Kehebatan Kopassus Tumpas Mbah Suro Antek PKI Dukun Kebal Senjata
Rabu, 30 Maret 2022 - 05:05 WIB
loading...
Kehebatan Kopassus Tumpas Mbah Suro Antek PKI Dukun Kebal Senjata/ist
A
A
A
Kisah Mbah Suro dukun sakti kebal senjata yang menjadi antek Partai Komunis Indonesia atau PKI hancur setelah ditumpas oleh satu Kompi Kopassus . Beginilah kisah Mulyono Surodiharjo yang dikenal sebagai Mbah Suro dengan kesaktiannya kebal senjata.
Mbah Suro dikenal sebagai dukun atau paranormal yang ditakuti di kalangan anggota PKI di Desa Nginggil, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Dari buku Ramelan, Mbah Sura Nginggil-Kisah Hancurnya Petualangan Dukun Klenik Mbah Sura, Matoa, Djakarta, 1967, Mbah Suro Nginggil konon lahir 17 Maret 1921.
Baca juga: Setelah Tembaki Marinir, KKB Egianus Kogoya Teror Bandara Kenyam Nduga Papua
Mbah Suro pernah menjabat sebagai kepala desa atau lurah Nginggil pada 1952 hingga memilih mundur pada 1962. Dia kemudian mendirikan padepokan atau pertapaan yang mengajarkan klenik pada Januari 1966. Bulan demi bulan, semakin banyak orang yang mendatangi padepokannya untuk berobat supranatural dan ''ngelmu'' klenik.
Kondisi ekonomi masyarakat yang dilanda kesusahan kala itu dimanfaatkan oleh sisa-sisa PKI melalui padepokan Mbah Suro Nginggil untuk menyebarkan propaganda antipancasila. Pada tahun 1948-1949, Mbah Suro menjadi salah satu orang anggota Brigade ''Jadau'' dengan pangkat Sersan. Sesudah pecah G30S/ PKI, para pelarian PKI yang mencari tempat aman menemukan desa Nginggil sebagai tempat persembunyiannya dan menemukan Mbah Suro, yang mengaku sebagai pandita.
Antek-antek PKI melalui pengaruh kekeramatan Mbah Suro Nginggil gencar melancarkan propaganda kepada masyarakat. Mereka menyamar sebagai pengunjung dibantu cantrik-cantrik yang sebenarnya adalah pengendalinya. Di antaranya Bambang Sumarjo (PKI), Keman (SOBSI) dan Jusuf (tokoh Bakoksi Cepu).
Mbah Suro dikenal sebagai dukun atau paranormal yang ditakuti di kalangan anggota PKI di Desa Nginggil, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Dari buku Ramelan, Mbah Sura Nginggil-Kisah Hancurnya Petualangan Dukun Klenik Mbah Sura, Matoa, Djakarta, 1967, Mbah Suro Nginggil konon lahir 17 Maret 1921.
Baca juga: Setelah Tembaki Marinir, KKB Egianus Kogoya Teror Bandara Kenyam Nduga Papua
Mbah Suro pernah menjabat sebagai kepala desa atau lurah Nginggil pada 1952 hingga memilih mundur pada 1962. Dia kemudian mendirikan padepokan atau pertapaan yang mengajarkan klenik pada Januari 1966. Bulan demi bulan, semakin banyak orang yang mendatangi padepokannya untuk berobat supranatural dan ''ngelmu'' klenik.
Kondisi ekonomi masyarakat yang dilanda kesusahan kala itu dimanfaatkan oleh sisa-sisa PKI melalui padepokan Mbah Suro Nginggil untuk menyebarkan propaganda antipancasila. Pada tahun 1948-1949, Mbah Suro menjadi salah satu orang anggota Brigade ''Jadau'' dengan pangkat Sersan. Sesudah pecah G30S/ PKI, para pelarian PKI yang mencari tempat aman menemukan desa Nginggil sebagai tempat persembunyiannya dan menemukan Mbah Suro, yang mengaku sebagai pandita.
Antek-antek PKI melalui pengaruh kekeramatan Mbah Suro Nginggil gencar melancarkan propaganda kepada masyarakat. Mereka menyamar sebagai pengunjung dibantu cantrik-cantrik yang sebenarnya adalah pengendalinya. Di antaranya Bambang Sumarjo (PKI), Keman (SOBSI) dan Jusuf (tokoh Bakoksi Cepu).
Lihat Juga :