kesulitan Menembus Hutan Rawa Pulau Jawa dan Siasat Jitu Raden Wijaya
Ronggolawe membawa kuda-kuda perang terbaik dari Sumbawa kepada Raja Majapahit Raden Wijaya untuk berperang melawan Kerajaan Kadiri. Sebanyak 27 kuda dibawa menyeberangi lautan dengan ombak yang ganas.
Ronggolawe dan pasukan Majapahit menggempur benteng timur Kerajaan Kadiri. Dalam pertempuran itu, Ronggolawe berhasil membunuh Sagara Winotan yang merupakan pemimpin benteng tersebut.
Dalam Kidung Ronggolawe, setelah Kediri runtuh Raden Wijaya menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit. Atas jasa-jasanya dalam perjuangan, Ronggolawe diangkat sebagai Bupati Tuban, yang merupakan pelabuhan utama di wilayah timur Pulau Jawa.
Namun, Ronggolawe tidak puas karena merasa seharusnya mendapatkan posisi yang lebih tinggi. Ronggolawe semakin kesal setelah Nambi diangkat sebagai Rakryan Patih, jabatan paling tinggi dalam struktur pemerintahan kerajaan di bawah raja.
Posisi Rakryan Patih seharusnya diserahkan kepada Lembu Sora, yang dinilai Ronggolawe jauh lebih berjasa daripada Nambi.
Lembu Sora, yang merupakan paman Ronggolawe ternyata tidak sepakat dengan sikap keras Ronggolawe. Lembu Sora kemudian menasihati Ronggolawe agar memohon maaf kepada Raja Majapahit Raden Wijaya.
Meski sudah dinasihati, Ronggolawe enggan minta maaf kepada Raden Wijaya dan memilih pulang ke Tuban.
Di Kidung Panji Wijayakrama, dan Kidung Ronggolawe dengan jelas menceritakan bahwa pemberontakan Ronggolawe terjadi pada masa pemerintahan Raden Wijaya.
Ronggolawe merupakan sosok yang setia kepada Raden Wijaya sejak melarikan diri dari Singasari yang hancur diserang Raja Jayakatwang, Bupati Gelanggelang pada 1292.
Baca juga: Pelarian Epik Raden Wijaya: Dari Singasari ke Madura, Perahu Jadi Penyelamat!
Kisah kesetiaan Ronggolawe dimulai saat bersama ayahnya, Arya Wiraraja yang saat itu menjabat Bupati Songenep atau Sumenep membantu Raden Wijaya yang melarikan diri dari kejaran pasukan Jayakatwang.
Hingga kemudian kembali lagi ke Pulau Jawa dan bernegosiasi dengan Jayakatwang yang kala itu sudah mendirikan Kerajaan Kadiri.
Selanjutnya Raden Wijaya membuka Hutan Tarik yang menjadi awal berdirinya Kerajaan Majapahit.
Saat pasukan di bawah komando Raden Wijaya bekerja sama dengan pasukan Mongol menyerang Kerajaan Kadiri, Ronggolawe turut berada dalam pasukan tersebut.
Baca juga: Kisah Pasukan Elite Mongol Kesulitan Menembus Hutan Rawa Pulau Jawa dan Siasat Jitu Raden Wijaya
Ronggolawe membawa kuda-kuda perang terbaik dari Sumbawa kepada Raja Majapahit Raden Wijaya untuk berperang melawan Kerajaan Kadiri. Sebanyak 27 kuda dibawa menyeberangi lautan dengan ombak yang ganas.
Ronggolawe dan pasukan Majapahit menggempur benteng timur Kerajaan Kadiri. Dalam pertempuran itu, Ronggolawe berhasil membunuh Sagara Winotan yang merupakan pemimpin benteng tersebut.
Dalam Kidung Ronggolawe, setelah Kediri runtuh Raden Wijaya menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit. Atas jasa-jasanya dalam perjuangan, Ronggolawe diangkat sebagai Bupati Tuban, yang merupakan pelabuhan utama di wilayah timur Pulau Jawa.
Namun, Ronggolawe tidak puas karena merasa seharusnya mendapatkan posisi yang lebih tinggi. Ronggolawe semakin kesal setelah Nambi diangkat sebagai Rakryan Patih, jabatan paling tinggi dalam struktur pemerintahan kerajaan di bawah raja.
Posisi Rakryan Patih seharusnya diserahkan kepada Lembu Sora, yang dinilai Ronggolawe jauh lebih berjasa daripada Nambi.
Lembu Sora, yang merupakan paman Ronggolawe ternyata tidak sepakat dengan sikap keras Ronggolawe. Lembu Sora kemudian menasihati Ronggolawe agar memohon maaf kepada Raja Majapahit Raden Wijaya.
Meski sudah dinasihati, Ronggolawe enggan minta maaf kepada Raden Wijaya dan memilih pulang ke Tuban.
Di Kidung Panji Wijayakrama, dan Kidung Ronggolawe dengan jelas menceritakan bahwa pemberontakan Ronggolawe terjadi pada masa pemerintahan Raden Wijaya.
Lihat Juga :