alexametrics

Cerita Pagi

Loji Gandrung, Perjalanan Sejarah dan Simbol Kekuasaan di Solo (Bagian-1)

loading...
Loji Gandrung, Perjalanan Sejarah dan Simbol Kekuasaan di Solo (Bagian-1)
Patung Jenderal Gatot Subroto di depan rumah dinas Wali Kota Solo yang dikenal dengan nama Loji Gandrung. Foto/SINDOnews/Ary Wahyu Wibowo
A+ A-
Rumah Dinas Wali Kota Solo yang dikenal dengan nama Loji Gandrung menjadi salah satu perhatian publik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Solo pada 9 Desember 2020 mendatang. Pemimpin baru Kota Solo bakal hadir dan menempati Loji Gandrung setelah perhelatan Pilkada tuntas dilaksanakan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat masih menjadi Wali Kota Solo selama 2 periode (2005-2010 dan 2010-2012) pernah berkantor dan tinggal di Loji Gandrung. Dilanjutkan Wali Kota Solo berikutnya FX Hadi Rudyatmo (2012-2015 dan 2015-2020). Putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka yang mencalonkan diri menjadi Wali Kota Solo (2020-2025) juga bakal berkantor dan tinggal di Loji Gandrung jika menang di Pilkada Kota Solo 2020. (Baca juga: Pilwalkot Solo, PDIP Akhirnya Pilih Anak Jokowi)
Loji Gandrung, Perjalanan Sejarah dan Simbol Kekuasaan di Solo (Bagian-1)

Menurut buku Keraton dan Kumpeni, Pemerintah Belanda pada tahun 1830 membangun rumah dinas dan taman di Kleco. Pada tahun 1872, Pemerintah Belanda mendirikan Loji di Sala (Solo). Bangunan (Loji Gandrung) dibangun oleh pedagang Belanda yang kaya. Setelah itu, dibeli oleh Residen dan kemudian diberi nama Loji Gandrung.

Tentang arsitektur dari buku profil arsitektur Belanda tahun 1920-an, Loji Gandrung tidak disebut. Tapi bentuk dan ragam hasil karya gedung yang lain, bisa membantu melacak sejarahnya. Kemungkinan jika bukan Thomas Karsten, arsitekturnya sama dengan gedung Bank Indonesia, yakni Biro Ed Cuypres and Hulswit. (Baca juga: PDIP Pilih Gibran, Achmad Purnomo Babat Kumis dan Jenggotnya)

Loji Gandrung dari depan, nampak patung Jenderal Gatot Subroto. Sebagai peringatan akan peristiwa saat Jenderal Gatot Subroto menumpas pemberontakan PKI/Muso dari Loji pada 18 September 1948. Fungsi Loji Gandrung sampai saat ini masih utuh. Pada zaman kolonial, Loji ini digunakan sebagai tempat kediaman pejabat Pemerintah Belanda.
Loji Gandrung, Perjalanan Sejarah dan Simbol Kekuasaan di Solo (Bagian-1)

Dan pada masa sekarang digunakan sebagai tempat kediaman Wali Kota Solo. Peralihan itu sejak kemerdekaan RI. Loji Gandrung terdiri dari empat bangunan. “Bagian utama digunakan untuk ruang kerja Wali Kota, ruang rapat, dan ruang untuk menerima tamu,” ungkap Sriyani, petugas rumah tangga Loji Gandrung. Pada bangunan utama juga terdapat kamar yang dulunya pernah dipakai Presiden Sukarno. (Baca juga: Rekomendasi PDIP untuk Gibran, Rudy: Kalau Kecewa, Ya Kecewa)



Sedangkan di bagian sayap sisi barat, terdapat bangunan yang kini dipergunakan untuk ruang ajudan Wali Kota, dan pegawai rumah tangga. Sedangkan bangunan di sayap sisi timur, merupakan kamar yang dipakai untuk keluarga wali kota. Sementara, di bagian belakang terdapat bangunan Joglo Loji Gandrung. Tempat ini biasa digunakan untuk acara acara kedinasan wali kota.

Sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tunjung W Sutirta mengatakan, bangunan Loji Gandrung pada awalnya merupakan rumah tinggal milik Johannes Augustinus Dezentje (1797-1839). Ayahnya, August Jan Caspar adalah pejabat militer Kolonial Belanda. “Oleh sebab itu, keluarga Dezentje memiliki hubungan baik dengan pihak Kolonial Belanda maupun dari pihak Keraton Kasunanan Surakarta,” ungkap Tunjung.
Loji Gandrung, Perjalanan Sejarah dan Simbol Kekuasaan di Solo (Bagian-1)

Pada tahun 1815, Dezentje menikah dengan Johanna Dorothea Boode yang kemudian meninggal pada 1816 setelah kelahiran anak pertamanya. Karena hubungan yang dekat dengan Kasunanan Surakarta, Dezentje kemudian menikah dengan salah seorang saudara perempuan Sunan Pakubuwana (PB) IV pada 1819 yang bernama Raden Ayu Cokrokusumo.



Pada saat itulah Dezentje dapat menyewa tanah di Ampel seluas 82 Ha dan mencakup 18 desa. Hingga tahun 1820, pendapatan yang diperoleh dari hasil perkebunannya dapat mencapai 5.000 Gulden per tahun. Berdasarkan catatan dari SA Buddingh ketika berkunjung di kediaman Dezentje di Ampel, ia memiliki sebuah landhuis yang bergaya rumah dalem tradisional Jawa, dengan pekarangan dan taman dilengkapi dengan hiburan gamelan.

Wilayahnya dikelilingi benteng dengan bastion, pasukan, dan persenjataan yang lengkap. Selain itu, Dezentje memiliki rumah di daerah asalnya di Surakarta atau Solo. “Rumah inilah yang kini dikenal dengan Loji Gandrung,” bebernya. Nama Loji Gandrung dipahami khalayak dikarenakan kegiatan sosialisasi kalangan elit Eropa yang diwarnai dengan pesta makan, minum dan berdansa.
(shf)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak