Hari Bumi Dunia, Salim Segaf Ajak Negara ASEAN Tekan Emisi Gas Karbon
Jum'at, 22 April 2022 - 14:44 WIB
loading...
Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf Al Jufri saat mengikuti kegiatan tanam pohon. Foto: Istimewa
A
A
A
MAKASSAR - Peran negara-negara yang tergabung dalam ASEAN sangat penting dalam merespons isu-isu global yang bisa mengancam masa depan kehidupan manusia, seperti konflik Timur Tengah, perlombaan senjata, kelaparan, dan perubahan iklim. Tahun lalu para pemimpin dunia, termasuk Indonesia menghadiri Konferensi COP26 yang membahas target pengurangan emisi karbon secara global.
Dalam memperingati Hari Bumi 22 April, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meminta dengan tegas agar pemerintah Indonesia lebih serius dalam mengurangi efek rumah kaca untuk mencegah pemanasan global yang saat ini sudah di titik rawan.
Baca Juga: Teliti Bumi, Ilmuwan Besar Astrofisika Temukan Peta Dunia Baru
Menurut Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf Al Jufri, perubahan iklim tidak hanya menyebabkan banjir dan naiknya permukaan laut namun juga gelombang panas yang ekstrem. Dibutuhkan kerjasama global, regional serta bilateral antar negara untuk menekan pemanasan global yang sudah hampir kritis ini.
“Kita lihat salah satu contohnya, ada insiden gelombang panas beberapa bulan yang lalu di Amerika Barat dan dianggap oleh badan dunia sebagai sebuah norma baru. Ini tentu harus kita waspadai karena lama kelamaan bisa mendekati Asia dan bahkan negara kita,” imbuhnya.
Dalam memperingati Hari Bumi 22 April, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meminta dengan tegas agar pemerintah Indonesia lebih serius dalam mengurangi efek rumah kaca untuk mencegah pemanasan global yang saat ini sudah di titik rawan.
Baca Juga: Teliti Bumi, Ilmuwan Besar Astrofisika Temukan Peta Dunia Baru
Menurut Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf Al Jufri, perubahan iklim tidak hanya menyebabkan banjir dan naiknya permukaan laut namun juga gelombang panas yang ekstrem. Dibutuhkan kerjasama global, regional serta bilateral antar negara untuk menekan pemanasan global yang sudah hampir kritis ini.
“Kita lihat salah satu contohnya, ada insiden gelombang panas beberapa bulan yang lalu di Amerika Barat dan dianggap oleh badan dunia sebagai sebuah norma baru. Ini tentu harus kita waspadai karena lama kelamaan bisa mendekati Asia dan bahkan negara kita,” imbuhnya.
Lihat Juga :