Kisah Keangkeran Hutan Lodoyo Blitar Jadi Kerajaan Harimau Siluman
Rabu, 06 Desember 2023 - 10:13 WIB
loading...
Selain kesohor dengan harimaunya yang besar, masyarakat meyakini Hutan Lodoyo Blitar juga berkeliaran harimau jadi-jadian alias siluman atau macan gadungan. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
Pada masa kerajaan Mataram Islam hingga kolonial Belanda, Hutan Lodoyo yang berada di wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur dikenal sebagai kerajaan harimau.
Selain kesohor dengan harimaunya yang besar-besar dan angker. Cerita tutur yang berkembang di masyarakat, di Hutan Lodoyo Blitar juga berkeliaran harimau jadi-jadian alias harimau siluman atau macan gadungan.
Baca juga: Kisah Angker Tanjakan Cae Sumedang, Sejak Dulu Warga Takut Melintas saat Magrib
Dalam buku Kisah Brang Wetan Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan (2021), munculnya cerita harimau jadi-jadian di Hutan Lodoyo Blitar berawal dari peristiwa pembuangan penggawa atau punggawa Suroloyo.
Punggawa yang dimaksud adalah Pangeran Prabu, putra Pakubuwono I (1704-1719), Raja Mataram Islam ke-7 yang dibuang ke Hutan Lodoyo lantaran ketahuan berniat merebut tahta kerajaan.
Penamaan Lodoyo sendiri merujuk adanya sejumlah pohon elo atau ara (Ficus Carica) yang berposisi doyong atau condong. Berangkat dari penyebutan elo doyong lantas berubah menjadi Lodoyo.
Di hutan Lodoyo, Pangeran Prabu tidak sendiri menjalani hukuman. Ia ditemani Putri Wandansari, istrinya dan Ki Amat Tariman, tangan kanannya. Kemudian juga berbekal pusaka gong atau bende Kiai Pradah serta wayang kesayangannya.
Baca juga: Bikin Merinding, Kisah Mobil Tersesat di Hutan Angker Usai Bertemu Perempuan Misterius
Selain kesohor dengan harimaunya yang besar-besar dan angker. Cerita tutur yang berkembang di masyarakat, di Hutan Lodoyo Blitar juga berkeliaran harimau jadi-jadian alias harimau siluman atau macan gadungan.
Baca juga: Kisah Angker Tanjakan Cae Sumedang, Sejak Dulu Warga Takut Melintas saat Magrib
Dalam buku Kisah Brang Wetan Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan (2021), munculnya cerita harimau jadi-jadian di Hutan Lodoyo Blitar berawal dari peristiwa pembuangan penggawa atau punggawa Suroloyo.
Punggawa yang dimaksud adalah Pangeran Prabu, putra Pakubuwono I (1704-1719), Raja Mataram Islam ke-7 yang dibuang ke Hutan Lodoyo lantaran ketahuan berniat merebut tahta kerajaan.
Penamaan Lodoyo sendiri merujuk adanya sejumlah pohon elo atau ara (Ficus Carica) yang berposisi doyong atau condong. Berangkat dari penyebutan elo doyong lantas berubah menjadi Lodoyo.
Di hutan Lodoyo, Pangeran Prabu tidak sendiri menjalani hukuman. Ia ditemani Putri Wandansari, istrinya dan Ki Amat Tariman, tangan kanannya. Kemudian juga berbekal pusaka gong atau bende Kiai Pradah serta wayang kesayangannya.
Baca juga: Bikin Merinding, Kisah Mobil Tersesat di Hutan Angker Usai Bertemu Perempuan Misterius
Lihat Juga :