alexametrics

Cerita Pagi

Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam

loading...
Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam
Tampak depan dan dalam Gua Napalicin yang legendaris. Foto/Ist
A+ A-
MURATARA - Gua Napalicin sesuai namanya terletak di Desa Napalicin, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).

Kabupaten paling barat di Sumsel ini berbatasan dengan Kecamatan Singkut, sebuah kecamatan di Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi.

Untuk menuju gua legendaris di Sumsel ini, harus melalui Kota Lubuklinggau dahulu jika Kota dari Palembang maupun dari Bengkulu. Tentu melalui Kabupaten Sarolangun jika dari Jambi atau Padang dengan melintasi jalinsum.



Berjarak sekitar 350 km dari Kota Palembang. Namun, jika hanya dari Lubuklinggau cukup hanya dengan perjalanan sekitar dua hingga tiga jam.

Ketika mengunjungi kawasan Gua Napalicin, pengunjung akan disuguhi nuansa bebatuan alami. Gua ini memiliki pintu masuk seluas belasan meter.

Setelah melewati pintu masuk gua, terlihat stalagtit dalam gua yang terbentuk secara alami dalam waktu ratusan tahun atau lebih.

Tentu sudah dapat dibayangkan terutama bagi pecinta alam atau penyuka petualangan, Gua Napalicin menarik untuk dikunjungi.

Apalagi di sekitarnya ada Air Terjun Batu Ampar dan Sungai Rawas yang berarus deras cocok untuk arung jeram.

Banyak cerita menarik terkait Gua di gugusan Bukit Barisan ini. Diantaranya, konon di salah satu museum Belanda terdapat foto beberapa anak orang Belanda yang bermain di sekitar Gua Napalicin.

Karenanya ada yang menyebut, Belanda yang pada zaman itu menetap di Desa Surulangun, yang sekarang menjadi Kecamatan Rawas Ulu biasa berwisata di sekitar Gua Napalicin, saat itu.

Kemudian legenda lainnya adalah cerita rakyat yang sudah sangat melekat bagi warga sekitar dan Sumsel pada umumnya.

Adalah legenda Si Pahit Lidah, seorang pria pengembara yang sakti mandraguna, dimana ucapannya yang dipercaya konon menjadi sumpah.

Di Sumsel, sangat dikenal legenda Si Pahit Lidah tokoh sakti dari masa lalu. Khusus kesaktian Si Pahit Lidah, yakni dia mampu menyumpah apa pun menjadi batu, termasuk manusia.

Termasuk Gua Napalicin yang terdiri dari tujuh tingkatan menyerupai kapal. Menurut legenda masyarakat dan dirangkum dari berbagai sumber, Gua Napalicin terbentuk dari kapal yang terdampar.

Menurut legenda itu, Si Pahit Lidah sedang melintas di kawasan tersebut melihat sebuah kapal besar yang terdampar.

Karena penasaran, Si Pahit Lidah berusaha memanjat ke atas kapal tersebut. Namun, karena ukuran kapal yang besar, Si Pahit Lidah tidak berhasil memanjatnya.

Karena kesal Si Pahit Lidah lalu pergi, sambil bergumam susah sekali memanjat kapal itu seperti batu besar. Lalu kapal tersebut menjadi batu besar dan terbentuklah gua.

Terlepas dengan keberadaan foto anak orang Belanda dan legenda Si Pahit Lidah, Gua Napalicin memang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata alam yang menarik bagi Kabupaten Muratara. Sekitarnya tersaji suasana desa yang masih asri dan suasana alam yang masih alami.

Terdapat perbukitan, sejumlah bukit batu dan Sungai Rawas dengan bebatuan atau napal di tengahnya yang cocok untuk arung jeram.

Pada saat daerah ini masih menjadi wilayah Kabupaten Musi Rawas, pernah dibangun tempat peristirahatan “Rawas River Lodge” di Desa Surulangun.

Lokasinya tepat di bibir Sungai Rawas. Karena memang sebelum Krismon melanda pada 1998, kunjungan wisata termasuk mancanegara di Gua Napalicin sangat banyak.

Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam


Gua Napalicin sendiri berada pada ketinggian sekitar 20 meter dari jalan, sehingga harus sedikit menanjak untuk mencapai pintu masuk Gua Napalicin.

Setelah memasuki gua itu terdapat lorong sepanjang sekitar 1,5 kilometer yang menghubungkan beberapa bukit. Memang lorongnya tidak luas, sehingga harus menunduk agar bisa melewati lorong tersebut.

Setelah memasuki lorong-lorong gua, terdapat tetesan air dari langit gua diselingi kelelawar dan burung walet akan beterbangan. Berbagai bentuk stalagnit dan stalagtit bisa terlihat di dalam gua.

Butuh waktu lebih dari empat jam untuk menikmati seluruh pemandangan di berbagai sudut gua. Pada beberapa bagian, cahaya matahari menembus gua melalui bukit batu akan menimbulkan cahaya yang begitu artistik.
(boy)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak