Serangan Kera Ekor Panjang Menggila di Wilayah Gunungkidul
Senin, 11 April 2022 - 08:28 WIB
loading...
A
A
A
Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul mengakui serangan kera ekor panjang tersebut. Bahkan mereka mencatat hampir separuh wilayah terdampak invasi kera ekor panjang. Upaya penanganan pun menemui kesulitan karena terbentur aturan. Baca: Truk Rem Blong Seruduk Pemotor di Bali, 2 Tewas.
Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), DPP Gunungkidul, Jayadi mengungkapkan ada 9 dari 18 kapanewon yang lahan pertaniannya terdampak. Sebagian besar habitat primata ini berada sisi selatan, mulai dari Purwosari, Panggang, Saptosari, Tanjungsari, Tepus, dan Girisubo. Lainnya adalah Paliyan, Semin, dan Ponjong.
"Kebetulan habitat kera ekor panjang berada di 9 kapanewon ini. Tetapi kemunginan bertambah lagi," jelasnya dihubungi pada Minggu (10/04/2022).
Baca Juga: Memilukan, Jelang Lebaran 14 Rumah Warga Bone Rata dengan Tanah Dilalap Kobaran Api.
upaya penanganan kera ekor panjang sulit lantaran hewan ini berstatus dilindungi selama berada di habitatnya. Sedangkan populasinya terus mengalami peningkatan, sehingga tak sebanding dengan upaya pengurangan.
"Paling masuk akal sebenarnya pengurangan populasi, namun dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) tidak merekomendasikan itu," ungkap Jayadi.
Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), DPP Gunungkidul, Jayadi mengungkapkan ada 9 dari 18 kapanewon yang lahan pertaniannya terdampak. Sebagian besar habitat primata ini berada sisi selatan, mulai dari Purwosari, Panggang, Saptosari, Tanjungsari, Tepus, dan Girisubo. Lainnya adalah Paliyan, Semin, dan Ponjong.
"Kebetulan habitat kera ekor panjang berada di 9 kapanewon ini. Tetapi kemunginan bertambah lagi," jelasnya dihubungi pada Minggu (10/04/2022).
Baca Juga: Memilukan, Jelang Lebaran 14 Rumah Warga Bone Rata dengan Tanah Dilalap Kobaran Api.
upaya penanganan kera ekor panjang sulit lantaran hewan ini berstatus dilindungi selama berada di habitatnya. Sedangkan populasinya terus mengalami peningkatan, sehingga tak sebanding dengan upaya pengurangan.
"Paling masuk akal sebenarnya pengurangan populasi, namun dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) tidak merekomendasikan itu," ungkap Jayadi.
(nag)
Lihat Juga :