alexametrics

Cerita Pagi

Loji Gandrung, Jamuan Makan Presiden Soekarno dan Gatotkaca Gandrung (2-Habis)

loading...
Loji Gandrung, Jamuan Makan Presiden Soekarno dan Gatotkaca Gandrung (2-Habis)
Bangunan utama Loji Gandrung di Jalan Slamet Riyadi, Laweyan, Solo tampak dari depan. Foto/SINDOnews/Ary Wahyu Wibowo
A+ A-
Nama Loji Gandrung ada yang menyebut muncul di era kemerdekaan, saat Presiden Soekarno sering datang dan menginap di Kota Solo. Bung Karno menggelar jamuan makan malam dan menghendaki adanya penampilan tari Gatotkaca Gandrung yang dimainkan oleh tokoh wayang orang Sriwedari.

Begitu seringnya penampilan tari Gatokaca Gandrung tampil saat Bung Karno menginap di Loji itu, kemudian masyarakat menyebutnya sebagai Loji Gandrung. Salah satu ruang yang dipakai tidur Bung Karno tersebut dikenal dengan sebutan Ruang Soekarno. (Baca juga: Loji Gandrung, Perjalanan Sejarah dan Simbol Kekuasaan di Solo (Bagian-1))
Loji Gandrung, Jamuan Makan Presiden Soekarno dan Gatotkaca Gandrung (2-Habis)

Versi lainnya, nama Loji Gandrung dipahami khalayak dikarenakan kegiatan kalangan elit Eropa yang diwarnai dengan pesta makan, minum dan berdansa. Sehingga menyerupai orang yang sedang “gandrung” atau adegan jatuh cinta dalam kajian seni pertunjukan tradisional Jawa. Jika diartikan secara harafiah nama Loji (rumah kolonial) Gandrung (bersenang senang). Kegemaran orang-orang Eropa khususnya dari kalangan pengusaha dan profesional swasta untuk melakukan pesta-pesta seperti ini merebak sejak awal abad ke-20.

Setelah kebijakan liberalisasi ekonomi kolonial Belanda yang memungkinkan banyak modal asing masuk dalam industri perkebunan di Indonesia. Mengingat perkembangan tersebut, kemungkinan besar Loji Gandrung baru mendapatkan sebutan, dan bahkan mungkin bentuknya yang sekarang ini pada masa awal abad ke-20. Dilihat dari sisi arsitekturnya, Loji Gandrung merupakan bangunan Indis yang memiliki nuansa Neo-klasik Eropa yang cukup megah. (Baca juga: Pilwalkot Solo, PDIP Akhirnya Pilih Anak Jokowi)
Loji Gandrung, Jamuan Makan Presiden Soekarno dan Gatotkaca Gandrung (2-Habis)

Oleh sebab itu, dapat diperkirakan pembangunan Loji Gandrung ini berlangsung di masa keemasan Keluarga Dezentje pertengahan hingga akhir abad XIX. Setelah sepeninggal Keluarga Dezentje, kemungkinan Loji Gandrung diambil alih oleh pemilik lain atau Pemerintah Kolonial Belanda atau Kasunanan Surakarta, mengingat adanya kebangkrutan dari keluarga tersebut. Pada masa berikutnya, yakni masa Kemerdekaan RI, ketika nasionalisasi bangunan kolonial, bangunan Loji Gandrung digunakan untuk kepentingan militer RI.

Peristiwa penting yang terjadi di Loji Gandrung adalah bangunan ini pernah digunakan Kolonel Gatot Subroto sebagai markas untuk menyusun strategi melawan Belanda pada Agresi Militer II (1948-1949). Kolonel Gatot Subroto merupakan gubernur militer untuk wilayah Daerah Istimewa Surakarta dan sekitarnya. Selain itu, Loji Gandrung juga pernah menjadi markas Militer Brigade V yang dipimpin Letkol Slamet Riyadi ketika terjadi Serangan Umum Solo pada 1949.
Loji Gandrung, Jamuan Makan Presiden Soekarno dan Gatotkaca Gandrung (2-Habis)

Kini Loji Gandrung digunakan sebagai rumah dinas bagi Wali Kota Solo. Loji Gandrung merupakan sebuah bangunan Indis dengan gaya neo-klasik Eropa yang masih kental. Arah hadap bangunan menghadap ke utara, ke arah Jalan Slamet Riyadi, Solo. “Selama menjadi rumah dinas orang nomor satu di Kota Solo, maka Loji Gandrung merupakan manifestasi dari simbol-simbol kekuasaan. Banyak urusan pemerintahan diselesaikan dan diputuskan di tempat itu,” sebut sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tunjung W Sutirta.



Kompleks Loji Gandrung terdiri dari beberapa bangunan, yaitu bangunan utama yang di barat dan timurnya terdapat bangunan sayap berupa paviliun, bangunan berupa pendapa berbentuk joglo di halaman belakang tengah, dan bangunan baru di samping paviliun kiri. Keseluruhan bangunan ditutup dengan atap berupa sirap kayu bentuk segi lima.
Loji Gandrung, Jamuan Makan Presiden Soekarno dan Gatotkaca Gandrung (2-Habis)

Bagian teratas terdapat ciri khas bubungan berupa menara semu berbentuk kubah dengan ornamen kaca patri bermotif lambang Kota Surakarta, di tepian atap terdapat konsol-konsol berhias sulur. Bangunan Utama Loji Gandrung memiliki fasad porch atau berupa teras kecil yang menempel pada teras utama. Bangunan ini dapat berfungsi sebagai tempat ketika orang atau tamu kehormatan turun dari kendaraannya agar dapat menuju masuk ke rumah.

Porch tersebut berbahan plester berbentuk persegi dengan atap prisma yang di ujung atapnya terdapat bubungan. Terdapat tiang-tiang semu berbentuk tuscan yang menempel pada architrave dan frieze dengan ornament lengkung dan garis. Setelah itu naik melalui beberapa anak tangga langsung menuju teras depan. Teras ini berbentuk persegi panjang.



Tiang-tiang berbentuk corinthia terlihat mengelilingi tepi teras dengan lengkung-lengkung pada architrave dan frieze dan ornamen sulur-suluran. Lantai teras berupa tegel granit, kemungkinan bukan asli lagi. Langit-langitnya merupakan seng motif kotak yang di cat putih dan terdapat beberapa lampu neon berhias kaca.

Dindingnya terbuat dari plester yang setengahnya ditutup keramik motif warna hijau, dan dihiasi lampu-lampu dinding. Tangga di kanan teras sudah diganti menjadi tangga difabel yang terbuat dari besi dan seng. Terdapat beberapa buah pintu kupu-kupu kayu besar berbentuk lengkung yang dihiasi dengan ornamen kaca patri yang menghubungkan antara teras dengan ruangan-ruangan berikutnya. Di teras disediakan beberapa kursi sedan dan meja yang difungsikan sebagai tempat penerimaan tamu.
halaman ke-1 dari 3
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak