Salah Klik Aplikasi, Warga Surabaya Banjir Tagihan
Selasa, 24 November 2020 - 00:50 WIB
loading...
Tim Yayasan Indonesia Wani Kreatif menjelaskan cara memanfaatkan aplikasi pinjaman online dalam penyuluhan jasa keuangan jumlah pengajuan pinjaman online pada masa pandemi Covid-19, di Surabaya, Senin (23/11/2020). Foto/SINDONews/Ali Masduki
A
A
A
SURABAYA - Perkembangan teknologi cukup memudahkan masyarakat, terutama dalam hal utang piutang. Mau utang atau berinvestasi cukup melalui aplikasi fintech lending yang kini jumlahnya juga terus bertambah. Namun sebelum mengambil keputusan untuk hutang atau berinvestasi harus super hati-hati. Karena tidak sedikit perusahaan fintech lending abal-abal alias menjebak.
Seperti yang dialami oleh Aminun Bahrudin. Warga Karah Surabaya ini harus merelakan nomor handphone yang sudah lama ia pegang lantaran terus menerus mendapat tagihan dari fintech abal-abal. Padahal Amin hanya sekali membuka aplikasi tersebut.
"Penawarannya dari SMS, saya klik lakok bunga besar terus gak jadi," ucapnya.(Baca juga: Bersihkan Baliho Habib Rizieq, Satpol PP Kota Malang Dikawal Brimob Bersejata Lengkap )
Berawal dari situ, Aminpun penasaran dan mencoba aplikasi lain untuk mengajukan pinjaman. Lagi-lagi bunga yang ditawarkan juga sangat besar sehingga ia tutup dan unistal. Namun, bukannya berhenti malah muncul laporan ada uang masuk tapi saat dicek rekening tidak ada. Yang ada malah muncul tagihan setiap hari melalui sms.
"Banyak masuk tagihan yang gak pernah ku pinjam. Disitu data terlanjur masuk. Akhirnya sms masuk terus. Kan risih. Akhirnya saya buang nomor hp dan ganti yang baru," katanya saat mengikuti penyuluhan jasa keuangan jumlah pengajuan pinjaman online pada masa pandemi Covid-19, di Surabaya, Senin (23/11).
Seperti yang dialami oleh Aminun Bahrudin. Warga Karah Surabaya ini harus merelakan nomor handphone yang sudah lama ia pegang lantaran terus menerus mendapat tagihan dari fintech abal-abal. Padahal Amin hanya sekali membuka aplikasi tersebut.
"Penawarannya dari SMS, saya klik lakok bunga besar terus gak jadi," ucapnya.(Baca juga: Bersihkan Baliho Habib Rizieq, Satpol PP Kota Malang Dikawal Brimob Bersejata Lengkap )
Berawal dari situ, Aminpun penasaran dan mencoba aplikasi lain untuk mengajukan pinjaman. Lagi-lagi bunga yang ditawarkan juga sangat besar sehingga ia tutup dan unistal. Namun, bukannya berhenti malah muncul laporan ada uang masuk tapi saat dicek rekening tidak ada. Yang ada malah muncul tagihan setiap hari melalui sms.
"Banyak masuk tagihan yang gak pernah ku pinjam. Disitu data terlanjur masuk. Akhirnya sms masuk terus. Kan risih. Akhirnya saya buang nomor hp dan ganti yang baru," katanya saat mengikuti penyuluhan jasa keuangan jumlah pengajuan pinjaman online pada masa pandemi Covid-19, di Surabaya, Senin (23/11).
Lihat Juga :